SRIPOKU.COM, PALEMBANG - Pemandangan antrean panjang kendaraan roda enam ke atas kembali menjadi rutinitas harian di sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di Kota Palembang. Bagi para sopir truk lokal, perjuangan mencari nafkah tidak berhenti setelah keringat mengering usai mengangkut material, melainkan berlanjut di jalur antrean panjang BBM bersubsidi jenis Bio Solar.
Pantauan di lapangan menunjukkan antrean truk tronton hingga truk gandeng mengular cukup panjang.
Di SPBU kawasan Jalan Soekarno-Hatta (depan Kompleks Polygon), antrean kendaraan besar ini memanjang dari depan nozzle pengisian hingga ke belokan jalan di depan kediaman mantan Wali Kota Palembang, Harnojoyo.
Baca juga: Jawab Keluhan Sopir Truk, Personel Polres Ogan Ilir Urai Antrean Solar di 5 SPBU Indralaya
Kondisi serupa, bahkan lebih panjang, terlihat di SPBU Jalan Mayjen Yusuf Singadekane, Keramasan.
Antrean truk memanjang dari sebelum area SPBU hingga ke pinggir jalan di depan Kantor BMKG Sumsel.
Sementara di SPBU dekat Jembatan Keramasan, bahu jalan kiri dan kanan didominasi oleh truk yang mengantre secara teratur.
Fathur (26), seorang sopir truk angkutan material pasir asal Irigasi Pakjo, membagikan kisahnya saat ditemui di tengah antrean SPBU depan Kompleks Polygon.
Pria lajang ini mengaku waktu istirahatnya terkuras habis hanya untuk mendapatkan bahan bakar agar bisa kembali bekerja keesokan harinya.
"Kami ini sudah capek menyopir seharian. Eh, selesai kerja harus capek lagi isi solar karena antrenya panjang," keluh Fathur, Selasa (7/7/2026).
Baca juga: Antrean Solar Picu Kemacetan Parah, DPRD Ogan Ilir Desak Pemkab Panggil Pengelola SPBU
Fathur menjelaskan, SPBU tempatnya mengantre biasanya melayani pengisian solar dari pagi hingga sekitar pukul 22.00 WIB, atau sampai stok harian habis.
Untuk kebutuhan truknya, Fathur biasanya mengisi Bio Solar senilai Rp300 ribu, berbeda dengan rekan-rekannya sesama sopir truk besar yang rata-rata mengisi antara Rp500 ribu hingga Rp600 ribu sekali jalan.
Cerita senada disampaikan oleh Imam, seorang kernet truk yang setia menemani sopir mengantre.
Menurut Imam, jika kondisi SPBU sedang ramai, waktu yang dihabiskan di dalam antrean bisa mencapai hitungan jam.
"Kalau lagi ramai, posisi truk kami dari depan rumah mantan Wali Kota itu sampai ke depan nozzle SPBU bisa memakan waktu 4 hingga 5 jam. Jadi baru selesai sekitar jam 7 malam," ungkap Imam.
Oleh karena itu, mereka biasanya baru mulai masuk antrean pada sore hari setelah seluruh urusan pekerjaan selesai.
Meski harus menghabiskan waktu berjam-jam di pinggir jalan, Fathur bersyukur situasi di sekitar area antrean relatif kondusif.
Isu keamanan atau premanisme yang kerap membayangi para sopir truk tidak terjadi di kawasan tersebut.
"Alhamdulillah, selama saya antre solar di pinggir jalan depan Polygon ini aman. Tidak ada ancaman atau aksi pemalakan dari preman," kata Fathur.
Kendati demikian, para sopir sangat berharap ada solusi jangka panjang dari pihak terkait agar antrean melelahkan ini tidak terus berulang.
Fathur berharap ketersediaan Bio Solar bisa merata di setiap SPBU agar konsentrasi kendaraan tidak menumpuk di titik-titik tertentu saja.
Selain itu, ia juga memberikan saran terkait disparitas harga BBM subsidi dan nonsubsidi yang terpaut jauh.
"Harapan kami kembali semula saja, setiap SPBU melayani Bio Solar jadi tidak menumpuk seperti ini. Kalau bisa, solar nonsubsidi harganya diturunkan sedikit, jadi mobil-mobil pribadi tidak ikut mengumpul dengan kami di jalur Bio Solar," pungkasnya.