100 Orang Tewas dalam Penembakan Selama Perayaan Hari Kemerdekaan AS
TRIBUNNEWS.COM - Perayaan Hari Kemerdekaan Amerika Serikat tahun ini kembali dibayangi gelombang kekerasan bersenjata.
Organisasi pemantau Gun Violence Archive (GVA) melaporkan sedikitnya 100 orang tewas dan 340 lainnya terluka dalam serangkaian insiden penembakan yang terjadi selama libur 4 Juli 2026.
Baca juga: Misteri Surat Wasiat Ali Khamenei dan Tanggal Pemakaman yang Berdekatan dengan Hari Kemerdekaan AS
Melalui unggahan di platform X, Senin (7/7), GVA menyebut terjadi 20 insiden penembakan dalam kurun tiga hari selama rangkaian libur Hari Kemerdekaan.
Jumlah tersebut disebut sebagai yang tertinggi sejak 2021.
Organisasi itu menegaskan kalau angka korban masih bersifat sementara dan dapat berubah seiring proses verifikasi oleh aparat penegak hukum dan otoritas setempat.
Hari Kemerdekaan Amerika Serikat yang diperingati setiap 4 Juli identik dengan pesta kembang api, konser, parade, dan keramaian di berbagai kota.
Namun, tingginya mobilitas masyarakat pada momen tersebut juga kerap diikuti peningkatan kasus kekerasan bersenjata.
Data terbaru Gun Violence Archive menunjukkan, dalam tiga hari perayaan tahun ini, sedikitnya 100 orang kehilangan nyawa, sementara 340 orang mengalami luka-luka akibat berbagai insiden penembakan.
Amerika Serikat merupakan salah satu negara dengan tingkat kepemilikan senjata api sipil tertinggi di dunia.
Berbagai organisasi dan lembaga penelitian selama bertahun-tahun mencatat bahwa insiden penembakan massal kerap meningkat pada akhir pekan panjang maupun hari-hari libur nasional.
Peristiwa selama libur Hari Kemerdekaan 2026 kembali menambah sorotan terhadap perdebatan panjang mengenai regulasi kepemilikan senjata api, penegakan hukum, serta langkah-langkah pencegahan kekerasan bersenjata di negara tersebut.
Tahun ini, Amerika Serikat juga memperingati 250 tahun Hari Kemerdekaan, menjadikan perayaan berlangsung lebih besar dibanding tahun-tahun sebelumnya.
Namun, rangkaian peringatan itu kembali diwarnai tragedi yang mengangkat isu kekerasan senjata sebagai salah satu tantangan keamanan domestik terbesar di negara tersebut.
(oln/khbrn/*)