Lionel Scaloni Sebut Piala Dunia 2026 Paling Rumit, Ungkap Penyebab Tim Favorit Kesulitan
Muhammad Nursina Rasyidin July 07, 2026 04:12 PM

TRIBUNNEWS.COM - Pelatih Timnas Argentina, Lionel Scaloni, menilai Piala Dunia 2026 menjadi salah satu edisi paling rumit yang pernah dihadapi seluruh peserta. 

Menurutnya, tidak ada lagi tim unggulan yang benar-benar mampu tampil dominan karena berbagai faktor nonteknis ikut memengaruhi jalannya turnamen.

"Piala Dunia ini sangat rumit bagi semua tim. Kondisinya sangat berbeda dibanding edisi-edisi sebelumnya," kata Scaloni, dikutip dari TycSports.

Pernyataan itu disampaikan Scaloni dalam konferensi pers di Atlanta Stadium jelang laga babak 16 besar menghadapi Mesir pada Selasa (7/7/2026) pukul 23.00 WIB.

Ia diminta menanggapi fenomena tim-tim unggulan yang harus bersusah payah meraih kemenangan sepanjang turnamen.

Pandangan Scaloni itu sejalan dengan analisis pengamat sepak bola dari Spieltag Indonesia, Adrian, saat berbicara di Poscast Super Taktik Tribunnews. 

Menurutnya, format baru Piala Dunia dengan 48 peserta membuat persaingan semakin ketat sejak fase gugur. 

Ia menilai negara-negara unggulan kini dituntut mempersiapkan kondisi fisik pemain dengan jauh lebih matang agar mampu bertahan hingga babak final.

"Favorit Piala Dunia ini harus lebih mempersiapkan pemainnya, fisiknya terutama untuk bugar di laga 32 besar, 16 besar, dan sampai ke final," ujar Adrian Spieltag.

KONVOI – Ratusan anggota Fans Argentina Jayapura Papua (FAJ-P) melakukan konvoi keliling Kota Jayapura, Selasa (16/6/2026), sebagai bentuk dukungan kepada Tim Nasional Argentina yang berlaga pada Piala Dunia 2026.
KONVOI – Ratusan anggota Fans Argentina Jayapura Papua (FAJ-P) melakukan konvoi keliling Kota Jayapura, Selasa (16/6/2026), sebagai bentuk dukungan kepada Tim Nasional Argentina yang berlaga pada Piala Dunia 2026. (Tribunnews.com/Tribun-Papua.com/Istimewa)

Baca juga: Bagan Perempat Final Piala Dunia 2026 Makin Lengkap: Spanyol Tantang Belgia, Argentina OTW Menyusul

Pendapat tersebut seolah diperkuat oleh fakta-fakta yang dipaparkan Scaloni.

Menurut pelatih berusia 48 tahun itu, hampir tidak ada tim besar yang mampu mendominasi setiap pertandingan seperti yang terjadi pada edisi-edisi sebelumnya.

"Piala Dunia ini sulit bagi semua tim. Prancis terlihat sangat menakutkan, dan memang masih begitu, tetapi mereka juga kesulitan menghadapi Paraguay."

"Kita juga melihat Spanyol mengalahkan Portugal, tetapi mereka baru bisa menang pada menit-menit terakhir," ujar Scaloni.

Seperti diketahui, Prancis tampil cukup superior selama fase grup hingga 32 besar, namun di 16 besar kemarin mereka hanya bisa menang tipis 1-0 dari Paraguay.

Sementara tim favorit lainnya, Spanyol juga meraih kemenangan tipis 1-0 atas Portugal lewat gol dari pemain pengganti Mikel Merino saat laga memasuki injury time.

Menurutnya, tidak ada satu pun tim yang mampu mempertahankan performa terbaik seperti sebelum turnamen dimulai.

Itu pula yang terjadi pada Argentina. Tim Tango mengalami kesulitan saat tampil di 32 besar melawan Cape Verde, bahkan butuh hingga perpanjangan waktu untuk memastikan kemenanagn tipis 3-2.

Scaloni menilai hasil-hasil tersebut membuktikan bahwa setiap pertandingan kini berjalan jauh lebih kompetitif karena semua lawan mampu memberikan perlawanan sengit.

Menurut Scaloni, kondisi turnamen kali ini juga sangat berbeda dibanding Piala Dunia sebelumnya. 

Jadwal pertandingan yang padat membuat banyak pemain datang dalam kondisi kelelahan setelah menjalani musim yang panjang bersama klub masing-masing.

