BOLASPORT.COM - FIFA meloloskan sanksi kartu merah dari penyerang Timnas Amerika Serikat, Folarin Balogun. Bentuk protes dari Federasi Sepak Bola Belgia dianggap sebagai banding. Inikah skandal terbesar di Piala Dunia 2026?
Laga krusial di babak 16 besar Piala Dunia 2026 antara Amerika Serikat dan Belgia di Stadion Seattle, Selasa (7/7/2026) pagi WIB diwarnai isu tak sedap.
Jelang bentrokan kedua tim itu, turnamen akbar bal-balan empat tahunan tersebut tercoreng dengan penanggguhan skorsing kartu merah penyerang The Yanks, Folarin Balogun.
FIFA telah merilis pernyataan bahwa induk sepak bola dunia tersebut membatalkan sanksi terhadap Balogun.
Balogun diketahui menerima kartu merah langsung dari wasit pada menit ke-64 dalam laga babak 32 besar antara Amerika Serikat dan Bosnia-Herzegovina akibat pelanggaran serius terhadap Tarik Muharemovic.
Jika sesuai aturan yang berlaku, langsung tersebut membuat penyerang AS Monaco itu secara otomatis absen pada laga berikutnya.
Rupa-rupanya hal itu mendadak direvisi oleh FIFA pada Minggu (5/7/2026) dengan menyatakan bahwa skorsing satu laga untuk Balogun ditangguhkan, sehingga sang striker diizinkan bermain melawan Timnas Belgia.
Komite Disiplin FIFA mendasarkan keputusan ini pada Pasal 27 FIFA Disciplinary Code (FDC).
Pasal ini memberikan wewenang kepada badan yudisial FIFA untuk menangguhkan pelaksanaan sanksi disiplin, baik sebagian maupun seluruhnya.
Di samping itu, FIFA tidak menghapus catatan kartu merah Balogun tersebut, melainkan memberikan masa percobaan selama satu tahun.
Jika dalam periode tersebut Balogun kembali melakukan pelanggaran serupa, sanksi larangan bertanding yang ditangguhkan ini akan langsung diaktifkan secara otomatis bersama sanksi baru.
Perubahan status tersebut disebut-sebut muncul usai adanya lobi-lobi dari Presiden Amerika Serikat, Donald Trump.
The Independent menyebutkan bahwa Trump mengintervensi langsung dengan menghubungi Presiden FIFA, Gianni Infantino, sebanyak 3 kali guna meminta peninjauan kembali soal kartu merah Folarin Balogun.
Hal tersebut berujung pada pembatalan sanksi bagi eks Arsenal itu sehingga ia tersedia untuk pertandingan melawan Belgia pada babak 16 besar Piala Dunia 2026.
Berbagai protes dan kecaman bermunculan terkait keputusan FIFA itu hingga Senin (6/7/2026).
Salah satunya respons yang diberikan langsung oleh PSSI-nya Belgia, RBFA.
Merasa dirugikan, RBFA langsung melayangkan surat protes dan melakukan investigasi legal.
Melalui laman resmi mereka, pihak RBFA menegaskan bahwa keputusan FIFA menabrak Pasal 66.4 FDC dan Circular Piala Dunia 2026 nomor 16, yang menyatakan bahwa kartu merah otomatis menghasilkan sanksi larangan bermain di laga berikutnya tanpa pengecualian.
Hanya saja upaya mereka berujung pada kekecewaan karena respons dari induk sepak bola dunia tersebut.
"Sebagai satu-satunya tanggapan, FIFA mengirimkan surat kepada RBFA yang menyatakan bahwa surat tersebut dianggap sebagai banding, bahwa seorang hakim telah ditunjuk, dan bahwa RBFA hanya memiliki beberapa jam untuk menyelesaikan banding tersebut. Tidak ada informasi apa pun yang diberikan oleh FIFA," tulis kubu RBFA.
"Agar sebuah banding dapat diterima, peraturan FIFA sendiri menyatakan bahwa keputusan yang disertai alasan harus terlebih dahulu disampaikan kepada pihak yang mengajukan banding."
"Sementara RBFA hanya mencari penjelasan yang sah, FIFA sendiri menciptakan proses banding tersebut dan segera memastikan bahwa banding tersebut akan dinyatakan tidak dapat diterima."
"Semua ini terjadi sementara FIFA secara bersamaan menolak menanggapi permintaan sah RBFA."
"Selain itu, selama rapat koordinasi pertandingan, FIFA dengan sengaja menghapus bagian mengenai skorsing otomatis pemain dari presentasinya."
"Topik ini sebenarnya telah menjadi bagian dari semua rapat serupa sebelum masing-masing dari empat pertandingan sebelumnya."
"RBFA menanyakan kepada FIFA, baik secara lisan maupun tertulis, mengenai alasan perubahan ini, namun sekali lagi tidak mendapat tanggapan."
"Untuk memperjelas, hingga saat ini, RBFA masih belum menerima keputusan atau penjelasan apa pun dari FIFA terkait masalah ini."
"Oleh karena itu, RBFA tidak memiliki pilihan lain selain menantang kelayakan pemain tersebut untuk bertanding dalam pertandingan mendatang."
"Terlepas dari hasil pertandingan ini, RBFA sangat prihatin dengan jalannya peristiwa ini dan akan terus berjuang dalam beberapa jam, hari, dan bulan mendatang untuk mempertahankan prinsip-prinsip dasar etika, kompetisi yang adil, serta kepentingan sepak bola secara keseluruhan," bunyi pernyataan Federasi Sepak Bola Belgia tersebut.
Skandal ini memicu reaksi keras pula dari Konfederasi Sepak Bola Eropa (UEFA) yang menuduh FIFA telah melewati batas merah dan merusak total nilai-nilai fair play dalam sepak bola profesional.
Meskipun dijegal secara birokrasi, RBFA menyatakan tetap maju berjuang dan resmi menggugat keabsahan bermainnya Folarin Balogun sebelum peluit sepak mula dibunyikan di Seattle.
Timnas Belgia sendiri diyakini bakal berjuang mati-matian untuk merebut tiket ke perempat final Piala Dunia 2026 terlepas dari kontroversi yang terjadi.
Hasil di atas lapangan nanti bakal membuktikan bahwa manipulasi aturan akan menemukan keadilannya dan karmanya.