Trump Berulah, Ejek Prosesi Pemakaman Khamenei & Sebut Kerumunan Petinggi Iran Sasaran Empuk Militer
Eri Ariyanto July 07, 2026 03:44 PM

TRIBUNNEWSMAKER.COM - Pernyataan kontroversial kembali dilontarkan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, yang kali ini memicu kemarahan publik setelah diduga mengejek prosesi pemakaman Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei. 

Ucapan tersebut menjadi sorotan internasional karena disampaikan di tengah suasana duka dan ketegangan yang masih menyelimuti hubungan kedua negara.

Tak hanya menyindir jalannya prosesi pemakaman, Trump juga melontarkan komentar yang dinilai sangat provokatif terkait kehadiran para petinggi militer dan pemerintahan Iran dalam acara tersebut. 

Ia menyebut kerumunan pejabat tinggi Iran yang berkumpul di satu lokasi sebagai "sasaran empuk" apabila militer Amerika Serikat ingin melancarkan serangan.

Pernyataan itu sontak memicu reaksi keras dari berbagai pihak karena dianggap melecehkan prosesi berkabung sekaligus memperkeruh situasi geopolitik di kawasan Timur Tengah. 

Sejumlah pengamat menilai komentar Trump berpotensi meningkatkan eskalasi ketegangan antara Washington dan Teheran.

Ucapan tersebut juga langsung menjadi perbincangan hangat di media sosial. Banyak warganet mengecam gaya komunikasi Trump yang dinilai tidak sensitif terhadap momen duka, sementara pendukungnya menganggap pernyataan itu sebagai bagian dari retorika politik yang selama ini melekat pada dirinya.

Di sisi lain, pemerintah Iran disebut terus memperketat pengamanan pascapemakaman Khamenei. 

Kehadiran para pejabat tinggi negara dan komandan militer dalam satu agenda besar memang menjadi perhatian dunia karena dinilai memiliki risiko keamanan yang tinggi.

Hingga kini belum ada tanda-tanda meredanya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran. 

Pernyataan Trump justru menambah daftar panjang perang psikologis dan saling serang narasi yang kerap terjadi di tengah hubungan kedua negara yang telah lama memanas.

Lantas, bagaimana isi lengkap pernyataan Trump hingga memicu kontroversi? Benarkah ia secara terang-terangan menyebut prosesi pemakaman Khamenei sebagai kesempatan ideal untuk menyerang para petinggi Iran? Berikut fakta-fakta selengkapnya.

Baca juga: Pernyataan Mengejutkan Trump, Sebut Air Mata Jutaan Warga Iran di Pemakaman Ali Khamenei Palsu

Seperti diketahui, di balik gemuruh seruan "Matilah Amerika" di Grand Mosalla, Teheran, dalam prosesi pemakaman Ayatollah Ali Khamenei, Presiden Amerika Serikat, Donald Trump kembali membuat pernyataan kontroversial. 

Saat jutaan rakyat Iran yang mengiringi jenazah Ayatollah Ali Khamenei diselimuti duka mendalam pada Sabtu (5/7/2026), Trump secara terbuka mengakui keterkejutannya melihat ribuan warga Iran menangisi kepergian pemimpin mereka.

Selama ini, narasi yang dibangun di Washington adalah bahwa kepemimpinan Khamenei tidak didukung oleh rakyatnya. Namun, yang terlihat malah sebaliknya.

Kendati demikian, Trump mempertanyakan ketulusan emosi tersebut.

"Mungkin air mata palsu," kata Trump dalam wawancara dengan Axios.

PROFIL ALI KHAMENEI - Ali Khamenei, pemimpin tertinggi Iran ancam Israel, ulama yang hidup sederhana, pernah jadi Presiden Iran. (Khamenei.ir)

Sumpah Balas Dendam

Berbanding terbalik dengan keraguan Trump, suasana di Teheran justru menunjukkan loyalitas yang militan.

Ribuan pelayat membawa bendera merah, simbol syahid dan janji pembalasan dalam tradisi Syiah, bersumpah akan menuntut balas atas serangan udara 28 Februari lalu yang merenggut nyawa Khamenei.

Nuansa revolusi terasa sangat kental. Warga dari berbagai kalangan tampak bersiap mengikuti garis komando dari pemimpin baru, Mojtaba Khamenei, untuk membalas tindakan tersebut.

MURKA - Foto diambil dari Facebook The White House, Selasa (21/10/2025) memperlihatkan Presiden AS Donald Trump dalam unggahan pada Kamis (16/10/2025). Trump baru-baru ini dibuat murka lantaran Iran menerapkan pajak lewat di Selat Hormuz.
MURKA - Foto diambil dari Facebook The White House, Selasa (21/10/2025) memperlihatkan Presiden AS Donald Trump dalam unggahan pada Kamis (16/10/2025). Trump baru-baru ini dibuat murka lantaran Iran menerapkan pajak lewat di Selat Hormuz. (Facebook/The White House)

Provokasi di Tengah Duka

Di tengah prosesi berkabung, Trump justru kembali melontarkan ancaman. Ia mengeklaim bahwa posisi para pejabat tinggi Iran yang berkumpul di satu tempat saat pemakaman sebenarnya adalah sasaran empuk.

"Mereka semua ada di sana. Satu tembakan dan kami bisa menghabisi mereka semua. Tetapi kami tidak akan melakukan itu karena nanti tidak ada lagi yang bisa diajak bernegosiasi," klaim Trump.

Pernyataan ini menambah panas suhu di kawasan. Meski Trump mengklaim kedua pihak sepakat untuk melakukan jeda selama sepekan untuk rangkaian pemakaman, pernyataan keras dari kedua belah pihak menunjukkan bahwa konflik masih jauh dari padam. 

Sementara itu, Pemerintah Iran telah menetapkan hari berkabung nasional hingga Senin mendatang, dengan perkiraan 10 juta orang akan berpartisipasi dalam prosesi di seluruh negeri.

Iringan jenazah Khamenei dijadwalkan melalui Teheran sebelum dibawa ke situs suci di Qom, Najaf, dan Karbala.

Perjalanan terakhir ini akan berakhir dengan pemakaman di kota kelahirannya, Mashhad, pada Kamis mendatang.

(TribunNewsmaker.com/Tribunnews.com)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.