Jutaan warga Iran berduka atas kemartiran Ali Khamenei.
Mereka menuntut balas dendam hingga meneriakkan "matilah Amerika".
Namun di satu sisi, Donald Trump mempertanyakan ketulusan emosi pelayat hingga menyebut itu air mata palsu.
Mengutip Tribunnews pada (6/7), ejekan Trump itu diutarakannya dalam sebuah wawancara dengan "Axios".
Perlu diketahui dari awal, suasana di pemakaman Ali Khamenei di Teheran dipenuhi loyalitas militan dari jutaan pelayat.
Mereka datang dengan membawa bendera merah dan bersumpah akan menuntut balas atas serangan udara yang menewaskan pemimpin mereka tersebut.
Di bawah komando pemimpin baru, Mojtaba Khamenei, warga akui bersiap melakukan pembalasan.
Sementara prosesi berkabung nasional ditetapkan hingga Senin depan sebelum jenazah dimakamkan di Mashhad pada hari Kamis.
Namun di tengah situasi tersebut, pernyataan Donald Trump memicu provokasi.
Lantaran, dia menyebut para pejabat tinggi Iran yang berkumpul di pemakaman bisa menjadi sasaran empuk yang bisa dihabisi dalam sekali tembak.
Meskipun, ia mengklaim tidak akan melakukannya demi kelanjutan negosiasi.
Pernyataan keras dari kedua belah pihak ini semakin memanaskan ketegangan geopolitik.
Menunjukkan bahwa konflik masih jauh dari mereda, sekalipun sempat ada kesepakatan jeda selama sepekan untuk rangkaian pemakaman.
Adapun, upacara pemakaman Ayatollah Ali Khamenei di Teheran akan berlangsung dari (4/7) hingga (9/7).
Di tengah rasa duka mendalam pelayat, menggema seruan "matilah Amerika" dan "matilah Israel".
Namun, sebaliknya, seruan yang dipenuhi seruan anti-Amerika itu justru membuat Donald Trump melontarkan komentar yang kembali kontroversial.
Dia mempertanyakan ketulusan emosi tersebut dengan menyatakan bahwa air mata tersebut palsu.
"Mungkin air mata palsu," kata Trump dalam wawancara dengan Axios.
Di satu sisi, para pejabat Iran berulang kali memperingatkan AS dan Israel agar tidak melakukan tindakan militer atau "kesalahan perhitungan" selama periode pemakaman Ayatollah Ali Khamenei.
Peringatan keras ini satu di antaranya dipicu oleh pernyataan Menteri Pertahanan Israel yang dilaporkan menargetkan pembunuhan terhadap pemimpin tertinggi Iran yang baru, Mojtaba Khamenei.
Sekali lagi merespons situasi tersebut, pihak berwenang Iran langsung memperketat keamanan.
Sekaligus memberlakukan pembatasan wilayah udara sementara di beberapa kota strategis seperti Teheran dan Mashhad.
Sehingga mengingat ketegangan yang semakin memanas karena para penasihat pemerintah dan jutaan pelayat secara terbuka menyerukan janji balas dendam atas kematian pemimpin mereka.
Berkumandang lah slogan-slogan yang menuntut kematian bagi Donald Trump dan Benjamin Netanyahu.
Sebatas informasi akhir, upacara pemakaman Ayatollah Ali Khamenei di Iran dihadiri oleh perwakilan dari lebih dari 70 negara serta jutaan pelayat.
Bagi Teheran, berkumpulnya jajaran penguasa dan delegasi internasional di tengah ketegangan dengan AS-Israel ini menjadi momentum untuk menunjukkan persatuan dan kekuatan.
Setelah rangkaian prosesi berakhir, kemudian akan diikuti dengan rencana kelanjutan pembicaraan diplomatik antara AS dan Iran.