"Mayoritas pemain sudah memainkan begitu banyak pertandingan sepanjang musim. Mereka merasakan dampaknya, sehingga level permainan yang biasanya kita lihat tidak muncul di turnamen ini," jelasnya.

Selain faktor kebugaran, Scaloni juga menyoroti aspek nonteknis yang ikut memengaruhi performa seluruh peserta.

Faktor cuaca karana perpindahan tempat hingga kualitas rumput lapangan yang berbeda antar stadion menjadi tantangan besar bagi peserta.

"Spanyol memang berkembang dari pertandingan ke pertandingan, tetapi mereka juga tidak tampil konsisten sepanjang lima laga. Itu menunjukkan bahwa Piala Dunia ini sangat sulit."

"Perjalanan jauh, cuaca panas, dan kualitas rumput yang tidak sama di setiap stadion membuat perbedaan kualitas antartim menjadi semakin tipis." 

"Tidak ada tim yang benar-benar mampu menciptakan jarak yang sangat jauh dari pesaingnya," kata Scaloni.

Baca juga: Prediksi Skor Argentina vs Mesir: Adu Tajam Messi vs Salah, Rebutkan Tiket 8 Besar Piala Dunia 2026

Argentina Belajar dari Laga Kontra Cape Verde

Scaloni juga mengulas kemenangan Argentina atas Cape Verde pada babak sebelumnya. Meski Albiceleste tetap lolos, pertandingan tersebut berjalan jauh lebih sulit dari perkiraan.

Menurutnya, situasi seperti itu menunjukkan bahwa sebuah tim tidak bisa hanya mengandalkan kualitas permainan semata.

Ketika permainan tidak berjalan sesuai rencana, mentalitas dan karakter menjadi pembeda.

Ia mengaku sudah yakin Argentina akan tersingkir apabila para pemain gagal menunjukkan mentalitas tersebut.

"Tim ini sudah bertahun-tahun selalu datang sebagai kandidat juara dan bermain baik. Namun ketika lawan membuat kami kesulitan, tidak selalu ada satu cara untuk menang."

"Kalau permainan tidak berjalan, kami harus mengandalkan semangat juang, intensitas, keberanian, dan karakter. Saya yakin kalau tim tidak menunjukkan temperamen itu, kami bisa saja tersingkir," tegasnya.

Scaloni menambahkan, yang paling membuatnya puas bukan hanya kemenangan atas Cape Verde, melainkan respons anak asuhnya setelah sempat kebobolan.

"Ada kalanya taktik dan strategi harus dikesampingkan. Ketika permainan tidak berjalan, Anda harus mencari cara lain untuk memenangkan pertandingan," ujarnya.

RAYAKAN GOL - Para penonton merayakan gol Joao Neves dari Portugal saat nobar di halaman TVRI Kalteng, Jalan Yos Sudarso, Palangja Raya, Kamis (18/6/2026).
RAYAKAN GOL - Para penonton merayakan gol Joao Neves dari Portugal saat nobar di halaman TVRI Kalteng, Jalan Yos Sudarso, Palangja Raya, Kamis (18/6/2026). (Tribunnews.com/Tribunkalteng.com/Ahmad Supriandi)

Tantangan Mesir Menanti Argentina

Kini Argentina akan bersiap menghadapi wakil Afrika lainnya, Mesir, di babak 16 besar Piala Dunia pada Selasa (7/7/2026) pukul 23.00 WIB.

Scaloni memastikan timnya tidak akan meremehkan Mo Salah Cs. Meski berasal dari Afrika seperti Cape Verde, ia menilai Mesir memiliki identitas permainan yang jelas dan berbeda dengan lawan sebelumnya.

"Mesir adalah tim yang sangat bagus. Mereka memiliki pemain-pemain berkualitas dan pelatih yang sudah lama bekerja bersama mereka sehingga memiliki identitas permainan yang jelas." kata dia.

"Mereka bukan tim yang hanya bertahan rendah, justru memiliki banyak pemain yang mampu menyerang. Kami sudah siap menghadapi apa pun," kata Scaloni.

Argentina diperkirakan melakukan sejumlah perubahan dalam susunan pemain untuk menghadapi Mesir.

Scaloni berharap penyegaran skuad sekaligus evaluasi dari pertandingan sebelumnya mampu membawa sang juara bertahan melangkah ke babak perempat final di tengah kerasnya persaingan Piala Dunia 2026.

(Tribunnews.com/Tio)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.