TRIBUN-SULBAR.COM, POLMAN – Jumlah ternak babi yang mati akibat wabah penyakit di Kabupaten Polewali Mandar (Polman), Sulawesi Barat, terus bertambah menjadi 115 ekor, Selasa (7/7/2026).
Berdasarkan hasil pemeriksaan laboratorium, ternak yang mati dipastikan terinfeksi virus African Swine Fever (ASF) atau Demam Babi Afrika dan Classical Swine Fever (CSF) atau Kolera Babi.
Kasus kematian ternak babi tersebut terjadi di Dusun Salupaku, Desa Indomakombong, Kecamatan Matakali, Polman.
Baca juga: Flu Babi Afrika Ancam Peternakan di Polman, 83 Ekor Babi Sudah Mati
Baca juga: 4 Kecamatan Berisiko Tinggi Penularan Flu Babi Afrika di Polman, 83 Ekor Ternak Mati
Para peternak babi kini diimbau membatasi interaksi untuk menekan penyebaran penyakit.
"Sudah ada hasil laboratoriumnya. Positif ASF dan CSF, kematian bertambah jadi 115 ekor," kata Kepala UPTD Puskeswan Mapilli, drh. Isnaini Bagenda, kepada wartawan.
Ia mengungkapkan saat ini terdapat sekitar 1.105 ekor babi yang berpotensi terpapar penyakit.
Populasi ternak yang berisiko tersebar di delapan desa dan kelurahan di Kabupaten Polewali Mandar.
Menurut Isnaini, hingga kini belum tersedia vaksin untuk mencegah penyebaran virus ASF.
Upaya pengendalian dilakukan melalui pengawasan lalu lintas ternak, penyemprotan disinfektan pada kandang dan kendaraan pengangkut hewan, serta pengendalian hama yang berpotensi menjadi media penyebaran virus.
Meski virus tersebut tidak menular kepada manusia, peternak diminta membatasi interaksi dengan sesama peternak untuk sementara waktu.
Mereka juga diminta tidak saling meminjam peralatan kandang.
Langkah tersebut dinilai penting untuk menekan risiko penyebaran penyakit antarlokasi peternakan.
Isnaini menjelaskan, berdasarkan hasil penelusuran, kasus kematian babi diduga bermula dari masuknya babi yang dibawa dari Kabupaten Mamasa.
"Saat itu ada hajatan warga di Dusun Salupaku. Ada keluarga yang datang membawa babi dari Mamasa dan babi tersebut dalam kondisi sakit," ungkapnya.
Ia mengatakan babi yang sakit dari Kabupaten Mamasa sempat ditempatkan di kandang ternak babi milik warga.
Diduga, virus ASF menyebar dari babi yang sakit tersebut ke ternak babi lainnya di Dusun Salupaku.
Isnaini menyebut, sekitar sepekan setelah babi dari Mamasa itu datang, ternak babi milik warga di Dusun Salupaku mulai menunjukkan gejala sakit. (*)
Laporan wartawan Tribun-Sulbar.com, Fahrun Ramli.

