Pakar ITS Sebut Keselamatan Proyek Drainase Jadi Tanggung Jawab Bersama, Warga Diminta Waspada
Alga W July 06, 2026 11:14 AM

Laporan Wartawan TribunJatim.com, Bobby Koloway

TRIBUNJATIM.COM, SURABAYA - Pembangunan saluran drainase yang dikebut Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya menjadi langkah penting untuk mengurangi genangan dan banjir di berbagai kawasan.

Namun, di balik manfaat jangka panjang tersebut, seluruh pihak diingatkan agar tidak mengabaikan aspek keselamatan selama proyek berlangsung.

Baca juga: Cegah Genangan, Satgas di Surabaya Bersiaga selama Proyek Drainase Berjalan

Pasalnya, sepanjang Juni 2026 lalu, sempat terjadi sejumlah insiden yang berkaitan dengan proyek saluran.

Mulai dari kecelakaan warga yang terperosok ke galian, genangan akibat saluran yang tertutup material proyek, hingga kemacetan di sekitar lokasi pekerjaan.

Sekretaris Departemen Teknik Sistem dan Industri Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Ratna Sari Dewi menilai, persoalan tersebut bukan disebabkan oleh pembangunan proyek itu sendiri.

Menurutnya, pembangunan infrastruktur tetap menjadi kebutuhan untuk mendukung pelayanan publik dan mengatasi persoalan banjir di kota.

"Kalau saya melihatnya, yang menjadi persoalan bukan karena proyeknya, karena pada dasarnya pembangunan infrastruktur memang diperlukan untuk mendukung tersedianya berbagai fasilitas publik. Namun yang perlu menjadi perhatian adalah bagaimana risiko selama proyek itu dikelola," ujarnya.

Menurut Ratna, setiap proyek yang berada di ruang publik pasti memiliki risiko, mulai dari kecelakaan, kemacetan, hingga terganggunya aliran air.

Oleh karena itu, seluruh potensi tersebut harus dipetakan sejak awal dan dimitigasi selama pekerjaan berlangsung.

Ia mencontohkan, area galian harus dilengkapi pembatas yang jelas, penerangan memadai pada malam hari, serta informasi jalur alternatif yang mudah dipahami masyarakat.

"Dari sisi keilmuan ergonomi dan K3 (Keselamatan dan Kesehatan Kerja), kita percaya bahwa keselamatan tidak boleh hanya bergantung pada kewaspadaan masyarakat," katanya.

Ia menambahkan, lingkungan tempat masyarakat beraktivitas juga harus dirancang agar secara alami membantu orang tetap aman.

Ratna mengapresiasi langkah Pemkot Surabaya yang melakukan evaluasi dan memperkuat pengamanan proyek setelah terjadi insiden.

"Menurut saya itu langkah yang baik, karena setiap insiden harus menjadi pembelajaran untuk memperbaiki sistem, bukan hanya menyelesaikan proyeknya," imbuhnya.

Ia menjelaskan, keberhasilan proyek tidak hanya bergantung pada pemerintah maupun kontraktor, tetapi juga membutuhkan partisipasi masyarakat.

Menurutnya, pemerintah harus memastikan setiap proyek memiliki analisis risiko yang matang, bukan hanya dari sisi konstruksi, tetapi juga dampaknya terhadap lalu lintas, drainase, dan keselamatan pengguna jalan.

Sementara itu, kontraktor wajib konsisten menerapkan standar keselamatan di lapangan.

Pemasangan rambu, pagar pembatas, lampu peringatan, hingga keberadaan petugas harus benar-benar memperhatikan kondisi pengguna jalan.

"Kadang kita merasa rambu sudah dipasang, tetapi pertanyaannya apakah benar-benar mudah dilihat oleh pengendara? Apakah cukup jelas saat malam hari atau ketika hujan deras? Ini yang dalam ergonomi disebut sebagai human centered design," jelas perempuan yang telah menyelesaikan program doktoralnya di National Taiwan University of Science and Technology (NTUST) ini. 

