TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Nilai ekspor DIY pada periode Januari hingga Mei 2026 mencapai 254,30 juta dolar Amerika.
Tercatat ada peningkatan 14,09 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Pada periode Januari hingga Mei 2025 lalu, nilai ekspor DIY tercatat sebesar 222,89 juta dolar Amerika.
Plt Kepala Badan Pusat Statistik (BPS), Endang Tri Wahyuningsih, mengungkapkan sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan mencatatkan kenaikan ekspor yang cukup tinggi yaitu 59,35 persen.
Sektor ini meningkat lantaran adanya kenaikan ekspor buah-buahan serta biji dan buah mengandung minyak ke Perancis dan Vietnam, kemudian kakao dan olahannya ke Jerman.
Sementara sektor pertambangan dan lainnya baru tercatat ekspor tahun ini.
Pada periode Januari hingga Mei 2026, DIY mengekspor garam, belerang, serta batu dan semen, dengan komoditas batu hias dan batu bangunan ke Amerika Serikat dan India.
Kemudian, sektor industri pengolahan mencatatkan kenaikan 13,79 persen.
Industri pengolahan meningkat didorong oleh ekspor plastik dan barang dari plastik ke Australia, Amerika Serikat, dan Jepang.
“Pertumbuhan ekspor disumbang hampir sepenuhnya oleh sektor industri pengolahan yang berkontribusi sebesar 99,09 persen dari total ekspor DIY," ungkapnya, Senin (6/7/2026).
"Sektor pertambangan kemarin angka pembaginya tidak tersedia karena memang di Januari-Mei 2025 mungkin belum ekspor. Dan ini memang perkembangan baru, perkembangan yang bagus. Kemudian sektor pengolahan ada pangsa pasar yang baru, yaitu Australia," sambungnya.
Ia menerangkan ekspor pakaian dan aksesorisnya bukan rajutan memberikan kontribusi terbesar yakni 31,68 persen, disusul pakaian dan aksesorisnya rajutan sebesar 15,35 persen, dan perabotan, lampu, dan alat penerangan yaitu 8,40 persen.
“Pakaian dan aksesorisnya rajutan mengalami penurunan 5,22 persen, pakaian dan aksesorisnya rajutan naik 34,04 persen, dan perabotan, lampu, dan alat penerangan turun 8,80 persen. Barang dari kulit samak turun 12,86 persen, plastik dan barang dari plastik dua bulan ini mengalami peningkatan yang sangat signifikan, sekarang naik 6,49,67 persen. Kemudian barang anyaman juga naik, sebesar 33,43 persen," terangnya.
Pada Januari hingga Mei 2026, ekspor DIY didominasi ke Amerika Serikat, Australia, dan Jerman sebesar 64,72 persen pangsa ekspor.
Ekspor ke Amerika Serikat tercatat sebesar 111,30 juta dolar Amerika dengan komoditas utama pakaian dan aksesorisnya bukan rajutan, pakaian dan aksesorisnya rajutan, dan barang dari kulit samak.
Sementara ekspor ke Australia sebesar 29,98 juta dolar Amerika dengan komoditas utama plastik dan barang dari plastik, pakaian dan aksesorinya bukan rajutan, dan perabotan, lampu, dan penerangan.
Kemudian, ekspor ke Jerman tercatat sebesar 23,29 juta dolar Amerika, dengan komoditas utama pakaian dan aksesorinya bukan rajutan, pakaian dan aksesorisnya rajutan, dan perabotan, lampu, dan penerangan.
Baca juga: Ekspor DIY Tembus 68,86 juta US Dollar pada April 2026, Industri Pengolahan Jadi Komoditas Utama
Jadi incaran
Sejumlah komoditas plastik dan barang dari plastik asal DIY mulai diincar beberapa negera. Dampaknya ekspor plastik dan barang dari plastik meningkat signifikan.
Kepala Bidang Perdagangan Luar Negeri Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) DIY, Theresia Sumartini, mengatakan, DIY memang memiliki potensi ekspor produk plastik.
"Beberapa produk plastik yang diekspor antara lain peralatan makan seperti sendok atu garpu plastik, sarung tangan sintetis yang bahannya mengandung plastik, furniture dari plastik misal terbuat dari anyaman rotan plastik, dan pot dari plastik seperti polybag untuk menanam tanaman," katanya, Senin (6/7/2026).
Ia menyebut, para importir mulai mengurangi ketergantungan pada pemasok dari negara tertentu.
Praktis hal ini menjadi peluang baru bagi DIY lantaran permintaan ekspor yang akhirnya meningkat.
"Peningkatan ekspor produk ini tentunya disebabkan adanya kenaikan permintaan yang mungkin terjadi karena importir mulai mengurangi ketergantungan pada pemasok dari negara tertentu saja, sehingga harapannya bisa membuka peluang baru untuk produk tersebut. Hal ini juga bisa dilihat dari adanya kenaikan impor plastik sebagai bahan produk di DIY," terangnya.
Untuk memperkuat ekspor plastik, Disperindag DIY berkomitmen untuk memperkuat industri. Selain itu, pihaknya juga akan memperluas akses pemasaran. (maw)