Laporan Reporter POS-KUPANG.COM, Irfan Hoi
POS-KUPANG.COM, KUPANG - Sekolah Luar Biasa (SLB) Negeri Kota Radja Kupang mengaku terdapat kekurangan guru.
Padahal, idealnya setiap siswa harus diajar seorang tenaga pendidik.
Kepala SLB Negeri Kota Radja Edi Wahon mengatakan, setidaknya sekolah itu mengalami kekurangan guru hingga 13 orang.
Pihaknya sedang merencanakan adanya tambahan tujuh guru dalam tahun ini.
Baca juga: Disdikbud NTT Perlu Percepat Honor Bagi Guru Sekolah Luar Biasa
Edi mengatakan, persoalan ini sudah disampaikan ke Dinas Pendidikan dan Kebudayaan NTT. Ia menegaskan, rencana tersebut didukung orang tua siswa.
Untuk pembiayaan akan diberikan melalui anggaran transportasi dari Iuran Penyelenggaraan/Pembangunan Pendidikan (IPP).
"Kita sempat membuat analisis kebutuhan guru untuk dikirim ke dinas itu dan kita sampaikan bahwa masih kurang 13 guru dan orang tua saat ini hanya mampu untuk 7 guru. Jadi nanti dikasih transport melalui IPP itu sesuai rapat," katanya, Jumat (3/7/2026).
Menurut dia, SLB Kota Radja merupakan sekolah satu yang terdiri dari tingkat SD-SMA dengan 5 jenis kekhususan yaitu dari tuna netra, tuna rungu-wicara, tuna daksa, tuna grahita, dan autis.
"Idealnya satu siswa diajarkan oleh satu orang guru jadi tidak seperti di sekolah umum," katanya.
Berbeda dari sekolah umumnya dengan sistem rombongan belajar (rombel) yang bisa berisi 28 - 30 siswa per kelas, untuk SLB rombel ditentukan berdasarkan jenis ketunaan atau kekhususan anak. Dengan kondisi ini maka SLB membutuhkan lebih banyak guru untuk mata pelajaran maupun guru kelas.
Edi mengatakan, sekolah telah menyampaikan kondisi ini ke orang tua atau wali murid. Responsnya, kata dia, mereka akan membantu melalui IPP sebagaimana dalam Pergub.
"Orang tua juga setujui itu dan nanti masuk di tahun ajaran baru kita mantapkan lagi dan kita akan terima guru baru yang dibayar oleh orang tua," lanjut dia.
Sejauh ini, Edi mengaku sudah ada beberapa pelamar. Nantinya para pelamar akan melengkapi 37 guru yang sudah dimiliki SLB Kota Radja. Jumlah guru, menurut dia, terdengar cukup banyak namun sebenarnya masih sangat kurang jika dibandingkan dengan pelayanan terhadap murid yang berkebutuhan khusus.
"Karena SD itu kan 6 kelas, SMP 3 kelas, SMA 3 kelas tapi itu ada lagi sesuai dengan ketunaan dan kita pisahkan lagi sesuai kekhususan itu," ujarnya.
Dia mengatakan, dari keseluruhan guru saat ini hanya ada dua orang berstatus honorer, 8 orang ASN dan sisanya PPPK. Pihaknya sangat berharap kepada pemerintah agar sekalipun dalam efisiensi anggaran tetapi bisa memperhatikan kebutuhan guru di SLB.
Jika ada formasi CPNS, kata dia, sangat dibutuhkan guru kelas dengan latar belakang Sarjana Pendidikan Luar Biasa sehingga cocok dengan anak berkebutuhan khusus.
"Mudah-mudahan tahun ini ada formasi atau tahun depan bisa mendapatkan kuota untuk guru," ungkapnya.
SLB Kota Raja sendiri memiliki 97 siswa yang tidak termasuk mereka yang baru dinyatakan lulus tahun ini.
Penerimaan di SLB Kota Radja sendiri akan dilakukan dengan dua jalur baik offline dan online yang link-nya juga sudah disebarkan. Sementara untuk offline berlangsung pada 6 - 11 Juli.
Khusus untuk autis, pihaknya menerima yang sudah siap ikut pembelajaran tetapi yang belum bisa akan diarahkan ke SLB khusus autisme. Pendaftar wajib membawa surat keterangan kekhususan ketika mendaftar.
Misalnya, ujar dia, untuk tuna grahita, orangtua diminta untuk menghubungi psikolog yang bisa menentukan tingkat kecerdasan anak. Sementara untuk tuna rungu diperlukan keterangan dari dokter mengenai berapa persen kemampuan anak mendengar.
"Sehingga kita bisa melayani dengan menyesuaikan dengan kebutuhannya," kata dia.
Edi mengatakan, setelah pendaftaran akan dilanjutkan assesmen yang hasilnya disampaikan ke orang tua atau wali murid.
Ia menambahkan, 80 persen fasilitas sekolah telah berorientasi pada masing-masing anak, termasuk area untuk disabilitas.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan NTT Ambrosius Kodo yang dikonfirmasi, Senin (6/7/2026) di kantornya dan pesan singkat, belum memberikan respons. (fan)