Baca juga: Proyek Saluran Besar Drainase Dimulai, Pemkot Surabaya Target Hilangkan 120 Titik Genangan di 2026

Di sisi lain, masyarakat juga memiliki peran penting dalam menjaga keselamatan selama proyek berlangsung.

Warga diminta mematuhi rambu, mengurangi kecepatan saat melintasi lokasi pekerjaan, serta melaporkan apabila menemukan kondisi yang berpotensi membahayakan.

"Jadi keselamatan itu sebenarnya merupakan tanggung jawab bersama," tegasnya.

Ratna juga mengingatkan masyarakat agar tidak memaksakan diri menerobos jalan yang sudah ditutup hanya demi menghemat waktu.

Menurutnya, tindakan tersebut justru dapat membahayakan diri sendiri maupun pengguna jalan lainnya.

Apabila menemukan pagar proyek rusak, lampu peringatan padam, atau genangan yang menutupi area galian, masyarakat diminta segera melaporkannya melalui kanal resmi pemerintah agar segera ditindaklanjuti.

Ia mengakui, proyek infrastruktur memang sering menimbulkan ketidaknyamanan sementara.

Namun, selama risiko dikelola dengan baik, manfaatnya akan jauh lebih besar bagi masyarakat.

"Saya tentu tidak bisa memberikan penilaian terhadap seluruh proyek karena belum melakukan audit K3 secara langsung. Tetapi jika sampai terjadi kecelakaan yang melibatkan masyarakat, itu menjadi sinyal bahwa ada aspek keselamatan yang perlu dievaluasi lebih lanjut," kata pakar Human Factors/Ergonomics ITS ini.

Bukan mencari pihak yang bersalah

Menurut alumni Institut Teknologi Bandung ini, dalam manajemen keselamatan, setiap insiden harus dipandang sebagai kesempatan memperbaiki sistem, bukan sekadar mencari pihak yang bersalah. 

"Fokusnya melihat bagian mana yang perlu diperkuat, apakah pengamanan lokasi, komunikasi kepada masyarakat, pengawasan, atau prosedur pelaksanaannya. Saya mengapresiasi apabila setelah kejadian dilakukan evaluasi dan perbaikan. Justru budaya keselamatan yang baik adalah budaya yang mau belajar dari setiap insiden. Semoga pemerintah dan masyarakat Surabaya bisa mengarah ke budaya keselamatan yang lebih baik," ujarnya.

Ratna juga mengajak masyarakat tetap mendukung pembangunan saluran yang sedang dilakukan Pemkot Surabaya sebagai upaya mengurangi risiko banjir dan genangan di masa mendatang.

Menurutnya, pembangunan dan keselamatan bukanlah dua hal yang saling bertentangan.

Ia menyarankan masyarakat mengurangi kecepatan saat melintasi area proyek, terutama pada malam hari atau ketika hujan, mengikuti arahan petugas, tidak menerobos pembatas proyek, memanfaatkan jalur alternatif bila memungkinkan, serta segera melaporkan potensi bahaya yang ditemukan.

"Dalam manajemen keselamatan, setiap insiden seharusnya dipandang sebagai kesempatan untuk memperbaiki sistem. Jadi fokusnya bukan mencari siapa yang salah, tetapi melihat bagian mana yang perlu diperkuat, apakah pengamanan lokasi, komunikasi kepada masyarakat, pengawasan, atau prosedur pelaksanaannya."

"Saya mengapresiasi apabila setelah kejadian dilakukan evaluasi dan perbaikan. Justru budaya keselamatan yang baik adalah budaya yang mau belajar dari setiap insiden. Semoga pemerintah dan Masyarakat Surabaya bisa mengarah ke Budaya Keselamatan yang lebih baik," ujarnya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.