TRIBUN-TIMUR.COM - Adzan subuh di Parangtambung, Tamalate, Makassar bersahut-sahutan, Selasa subuh, 7 Juli 2026.
Seperti biasa. Menara-menara masjid seperti berlomba mengejar pahala paling dini. Masjid HM Takdir Hasan Saleh, Masjid Babussalihin, Masjid Babul Muttaqien, dan Masjid Ulil Albab UNM Parangtambung menyebarkan panggilan suci sebelum matahari menyenyumi bumi menyapa mayapada.
Suara itu membangunkan mereka yang tertidur. Menguatkan mereka yang sebenarnya sudah terjaga. Seakan semakin jauh suara menjangkau langit, semakin besar pula ganjaran yang turun ke bumi.
Namun seperti biasa pula, selalu ada suara-suara lain. Suara mereka yang lirih.Mereka yang kalah keras dalam perlombaan pengeras suara. Hadir, tetapi nyaris tak terdengar. Ada suara lain yang tergeletak di relung hati pada subuh ke-7 bulan ke-7 ini.
Subuh 22 Muharram 1448 Hijriah itu bukan hanya menandai pergantian malam menuju pagi. Ia juga mengiringi runtuhnya satu lagi prediksi manusia. Joachim Klement kembali kehilangan potongan puzzle Piala Dunia 2026.
Setelah Belanda tersingkir dari Maroko, kini giliran Portugal yang harus meninggalkan panggung. Dua negara yang ia ramalkan akan bertemu di Final Piala Dunia 2026 sudah berhenti sebelum waktunya.
Prediksi statistik bertemu kenyataan. Dan kenyataan menang.
Adzan Subuh yang sama pernah menggema pada Selasa, 29 Mei 1453. Ketika pasukan Sultan Muhammad al-Fatih memasuki Konstantinopel setelah berabad-abad benteng itu dianggap mustahil ditembus.
Sesuatu yang terlihat kokoh ternyata bisa runtuh. Benteng Konstantinopel runtuh. Model prediksi pun bisa runtuh.Karena sejarah selalu menyediakan ruang bagi sesuatu yang tidak sepenuhnya bisa dihitung manusia: kontingensi.
Derbi Iberia ke-42 menjadi saksi berikutnya. Portugal melawan Spanyol. Dua bangsa yang berbagi semenanjung. Dua bangsa yang berbagi sejarah panjang.
Penikmat sepak bola Willy Kumurur menulis di Tribun Timur, Senin, 6 Juli 2026, tentang rivalitas yang telah hidup lebih dari satu abad. “Enam hari sebelum Natal tahun 1921, derby tersebut dimulai tatkala kedua negara tetangga itu berlaga di Madrid dalam pertandingan persahabatan yang dimenangkan Spanyol dengan skor tiga gol berbanding satu.”
Sejak pertemuan pertama itu, La Roja dan Selecao das Quinas tidak sekadar memainkan sepakbola. Mereka memainkan memori. Mereka membawa sejarah.
Padahal, tulis Willy Kumurur, perjalanan Spanyol tidak dimulai dengan gemerlap. Babak penyisihan berjalan jauh dari sempurna.
Namun kemenangan 3-0 atas Austria di babak 32 besar mengembalikan sesuatu yang jauh lebih penting daripada angka di papan skor. Kepercayaan diri. Media Spanyol kembali bergairah. AS menulis, "Sang juara telah kembali." Marca menyebutnya sebuah "Pertunjukan di Los Angeles." El Pais menggambarkan bahwa Spanyol telah menemukan kembali keajaibannya.
Namun justru ketika pujian datang, Luis de la Fuente memilih berhati-hati. Ia memahami sesuatu yang sering menghancurkan para pemenang. Kepuasan. "Ketika Anda merasa tersanjung dan mempercayainya, Anda menjadi lebih lemah. Kepuasan bisa membunuh Anda."
Sebaliknya. Sebelum laga, Marca menulis, “Portugal ya piensa en España. Está muy igualado, veremos qué pasa…(Portugal sudah memikirkan Spanyol. Pertandingan ini sangat seimbang. Kita lihat saja apa yang terjadi).
Roberto Martínez memahami maknanya. "Kami sangat menghormati kualitas Spanyol. Mereka mengenal kami, dan kami mengenal mereka," ujar Martínez.
Cristiano Ronaldo juga maklum. "Kami siap. Kami mengenal mereka dengan baik. Spanyol salah satu favorit," katanya.
Runtuhnya Metode Klement
Namun sepak bola sekali lagi memberi pelajaran. Mengenal tidak berarti mampu mengalahkan. Memprediksi tidak berarti mampu memenangkan.
Joachim Klement, ekonom dari Jerman itu, membaca fakta ekonomi. Membaca populasi. Membaca institusi. Membaca budaya sepakbola.
Tiga Piala Dunia sebelumnya memang tepat. Tapi tatkala metode Klement mulai lebih didewakan daripada pilihan gurita dalam aquarium kaca, Belanda dan Portugal tak seirama. Piala Dunia 2026 kembali membuka mata. Kapasitas struktural hanyalah awal. Prestasi tetap lahir dari Kapasitas Struktural × Praktik Sosial dalam Arena × Kontingensi. Belanda sudah membuktikannya. Portugal telah menyusul.
