Mahasiswa USK Dilatih Monitoring Terumbu Karang dengan Metode UPT dan MERMAID
Amirullah July 06, 2026 01:24 PM

Mahasiswa USK Dilatih Monitoring Terumbu Karang dengan Metode UPT dan MERMAID

SERAMBINEWS.COM, BANDA ACEH – Pusat Riset Kelautan dan Perikanan (PRKP) Universitas Syiah Kuala bekerja sama dengan Wildlife Conservation Society (WCS) Program Indonesia menyelenggarakan Pelatihan Pengambilan Data Terumbu Karang dan Ikan Karang menggunakan metode Underwater Photo Transect (UPT), Point Intercept Transect (PIT), Underwater Visual Census (UVC), serta analisis data menggunakan platform MERMAID.

Kegiatan yang berlangsung pada 1–3 Juli 2026 ini bertujuan meningkatkan kapasitas sumber daya manusia dalam melakukan monitoring ekosistem terumbu karang sesuai standar ilmiah.

Pelatihan berada di bawah tanggung jawab Maria Ulfah, S.Kel., M.Si., dosen Program Studi Ilmu Kelautan Universitas Syiah Kuala sekaligus Pembina II Ocean Diving Club (ODC).

Sebanyak 28 peserta mengikuti kegiatan tersebut.

Baca juga: MaTA Titip Dua PR Besar ke Kapolda Aceh Baru: Tuntaskan Korupsi Beasiswa dan Tambang Ilegal

Peserta terdiri atas 20 anggota Ocean Diving Club Universitas Syiah Kuala, empat peserta dari Turtle Diving Club Universitas Malikussaleh, serta empat peserta dari Stingrays Diving Club Universitas Teuku Umar.

Direktur Pusat Riset Kelautan dan Perikanan (PRKP) Universitas Syiah Kuala, Haekal Azief Haridhi, Ph.D., secara resmi membuka kegiatan tersebut.

Dalam sambutannya, ia menegaskan bahwa monitoring ekosistem terumbu karang merupakan salah satu aspek penting dalam mendukung pengelolaan sumber daya laut yang berkelanjutan.

Melalui pelatihan ini, diharapkan lahir sumber daya manusia yang memiliki kemampuan teknis dalam melakukan survei bawah air dan mampu menghasilkan data yang akurat sebagai dasar penelitian, konservasi, serta penyusunan kebijakan di bidang kelautan.

Pelatihan menghadirkan dua narasumber dari WCS Program Indonesia yang berpengalaman dalam monitoring ekosistem pesisir.

Cahya Himawan, Ilmuwan Terumbu Karang dan Mangrove WCS Program Indonesia untuk Nusa Tenggara Barat, menyampaikan materi mengenai teknik pengambilan data terumbu karang menggunakan metode Underwater Photo Transect (UPT) dan Point Intercept Transect (PIT).

Sementara itu, materi mengenai pengambilan data ikan karang menggunakan metode Underwater Visual Census (UVC) disampaikan oleh Mohammad Fatwa Arfi, Asisten Program Kelautan WCS Aceh.

Baca juga: USK Lepas 2.124 Mahasiswa KKN, Perkuat Kapasitas Kebencanaan di Wilayah Pascabencana

Selain memberikan penjelasan mengenai konsep dasar monitoring, kedua narasumber juga berbagi pengalaman lapangan serta standar pelaksanaan survei yang diterapkan dalam berbagai program konservasi.

Pada hari pertama, kegiatan difokuskan pada penyampaian materi di dalam ruangan.

Peserta mempelajari konsep dasar monitoring ekosistem terumbu karang dan ikan karang, teknik penentuan lokasi survei, pemasangan transek, prosedur pengambilan foto bawah air, metode pengamatan ikan karang, hingga tata cara pencatatan data sesuai standar monitoring ekosistem pesisir.

Hari kedua diisi dengan praktik lapangan di Perairan Inong Balee, Aceh Besar.

Dalam sesi ini, peserta mengaplikasikan materi yang telah dipelajari dengan melakukan pengambilan data terumbu karang menggunakan metode UPT dan PIT, serta melakukan pengamatan ikan karang menggunakan metode UVC.

Seluruh praktik lapangan didampingi langsung oleh narasumber dan tim fasilitator agar setiap tahapan monitoring berjalan sesuai prosedur.

Mulai dari pemasangan transek, dokumentasi bawah air, hingga pencatatan data hasil pengamatan dilakukan secara sistematis.

Pada hari terakhir, peserta mengikuti pelatihan pengolahan dan analisis data menggunakan platform MERMAID.

Peserta mempelajari proses memasukkan data hasil survei, melakukan validasi data, mengelola informasi lokasi pengamatan, hingga memanfaatkan berbagai fitur analisis yang tersedia pada platform tersebut.

Baca juga: Dua Mahasiswi USK Wakili Indonesia di Brunei, Bawa Gagasan Inovasi Kota Pesisir

Melalui sesi ini, peserta diharapkan mampu mengelola data monitoring secara lebih sistematis sehingga dapat dimanfaatkan untuk kegiatan penelitian maupun pengelolaan ekosistem terumbu karang.

Rangkaian kegiatan ditutup dengan sesi evaluasi dan diskusi yang menjadi wadah bagi peserta untuk merefleksikan materi serta pengalaman selama mengikuti pelatihan.

Selain meningkatkan keterampilan teknis dalam pengambilan dan pengolahan data terumbu karang serta ikan karang, kegiatan ini juga memperkuat kolaborasi antara WCS Program Indonesia dengan komunitas selam dari Universitas Syiah Kuala, Universitas Malikussaleh, dan Universitas Teuku Umar dalam mendukung upaya konservasi ekosistem laut secara berkelanjutan.

Pelatihan ini juga merupakan bagian dari upaya memperkuat tim lokal monitoring Aceh dan Coral Reef Network Aceh yang telah diinisiasi Universitas Syiah Kuala bersama WCS Program Indonesia sejak tahun 2021.

Melalui penguatan kapasitas tersebut, diharapkan jejaring monitoring terumbu karang di Aceh semakin berkembang serta mampu menyediakan data ilmiah yang berkelanjutan untuk mendukung pengelolaan sumber daya pesisir dan laut secara efektif.

Baca juga: Dosen Budidaya Perairan USK Latih Warga Gampong Neuheun Olah Ikan Jadi Produk Bernilai Ekonomi

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.