‘Aturan Harus Diterapkan Secara Adil’: Setelah Intervensi Donald Trump terhadap Balogun, Anggota Parlemen Inggris Desak FIFA Tunda Hukuman Kartu Merah Pemain Inggris
Aurora Nightingale July 07, 2026 03:59 AM

Anggota Parlemen Inggris, Noah Law, telah mendesak Presiden FIFA, Gianni Infantino, untuk menunda hukuman skorsing terhadap bek tim nasional Inggris, Jarell Quansah, dengan alasan bahwa sang pemain seharusnya diizinkan tampil pada laga perempat final Piala Dunia melawan Norwegia pada hari Sabtu.

Quansah diganjar kartu merah pada babak kedua dalam pertandingan babak 16 besar antara Inggris melawan Meksiko di Stadion Azteca setelah melakukan tekel sliding terhadap Jesus Gallardo. Saat kejadian tersebut, Inggris sedang unggul 2-1 berkat dua gol yang dicetak oleh Jude Bellingham pada babak pertama.

Dalam surat yang ditujukan kepada Infantino, Law menyatakan bahwa Quansah memang layak menerima kartu merah tersebut, tetapi mempertanyakan mengapa Inggris tidak menerima perlakuan yang sama seperti yang diberikan FIFA kepada penyerang Amerika Serikat, Folarin Balogun.

“Meskipun saya percaya bahwa keputusan memberikan kartu merah kepada Jarell Quansah sudah tepat dan bahwa aturan perwasitan harus diterapkan secara konsisten, saya juga percaya bahwa akan lebih adil jika penangguhan hukuman terhadapnya ditunda sampai setelah Piala Dunia ini selesai,” tulis Noah Law dalam suratnya kepada Infantino.

Law merujuk pada keputusan FIFA yang sebelumnya mencabut larangan satu pertandingan terhadap Balogun setelah penyerang Amerika Serikat itu diusir keluar lapangan dalam laga babak 32 besar melawan Bosnia-Herzegovina. Balogun awalnya menerima skors otomatis satu pertandingan setelah mendapatkan kartu merah karena secara tidak sengaja menginjak pergelangan kaki kanan Tarik Muharemovic dalam kemenangan Amerika Serikat 2-0.

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, kemudian meminta FIFA untuk meninjau kembali keputusan tersebut dan mengizinkan Balogun bermain menghadapi Belgia. FIFA akhirnya mencabut skorsing itu pada hari Minggu, sehingga Balogun dapat tampil pada laga babak 16 besar.

“Kita tahu bahwa situasi serupa pernah terjadi sebelumnya di turnamen ini ketika penyerang Amerika Serikat, Folarin Balogun, menerima kartu merah di babak 32 besar. Integritas dari setiap turnamen internasional besar bergantung tidak hanya pada pemain dan ofisial yang menaati peraturan, tetapi juga pada penerapan aturan yang setara untuk semua negara peserta. Saya yakin, kita tidak dapat membenarkan situasi di mana seorang pemain mendapatkan keuntungan dari penundaan skorsing sementara pemain lain dalam kondisi yang hampir sama tidak,” ujar Law dalam pernyataannya.

Keputusan mengejutkan FIFA tersebut membuat Belgia — lawan Amerika Serikat berikutnya di Piala Dunia — merasa geram. Selain itu, keputusan ini juga memicu reaksi keras dari para penggemar sepak bola dan para pemimpin politik di seluruh dunia terkait dugaan pengaruh Presiden Donald Trump terhadap keputusan yang sangat jarang terjadi tersebut.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.