Perdebatan mengenai performa Endrick untuk tim nasional Brasil semakin memanas setelah penyerang legendaris Romario memberikan penilaian keras terhadap pemain depan Real Madrid tersebut menyusul tersingkirnya Brasil dari ajang Piala Dunia FIFA 2026.
Kekalahan Brasil dari Norwegia pada babak 16 besar mengakhiri harapan mereka untuk mengangkat trofi, namun sebagian besar pembahasan seusai pertandingan berfokus pada Endrick dan peluang besar yang terbuang yang bisa saja mengubah jalannya laga.
Pemain depan Real Madrid itu telah lama dianggap sebagai salah satu talenta paling menjanjikan di sepak bola Brasil, namun penampilannya kali ini memunculkan keraguan apakah ia sudah siap memikul tanggung jawab di pertandingan-pertandingan besar.
Usai laga, Romario tidak menahan diri saat mengomentari performa penyerang muda tersebut melawan Norwegia.
Meskipun mengakui potensi besar yang dimiliki Endrick, sang legenda Brasil tersebut menegaskan bahwa usia tidak bisa dijadikan alasan ketika bermain di level tertinggi.
“Saya suka Endrick. Dia akan menjadi pemain yang membawa banyak kebahagiaan bagi kita… Tapi melawan Norwegia, dia bermain sangat buruk.”
Mantan pemenang Piala Dunia itu kemudian menepis anggapan bahwa usia Endrick seharusnya membuat kritik terhadapnya berkurang.
“Lalu orang-orang berkata, ‘ah, tapi Endrick masih muda’… Persetan, persetan kalau dia masih muda! Dia harus mencetak gol itu. Muda, paruh baya, tua, tidak peduli.”
Dengan umpan luar biasa yang datang dari Vinicius Jr., peluang tersebut tampak sempurna bagi remaja itu untuk mencatatkan namanya di turnamen ini.
Namun, Endrick gagal mengontrol bola dengan baik, sentuhannya terlalu keras, dan ia tidak mampu memanfaatkan posisi menjanjikan tersebut.
Ekspektasi terhadap penampilan Endrick di Piala Dunia sudah sangat tinggi sejak awal turnamen.
Banyak penggemar mendesak Carlo Ancelotti untuk memberikan peran penting kepada pemain muda itu di skuad Brasil, dengan keyakinan bahwa bakatnya bisa menjadi pembeda dalam laga-laga krusial.
Namun, melawan Norwegia, bintang muda Real Madrid itu justru mengalami malam yang sulit.
Sentuhannya kurang presisi, kepercayaan dirinya tampak menurun, dan ia jarang mampu memberikan pengaruh di lini serang.
Peluang yang gagal dimanfaatkan setelah umpan Vinicius semakin memperbesar sorotan terhadap penampilannya.
Dalam sebagian besar waktu pertandingan, Endrick kesulitan untuk menunjukkan dominasinya, gagal memberikan kreativitas, pergerakan, maupun ketajaman yang diharapkan dari seorang penyerang utama tim nasional Brasil.
Meskipun kritik tersebut terasa keras, sistem gugur dalam turnamen seperti ini memang tidak memberi banyak ruang untuk kesalahan, dan Endrick harus belajar dari pengalaman pahit ini.