SURYA.CO.ID, SURABAYA - Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan masih bergerak dalam fase konsolidasi sepanjang pekan 6-10 Juli 2026.
Pelaku pasar kini menanti sederet data ekonomi domestik yang diyakini menjadi penentu arah pergerakan indeks setelah tekanan jual investor asing masih membayangi.
Perdagangan saham memasuki pekan baru di tengah sentimen yang saling tarik-menarik. Dari dalam negeri, perhatian investor tertuju pada rilis cadangan devisa, indeks kepercayaan konsumen, hingga penjualan ritel yang akan memberikan gambaran mengenai daya tahan ekonomi nasional.
Sementara itu, dari luar negeri, arah kebijakan bank sentral Amerika Serikat (AS) serta sejumlah data ekonomi global tetap menjadi faktor yang berpotensi memengaruhi aliran dana asing ke pasar berkembang, termasuk Indonesia.
IHSG pada perdagangan 29 Juni hingga 3 Juli 2026 ditutup melemah tipis 0,35 persen ke level 5.875. Pelemahan tersebut terjadi di tengah masih derasnya aksi jual investor asing dan belum munculnya katalis positif baru yang mampu mengangkat sentimen pasar.
Baca juga: Era Baru Investasi Dimulai, IPOT Hadirkan AI Canggih yang Ubah Jutaan Data Jadi Keputusan Trading
"Dari sisi foreign flow, investor asing masih mencatatkan net sell di pasar reguler sebesar Rp2,9 triliun dalam sepekan. Angka ini menunjukkan sentimen investor asing terhadap pasar saham domestik masih cenderung berhati-hati," kata Hari Rachmansyah, Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), Senin (6/7/2026).
Tekanan juga datang dari sejumlah indikator ekonomi domestik. PMI Manufaktur Indonesia pada Juni turun ke level 46,9 yang menandakan sektor manufaktur kembali mengalami kontraksi.
Di sisi lain, inflasi meningkat menjadi 3,34 persen secara tahunan (year on year/YoY), sehingga pasar mulai mencermati dampaknya terhadap daya beli masyarakat maupun arah kebijakan suku bunga.
"Spesifik dari sisi global, pada sesi terakhir Wall Street sebelum libur Independence Day, pasar global bergerak mixed. Dow Jones menguat 1,1 persen dan mencetak rekor penutupan di 52.900,07, S&P 500 nyaris flat di 7.483,24.
Sementara Nasdaq Composite turun 0,8 persen ke 25.832,67 karena aksi jual berlanjut pada saham semikonduktor dan AI-related stocks," jelas Hari.
Baca juga: Konbes NU 2026 Debat Sengit Soal Saham Tambang yang Dikuasai Koperasi
Menurutnya, sentimen global turut dipengaruhi data ketenagakerjaan Amerika Serikat yang lebih lemah dari perkiraan.
Nonfarm payrolls hanya bertambah 57.000 pekerjaan dibandingkan proyeksi 110.000, sedangkan tingkat pengangguran bertahan di level 4,2 persen. Kondisi itu meredakan kekhawatiran pasar terhadap peluang kenaikan suku bunga Federal Reserve dalam waktu dekat.
Meski demikian, secara mingguan indeks utama di Wall Street masih mencatatkan kinerja positif. Dow Jones naik 2 persen, S&P 500 menguat 1,8 persen, dan Nasdaq bertambah 2,1 persen.
Di pasar komoditas, harga emas menguat ke sekitar USD4.174 per ons, sedangkan minyak relatif stabil dengan Brent di kisaran USD71,94 per barel dan WTI sekitar USD68,78 per barel.
Memasuki pekan perdagangan 6-10 Juli 2026, Hari mengatakan perhatian investor akan tertuju pada sejumlah agenda ekonomi penting dari dalam negeri. Pasar menunggu rilis cadangan devisa Juni pada Selasa (7/7/2026), data consumer confidence atau kepercayaan konsumen Juni pada Rabu (8/7/2026), serta retail sales atau penjualan ritel Mei pada Kamis (9/7/2026).
"Data tersebut penting karena inflasi Juni sudah meningkat ke 3,34 persen yoy dari 3,08 persen yoy pada Mei, sementara core inflation juga naik ke 2,76 persen, menandakan tekanan harga mulai lebih sensitif terhadap pelemahan Rupiah dan biaya logistik," ungkap Hari.
Selain itu, pasar juga mencermati defisit neraca perdagangan Mei sebesar USD1,61 miliar yang menjadi defisit pertama dalam enam tahun. Kondisi tersebut meningkatkan perhatian terhadap ketahanan transaksi berjalan serta upaya stabilisasi nilai tukar rupiah.
Bank Indonesia saat ini masih berada pada kebijakan pro-stability setelah menaikkan BI-Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5,75 persen dalam Rapat Dewan Gubernur 17-18 Juni lalu.
"Oleh karena itu, pergerakan Rupiah di sekitar area Rp17.900-Rp18.000 per dolar AS, arah yield SBN/SRBI, serta kelanjutan arus dana asing akan menjadi indikator utama untuk menilai apakah tekanan domestik mulai mereda atau kembali membebani risk appetite investor," terangnya.
Secara teknikal, Hari menilai IHSG masih berada dalam fase konsolidasi dengan kecenderungan bergerak hati-hati. Menurutnya, area support terdekat berada di kisaran 5.800-5.760, sedangkan resistance berada di level 5.950 hingga area psikologis 6.000-6.050.
"Untuk pekan 6-10 Juli, area support terdekat IHSG berada di 5.800-5.760, dengan support lanjutan di 5.650 apabila tekanan Rupiah atau sentimen global kembali memburuk. Sementara itu, resistance terdekat berada di 5.950, lalu area psikologis 6.000-6.050 yang perlu ditembus dengan volume lebih solid dan konfirmasi foreign inflow agar tren pemulihan menjadi lebih valid," beber Hari.
Ia menyarankan investor menerapkan strategi yang lebih defensif dengan mengutamakan saham-saham berkapitalisasi besar dan likuid.
"Jika Rupiah mampu stabil di bawah Rp17.900 dan asing mulai kembali net buy secara konsisten, IHSG berpeluang melanjutkan technical rebound ke 6.000-6.050. Namun jika Rupiah kembali menembus Rp18.000 dan FOMC minutes bernada hawkish, risiko retest area 5.800-5.650 masih terbuka," tambahnya.
Untuk rekomendasi investasi pekan ini, IPOT merekomendasikan saham INCO, AMMN, dan TPIA sebagai pilihan beli. Selain itu, investor pendapatan tetap dapat mempertimbangkan Obligasi FR106 dengan yield to maturity (YTM) 7,16 persen atau FR101 dengan YTM 7,09 persen sesuai profil investasinya.