TRIBUNNEWS.COM - Ketidakhadiran Mojtaba Khamenei dalam hari kedua pemakaman ayahnya, Ali Khamenei, menjadi perhatian di tengah prosesi berkabung nasional yang dihadiri jutaan warga Iran dan para pejabat tinggi negara.
Absennya pemimpin tertinggi baru Iran itu memicu sorotan karena ia belum pernah tampil di hadapan publik sejak ditunjuk menggantikan ayahnya pada Maret lalu.
Momen tersebut juga berlangsung ketika Iran masih menjalani transisi kepemimpinan di tengah ketegangan yang belum sepenuhnya mereda dengan Amerika Serikat (AS) dan Israel.
Sementara Mojtaba tidak terlihat dalam prosesi, tiga putra Ali Khamenei lainnya, yakni Mostafa, Meysam, dan Masoud Khamenei, hadir dan memimpin doa di belakang peti jenazah sang ayah di kompleks Grand Mosalla Imam Khomeini, Teheran.
Jenazah Ali Khamenei disemayamkan bersama sejumlah anggota keluarganya yang turut tewas dalam serangan udara pada 28 Februari, termasuk putrinya, menantu laki-laki, menantu perempuan, serta cucu perempuannya yang masih berusia 14 bulan.
Hingga kini belum ada penjelasan resmi mengenai alasan Mojtaba Khamenei tidak menghadiri upacara tersebut.
Namun, sejumlah analis menilai keputusannya kemungkinan berkaitan dengan pertimbangan keamanan.
Baca juga: Iran Akan Tutup Wilayah Udara Teheran untuk Upacara Pemakaman Ali Khamenei
BBC melaporkan, upacara pemakaman diselenggarakan dengan pengamanan sangat ketat di tengah kekhawatiran bahwa Israel masih dapat menjadikan Mojtaba sebagai target setelah ia mengambil alih posisi tertinggi di Iran.
Spekulasi mengenai kondisinya juga terus berkembang. Rumor yang beredar menyebut Mojtaba kemungkinan terluka dalam serangan udara yang sama yang menewaskan ayahnya, tetapi hingga kini belum ada konfirmasi resmi dari pemerintah Iran.
Kematian Ali Khamenei sendiri mengakhiri lebih dari tiga dekade kepemimpinannya atas Republik Islam Iran sejak 1989.
Karena itu, setiap kemunculan maupun ketidakhadiran Mojtaba kini menjadi perhatian, mengingat ia memegang posisi tertinggi dalam struktur politik dan keagamaan Iran.
Prosesi pemakaman berubah menjadi salah satu mobilisasi massa terbesar dalam sejarah modern Iran.
Ribuan pelayat memadati kompleks Grand Mosalla Imam Khomeini sambil membawa bendera nasional Iran dan bendera merah yang dalam tradisi Syiah melambangkan seruan untuk membalas darah yang tertumpah.
Menurut laporan Al Jazeera dari Teheran, teriakan "Matilah Amerika" dan "Matilah Israel" terus bergema di tengah kerumunan.
Sebagian pelayat menyatakan kematian Ali Khamenei harus dibalas sebagai bagian dari perjuangan melawan musuh-musuh Iran.
Pemerintah Iran juga menggelar prosesi berkabung nasional selama sepekan sebagai bentuk penghormatan terakhir kepada pemimpin yang memimpin negara itu selama 36 tahun.
Otoritas Metro Teheran mencatat sekitar tujuh juta perjalanan penumpang dari Sabtu (4/7/2026) malam hingga Minggu (5/7/2026) pagi, sementara pemerintah memperkirakan total peserta seluruh rangkaian prosesi dapat mencapai 12 hingga 20 juta orang, sehingga acara tersebut dijuluki sebagai "pemakaman abad ini".
Baca juga: Pakar Militer: Prancis-Inggris Tak akan Mampu Bersihkan Ranjau Selat Hormuz Tanpa Izin Iran
Selain keluarga Khamenei, sejumlah pejabat tinggi Iran turut menghadiri upacara doa, termasuk Presiden Masoud Pezeshkian, Ketua Parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf, Komandan Pasukan Quds Esmail Qaani, serta sejumlah tokoh militer dan politik lainnya.
Suasana duka juga dibarengi meningkatnya tuntutan publik agar Iran membalas serangan AS dan Israel yang menewaskan Ali Khamenei beserta beberapa anggota keluarganya.
Profesor Universitas Sains dan Teknologi Terapan Teheran, Mostafa Khoshcheshm, mengatakan banyak warga Iran meyakini permusuhan dengan AS dan Israel belum berakhir meski gencatan senjata masih berlaku.
Di sisi lain, pembicaraan menuju kesepakatan damai permanen masih berlangsung.
Namun, kedua pihak sama-sama menegaskan tetap siap melanjutkan operasi militer apabila negosiasi gagal mencapai hasil.
Setelah prosesi di Teheran, jenazah Ali Khamenei dijadwalkan dibawa ke sejumlah kota suci Syiah di Iran dan Irak.
Rangkaian penghormatan akan berlanjut ke Qom, kemudian menuju Karbala dan Najaf di Irak, sebelum akhirnya dimakamkan di kota kelahirannya, Mashhad.
Prosesi selama sepekan ini bukan hanya menjadi penghormatan terakhir bagi Ali Khamenei, tetapi juga menjadi momen penting bagi Iran dalam menjalani transisi kepemimpinan di tengah situasi kawasan yang masih rapuh.
Baca juga: Investigasi Media Israel: Klaim Penghancuran Total Rudal Iran Tak Sejalan Laporan Intelijen
Di saat jutaan warga menunjukkan dukungan terhadap Republik Islam, absennya Mojtaba Khamenei justru menjadi salah satu sorotan terbesar yang mengiringi babak baru kepemimpinan negara tersebut.
(Tribunnews.com/Andari Wulan Nugrahani)