Seperti PSM Makassar musim 2022-2023, sejarah kadang memilih jalan yang tidak tersedia di lembar statistik. Seperti PSM Makassar musim 2025-2026, sepakbola bukan hanya permainan angka. Ia adalah permainan manusia. Dan selama manusia bermain, selalu tersedia dua laci: kekecewaan dan kebahagiaan.
Yang pertama merobek kertas prediksi itu adalah Maroko. Belanda datang membawa hampir semua variabel yang dicari Klement. Negara maju. Institusi kuat. Tradisi panjang. Akademi kelas dunia. Dari Johan Cruyff, Total Football, hingga generasi modern Oranje.
Tetapi Maroko membawa sesuatu yang tidak sepenuhnya terbaca oleh angka. Mereka membawa ashabiyyah sepak bola.
Negeri Afrika Utara itu tidak sekadar mengumpulkan sebelas pemain. Mereka mengumpulkan identitas.
Pemain diaspora dari berbagai kompetisi Eropa berubah menjadi satu tubuh sosial. Ada yang lahir di Belanda. Ada yang tumbuh di Spanyol. Ada yang ditempa di Prancis.
Mereka tidak sekadar dinaturalisasi. Mereka dilahirkan lag. Diakikah ulang. Ketika mengenakan seragam merah Maroko, identitas klub dan negara kelahiran melebur menjadi satu. Dalam bahasa Ibnu Khaldun: ashabiyyah. Dalam bahasa Bourdieu: habitus kolektif.
Dan dari sisi lain bagan turnamen, Norwegia justru datang membawa pertanyaan yang lebih menggoda.
Mengapa negara yang tidak masuk dalam prediksi utama Klement justru mampu membungkam Brasil?
Negara yang memiliki lima bintang di dada. Negara yang melahirkan Pele, Romario, Bebeto, Ronaldo, Ronaldinho, hingga Neymar. Negara yang menjadikan sepak bola bukan sekadar olahraga, tetapi bahasa kehidupan.
Namun di hadapan Norwegia, semua sejarah itu bungkam.
Di sinilah paradoks model Klement muncul. Jika yang dihitung adalah kualitas negara, Norwegia seharusnya sejak awal mendapat perhatian besar.
Negeri para Viking itu memiliki hampir semua syarat kejayaan. Ekonomi kuat. Institusi stabil. Korupsi rendah. Pendidikan berkualitas. Masyarakat dengan tingkat kebahagiaan tinggi.
Tetapi selama puluhan tahun, modal besar itu belum berubah menjadi prestasi sepakbola.
Norwegia memiliki kapasitas struktural, tetapi belum memiliki memori kemenangan. Belum menjelma menjadi kapital simbolik.
Belanda memiliki Total Football. Brasil memiliki jogo bonito. Spanyol memiliki tiki-taka. Portugal memiliki tradisi generasi emas.
Norwegia masih sedang menulis identitasnya sekarang. Kemenangan atas Brasil menjadi titik ketika modal negara berubah menjadi praktik sepakbola.
Erling Haaland bukan lagi sekadar striker hebat. Martin Ødegaard bukan lagi sekadar gelandang kreatif. Mereka menjadi simbol perubahan habitus.
Bahwa negara kecil berpenduduk sekitar lima juta jiwa mampu menantang negara dengan ratusan juta penduduk dan tradisi sepak bola terbesar di dunia. Norwegia menunjukkan bahwa modal ekonomi dan sosial memang penting. Tetapi modal itu baru berarti ketika berubah menjadi praktik di arena.
Lalu datang kisah paling tidak masuk akal dari semuanya. Tanjung Verde.
Negara kepulauan kecil di Samudra Atlantik. Negara dengan penduduk sekitar setengah juta jiwa.
Negara yang bahkan jumlah manusianya hanya dua kali lipat dari warga Kecamatan Biringkanaya di Makassar. Negara yang hanya dihuni manusia lebih kurang dari Kabupaten Gowa dan Kabupaten Bone di Sulawesi Selatan. Namun di Piala Dunia 2026, mereka berdiri sejajar dengan Argentina, Spanyol, Maroko, dan Inggris.
Di atas kertas, perbandingannya nyaris tidak masuk akal. Argentina memiliki semuanya. Sang juara dunia. Pemilik Lionel Messi. Pewaris Maradona. Pemilik tiga bintang di dada.
Tetapi sekali lagi, sejarah tidak ikut berlari selama 97 menit.
Tetapi Tanjung Verde membawa sesuatu yang sering hilang dari kalkulasi: habitus kolektif.
Mereka membawa diaspora. Mereka membawa identitas. Mereka membawa solidaritas bangsa kecil yang ingin didengar dunia.
Maka Piala Dunia 2026 menghadirkan tiga koreksi besar terhadap prediksi statistikis.
Maroko mengingatkan: Jangan hanya hitung sejarah lawan.
Norwegia membisikkan: Jangan hanya hitung tradisi lama.
Tanjung Verde mengumandangkan: Jangan hanya hitung jumlah manusia.
Karena rumus sepakbola bukan: Prestasi = Uang + Populasi + Sejarah
Rumus sepakbola adalah: Prestasi = Kapasitas Struktural × Praktik Sosial dalam Arena × Kontingensi,
Di titik itulah PSM Makassar sejatinya berumah. Maddibola dalam bahasa Bugis. A’balla dalam bahasa Makassar.
PSM punya sesuatu yang tidak terlihat dalam spreadsheet, tak terpantau algoritma, tak terbuai AI: Ewako, Siri na Pacce, dan resopa temmangngingngi na malomoh naletei pammase dewata.(*)