Identitas Mayat Misterius di Hutan Jatiluwih Bali Terungkap, Kapolres: Korban adalah Fotografer
Putu Dewi Adi Damayanthi July 07, 2026 08:03 AM

TRIBUN-BALI.COM, TABANAN – Misteri penemuan sesosok mayat di kawasan hutan Sangyang, Banjar Dinas Gunung Sari Umakayu, Desa Jatiluwih, Kecamatan Penebel, Kabupaten Tabanan, terungkap. 

Polres Tabanan menjelaskan bahwa korban merupakan seorang warga negara Afrika Selatan bernama Adriaan Campbell Louw.

Hal itu pun diungkapkan Kapolres Tabanan AKBP I Putu Bayu Pati, S.I.K., M.H didampingi kasat reskrim Tabanan AKP I Made Teddy Satria Permana, S.T.K., S.I.K pada rilis yang dilakukan Senin 6 Juli 2026.

"Tidak ada tanda-tanda kekerasan, namun kami masih menunggu hasil autopsi. Kita pastikan yang sebelumnya itu mister X ternyata korban adalah WNA," ujarnya.

Baca juga: Lansia Ditemukan Tewas Mengapung di Perairan Benoa Bali, Korban Punya Riwayat Keterbelakangan Mental

Disebutkan identitas mayat itu diketahui dari hasil penyelidikan yang dilakukan. Pada penyelidikan ternyata korban Adriaan Campbell Louw pernah menginap di Guava Eco Living, Banjar Gunung Sri Uma Kayu, Desa Jatiluwih, pada 9 hingga 15 Juni 2026. 

Namun, berdasarkan keterangan pihak pengelola, korban meninggalkan penginapan lebih awal pada 13 Juni dan tidak pernah kembali.

"Dia ini seorang fotografer, karena kita melihat media sosialnya yang kerap mengupload keindahan alam yang ia jajaki," jelasnya.

Diakui, saat pemeriksaan di kamar yang ditinggalkan, masih terdapat sejumlah barang pribadi milik korban, termasuk sebuah iPhone dan MacBook yang memiliki Medical ID identik dengan data yang ditemukan pada ponsel di lokasi penemuan mayat. 

Selain itu, staf penginapan juga mengenali tas yang ditemukan di tempat kejadian perkara (TKP) sebagai milik tamu tersebut.

"Dari beberapa bukti dan saksi kami menyimpulkan bahwa mayat yang ditemukan di Hutan Sangyang merupakan Adriaan Campbell Louw, pria kelahiran Pretoria, Afrika Selatan dengan pemegang paspor nomor M00347976," bebernya

Sementara, Kasat Reskrim Polres Tabanan AKP I Made Teddy Satria Permana, S.T.K., S.I.K menambahkan meski identitas korban mulai terungkap, penyebab pasti kematian masih menunggu hasil pemeriksaan lanjutan. 

Penyidik berencana melakukan pemeriksaan toksikologi forensik serta terus berkoordinasi dengan Konsulat Afrika Selatan guna memastikan identitas dan melengkapi proses penyelidikan.

"Hingga saat ini kami masih berkoordinasi dengan konsulat Afrika dan migrasi. Bahkan pihak keluarga korban belum ada menghubungi kami," jelasnya sembari mengatakan kasus ini masih dalam penanganan kami, karena kami  belum menyimpulkan penyebab kematian dan masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium forensik sebagai bagian dari proses penyidikan.(gus)

Korban Ditemukan di Cekungan Tanah

Untuk diketahui, penemuan mayat tersebut pertama kali dilaporkan pada Minggu 28 Juni 2026, sekitar pukul 07.30 Wita. 

Saat itu, seorang warga yang hendak menghaturkan upakara ke Pura Kak Resi mencium bau menyengat saat berada di kawasan hutan.

Karena penasaran, saksi mencari sumber bau dan dari jarak sekitar 15 meter menemukan sesosok tubuh manusia berada di dalam cekungan tanah dengan posisi bersimpuh dan sudah tidak bergerak. 

Merasa ketakutan, saksi segera meninggalkan lokasi dan melaporkan temuannya kepada Kepala Wilayah Banjar Dinas Gunung Sari Umakayu, yang kemudian diteruskan kepada pihak kepolisian.

Menindaklanjuti laporan tersebut, jajaran Polres Tabanan melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP), memeriksa sembilan orang saksi, serta melakukan autopsi terhadap jenazah di RSUP Prof. Dr. I.G.N.G. Ngoerah, Denpasar. 

Bahkan hingga kini masih berkoordinasi dengan pihak Imigrasi dan Konsulat Afrika Selatan untuk mengetahui keluarga korban. (gus)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.