Riset ULM Tawarkan Rumah Murah yang Nyaman di Lahan Basah Kalsel
Irfani Rahman July 07, 2026 02:52 PM

BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARMASIN – Lahan basah selama ini kerap dipandang sebagai kawasan yang bermasalah lantaran identik dengan genangan hingga kebakaran.

Namun, Universitas Lambung Mangkurat (ULM) melihatnya sebagai aset besar yang dapat menjadi solusi bagi berbagai persoalan, mulai dari perubahan iklim, kebutuhan hunuan layak, hingga peluang ekonomi melalui perdagangan karbon.

Gagasan itu menjadi fokus dalam The 3rd International Conference on Wetland for Sustainable Development Goals (ICWSDGs) yang digelar Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) ULM di Banjarmasin, Selasa (7/7/2026).

Konferensi internasional tahunan tersebut menghadirkan pakar dari China, Jerman, Amerika Serikat serta akademisi daei Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), dan ULM.

Ketua panitia Prof Sunardi mengatakan forum itu menjadi ruang untuk mengimplementasukan riset agar memberi dampak nyata bagi pembangunan berkelanjutan di Kalimantan Selatan.

Baca juga: PPK Ormawa DAN FKIK ULM Luncurkan Sekolah Langkar di Desa Handil Bujur Banjar

Baca juga: 4 Bakal Calon Rektor ULM 2026 Lolos Penjaringan, Panitia: Pemilihan Lanjut ke Tahap Penyaringan 

“Selama ini ada yang menganggap wetland itu wasteland atau lahan yang tidak berguna. Padahal di balik tantangan seperti selalu tergenang atau rawan kebakaran, lahan basah menyimpan potensi yang luar biasa,” ujarnya.

Ia mengatakan, berbagai potensi tersebut saat ini mulai dikembangkan ULM, mulai dari pemanfaatan kayu galam, pengelolaan karbon, hingga pengembangan ekosistem mangrove sebagai penyerap karbon dalam mendukung skema perdagangan karbon (carbon trade).

“Kami berdiskusi bersama para ahli dari luar negeri bagaimana membangun lahan basah, khususnya di Kalsel agar lebih bermanfaat dan berdampak bagi masyarakat,” katanya.

Tak hanya membahas ekologi, konferensi juga menyoroti solusi penyediaan rumah layak di wilayah lahan basah.

Asisten I Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Setdaprov Kalsel, Galuh Tantri Narindra mengapresiasi riset kolaboratif yang dilakukan ULM bersama sejumlah perguruan tinggi, terutama mengenai konsep bangunan berkelanjutan yang disesuaikan dengan kondisi geografis Kalsel.

Ia menyebut perubahan iklim menjadi salah satu tantangan utama yang harus dijawab melalui inovasi.

“Dari paparan tadi terlihat bagaimana teknologi dengan biaya yang relatif rendah mampu menghadirkan rumah yang nyaman, aman, dan sesuai dengan kondisi geografis Kalsel,” ujarnya.

Menurut Tantri, hasil riset tersebut berpotensi menjadi referensi pemerintah daerah dalam menyusun kebijakan penyediaan rumah layak bagi masyarakat, khususnya kelompok berpenghasilan rendah.

Saat ini, kata dia, Pemprov Kalsel sedang berupaya mengurangi kawasan kumuh melalui penyediaan hunian yang layak.

“Kami selalu berharap setiap kebijakan yang diambil berbasis riset. Nanti akan kami kaji apakah memungkinkan pemerintah memberikan dukungan agar hasil penelitian ini bisa diterapkan,” katanya.

Kolaborasi antara ULM dan perguruan tinggi lain di Indonesia, khususnya UPI sendiri telah dimulai sejak 2025. Dosen UPI, Betta Paramita mengatakan kerja sama tersebut lahir dari kesamaan visi untuk mengembangkan konsep pembangunan berkelanjutan di kawasan lahan basah.

Menurutnya, isu pembangunan berkelanjutan tidak bisa hanya diselesaikan oleh satu disiplin ilmu.

“SDGa memiliki 17 tujuan. Ada yang dikerjakan bidang pertanian, kehutanan, kesehatan, hingga konstruksi. Karena itu kolaborasi menjadi penting agar kontribusi terhadap target-target SDGs semakin besar,” ujarnya.

Ia menambahkan, konferensi tersebut juga menjadi wadah mempertemukan akademisi, industri, dan masyarakat agar hasil penelitian dapat diimplementasikan untuk menjawab persoalan nyata di daerah.

Salah satu inivasi yang turut diperkenalkan adalah cat reflektif surya hasil pengembangan UPI. Cat ini diklaim mampu membantu menurunkan suhu bangunan sebagai bagian dari solusi menghadapi perubahan iklim. (*)

(Banjarmasinpost.co.id/Muhammad Syaiful Riki) 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.