Isi Desakan Nelayan Lokal Pasca Kapal Cantrang Marak Beroperasi di Perairan Kotabaru Kalsel
Edi Nugroho July 06, 2026 11:52 PM

BANJARMASINPOST.CO.ID, KOTABARU -Isi desakan nelayan pasca Kapal Cantrang marak beroperasi di perairan Kotabaru Kalsel

Sejumlah perwakilan nelayan di Kabupaten Kotabaru keluhkan maraknya nelayan cantrang yang masuk ke perairan Kotabaru. 

Aspirasi ini disampaikan pada Rapat Dengar Pendapat (RDP) yang digelar DPRD Kotabaru bersama sejumlah pihak terkait.

Satu di antara keresahan, disamapaikan Ketua Nelayan Tanjung Seloka, Wisnu yang mewakili masyarakat nelayan tradisional wilayahnya.

Baca juga: Kalsel Borong 14 Medali di Kejuaraan Loncat Indah Internasional, Tapin Penyumbang Emas Terbanyak

Baca juga: HSU Resmi Tuan Rumah Porprov Kalsel 2029, Bupati Sahrujani Akui Tak Pasang Target Juara Umum

Diungkapkan Wisnu, hal yang paling krusial adalah batasan berapa mil wilayah tangkap bagi nelayan. Baik batasan yang dikeluarkan Pemerintah Daerah Kotabaru maupun Provinsi Kalsel.

Karena saat pihaknya datang ke Dinas Perikanan Kotabaru, hanya ditanggapi batasan wilayah tangkap tersebut ada di ranah provinsi.

"Otomatis kami mentok, tidak bisa berbuat sana tidak mendapat solusi apa-apa," sebutnya, Senin (6/7/2027).

Sejumlah kerugian yang dirasakan masyarakat nelayan tradisional adalah kurangnya tangkapan, hingga berpotensi berujung konflik di laut. 

Di kesempatan ini juga ditayangkan sejumlah rekaman video sejumlah kapal nelayan cantrang dari Jawa yang menangkap ikan di wilayah mereka. Bahkan di jarak yang hanya 3, 5 hingga 12 mil.

"Kami tidak ingin laut kita rusak, apalagi sampai anak-anak nelayan Kotabaru mencari nafkah ke luar daerah," harap Wisnu.

Sementara itu, disampaikan Ketua Komisi II DPRD Kotabaru, Abu Suwandi, beberapa keluhan yang disampaikan masyarakat nelayan di pesisir ini sudah diterima beberapa waktu terakhir.

Kondisi ini dikeluhkan karena sangat mengganggu dan dinilai ilegal, serta merugikan nelayan lokal yang bergantung pada tangkapan ikan saat melaut.

Dikatakannya, sebulan terakhir, ada sekitar 38 kapal cantranq yang didapati dan dari beberapa video yang didapat, telah mulai menyebabkan ketegangan dengan nelayan lokal.

Kondisi ini pun tidak bisa dibiarkan berlarut-larut, karena mengancam penghidupan nelayan Kotabaru yang bergantung dengan hasil tangkapan.

"Dengan forum bersama sejumlah perwakilan terkait hari ini, semoga ada hasil yang terbaik. Hasil rapat hari ini juga akan jadi bahan saya untjk disampaikan ke Kementerian Perikanan dan Kelautan," pungkasnya saat membuka forum.

Resahkan Nelayan Lokal

Maraknya kapal cantrang yang masuk ke perairan Kotabaru sangat meresahkan nelayan lokal.

Kondisi ini dibawa ke RDPdi DRPD Kotabaru, untuk menemukan solusi agar kapal cantrang yang bandel tidak lagi menangkap ikan di wilayah yang dilarang.

Mengingat kondisi ini merugikan nelayan tradisional di pesisir Kotabaru. 

Sejumlah pengalaman di lapangan pun diungkapkan para nelayan saat forum rapat berlangsung.

Satu di antaranya yang mencuri perhatian adalah kerapnya informasi bocor, saat ada upaya pelaporan atau saat ada perhatian serius kapal canatrang beroperasi. 

Disampaikan Kepala Desa Maradapan, Kecamatan Pulau Sembilan, Gazali Rahman, seperti yang dilakukan pembahasan di DPRD hari ini, dan mulai video viral beberapa waktu terakhir, aktivitas nelayan cantrang di Perairan Maradapan tidak terlihat.

"Apakah ada orang kampung, atau oknum yang menyampaikan informasi operasi saya tidak tahu," sebutnya.

Hal senada juga disampaikan Posmaswas Marabatuan, Busdar yang membenarkan temuan itu.

Sekitaran November 2025, ia pernah diundang Polairud ke Banjarmasin, katanya untuk atur strategi penanganan nakalnya nelayan cantrang.

Ia pun menghubungi rekan-rekan yang ada di Maradapan hingga Pulalu Matasirih, namun tidak ada terpantau aktivitas cantrang.

Kondisi ini berlangsung sampai ia pulang dari Banjarmasin, hingga masuk di bulan 12 cantrang kembali mulai datang.

"Itu di selatan ada kita dapati 38, di Utara ada lebih dari lima kapal," sebutnya.

Busdar pun sepakat kalau lagi ramai, cantrang tidak ada, entah siapa yang bermain (informasi) di sini.

Nelayan di Marabatuan juga kerap menghubungi dirinya untuk melalukan aksi agresif menindak nelayan cantrang. Namun selalu diredam agar tidak bertindak anarkis. Karena rentan terjadi konflik antar nelayan di lautan. 
 (Banjarmasinpost.co.id/MuhammadTabri)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.