Jelang Malioboro Full Pedestrian, Pemda DIY Perketat Aturan Bongkar Muat Barang
Joko Widiyarso July 06, 2026 02:14 PM

 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Denyut ekonomi kawasan Malioboro yang ditopang oleh ratusan pertokoan dan Pasar Beringharjo menghadapi babak baru.

Seiring dengan rencana diterapkannya uji coba pedestrianisasi selama 13 jam pada akhir November 2026 mendatang, Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) memperketat regulasi manajemen logistik, khususnya terkait jadwal bongkar muat (loading) barang bagi para pelaku usaha.

Dishub DIY menetapkan bahwa kendaraan niaga hanya diperkenankan melakukan aktivitas bongkar muat di luar jam pemberlakuan pedestrian, yakni pada rentang waktu malam hari hingga sebelum pukul 09.00 WIB pagi.

Kepala Dinas Perhubungan DIY, Chrestina Erni Widyastuti, menggarisbawahi bahwa aturan ini krusial untuk mencegah terjadinya penyumbatan arus lalu lintas oleh kendaraan niaga yang kerap berhenti di bahu jalan.

"Jadi loading barang untuk pertokoan maupun pasar itu sebelum jam 9. Harapkan nanti bisa, atau nanti di atas jam 10 (malam). Jadi memang kalau yang pagi sebelum jam 9, supaya nanti biasanya kan pertokoan itu juga buka jam 9, jadi sekurang-kurangnya jam 9 harus sudah bisa loading karena nanti akan mengganggu lalu lintas di jalan tol juga," urai Erni.

Kendati sosialisasi dan surat edaran telah didistribusikan secara masif dengan melibatkan lintas Organisasi Perangkat Daerah (OPD) serta Pemerintah Kota Yogyakarta, praktik di lapangan masih kerap menjumpai pelanggaran. Pemda DIY saat ini masih mengedepankan teguran simpatik.

"Jadi mungkin saat ini masih ya, loading-loading terus masih seperti ini, masih semrawut meskipun kita sudah menginformasikan bahwa loading sebelum jam 9. Tetapi ya namanya juga masyarakat, mungkin ada yang sudah paham ada yang belum. Jadi masih ada, sehingga apalagi kondisi saat ini akan sangat mengganggu kelancaran lalu lintas," ungkapnya. 

Di balik penataan lalu lintas yang ketat, terdapat tujuan makro dari Pemda DIY untuk menahan wisatawan agar lebih lama tinggal dan membelanjakan uangnya di Yogyakarta, mengantisipasi efek negatif dari pembangunan infrastruktur jalan tol.

"Kita berharap perekonomian di Yogyakarta tetap tumbuh. Karena kita melihat sebenarnya masyarakat itu sangat cinta kepada Yogyakarta, sangat cinta pada Malioboro, sehingga kami berharap tidak hanya melintas saja gitu, tetapi ayo berhenti gitu, belanja. Jangan sampai fenomena liburan kita banyak yang didatangi wisatawan, tetapi pertumbuhan di perhotelannya stagnan malah kurang gitu. Karena jalan tolnya sudah mulus, jadi mereka hanya datang, langsung pulang kan gitu," harap Erni.
 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.