Laporan Koresponden Tribunnews.com, Richard Susilo dari Jepang
TRIBUNNEWS.COM, JEPANG – Rumah Sakit Preah Kossamak Hospital (Preah Ket Mealea Hospital) di Phnom Penh menjadi sorotan setelah disebut sebagai lokasi transplantasi ginjal terhadap seorang pria Jepang berusia 70-an. Kasus tersebut kini menjadi bagian dari penyelidikan aparat Jepang terkait dugaan praktik transplantasi organ ilegal lintas negara.
Rumah sakit yang berada di bawah naungan Kementerian Pertahanan Kamboja itu merupakan salah satu fasilitas kesehatan terbesar di negara tersebut. Berdiri sejak akhir abad ke-19 pada masa kolonial Prancis, rumah sakit ini memiliki lebih dari 1.000 tempat tidur dan lebih dari 20 departemen medis, sehingga menjadi salah satu pusat layanan kesehatan utama di Phnom Penh.
Seorang pasien perempuan asal Jepang berusia 73 tahun yang rutin menjalani pengobatan di rumah sakit tersebut mengatakan fasilitas medis terus berkembang dari tahun ke tahun.
Menurutnya, para dokter di rumah sakit itu juga dikenal profesional dan dipercaya oleh banyak pasien.
Namun, nama Preah Kossamak Hospital sebelumnya juga pernah muncul dalam penyelidikan kasus perdagangan organ yang terungkap di Indonesia pada 2023. Dalam perkara tersebut, aparat Indonesia menangkap sejumlah perantara yang diduga mengirim lebih dari 100 warga Indonesia ke Kamboja sebagai calon pendonor ginjal untuk menjalani transplantasi.
Baca juga: Ingin Tinggal di Jepang? Bersiap Hadapi Syarat Baru: Bahasa hingga Pahami Gaya Hidup Orang Jepang
Menurut sumber Tribunnews.com di kepolisian Jepang, operasi transplantasi dalam kasus tersebut diduga dilakukan di rumah sakit yang sama.
"Kasus tersebut menjadi perhatian internasional karena diduga melibatkan jaringan perdagangan organ lintas negara," ujar sumber tersebut, Rabu (8/7/2026).
Kamboja sebenarnya telah memiliki Undang-Undang Transplantasi Organ sejak 2016 yang melarang transplantasi organ untuk tujuan komersial. Pelanggaran terhadap aturan tersebut dapat dikenai hukuman penjara hingga 20 tahun.
Meski demikian, berbagai organisasi internasional menyebut praktik perdagangan organ ilegal masih terjadi. Seorang perwakilan organisasi non-pemerintah (NGO) yang bergerak di bidang pemberantasan perdagangan manusia di Kamboja mengatakan kepada media bahwa kelompok-kelompok asing yang terlibat dalam perdagangan organ masih beroperasi di negara tersebut.
Sementara itu, harian Yomiuri Shimbun melaporkan telah mengirimkan daftar pertanyaan kepada pihak rumah sakit pada akhir Mei mengenai praktik transplantasi terhadap pasien asing, termasuk warga Jepang. Hingga 7 Juli, pihak rumah sakit belum memberikan tanggapan.
Di sisi lain, International Medical Consultation Office (国際医療相談室), organisasi yang membantu warga Jepang memperoleh layanan kesehatan di luar negeri, menyatakan hanya bekerja sama dengan rumah sakit pemerintah atau rumah sakit yang telah diakui secara resmi.
Melalui situs resminya, organisasi tersebut menegaskan bahwa kegiatannya tidak berorientasi pada keuntungan, mematuhi hukum Jepang, serta memberikan pendampingan medis yang tidak berkaitan dengan aktivitas ilegal. Mereka juga mengklaim seluruh biaya layanan kepada pasien dilakukan secara transparan tanpa pungutan tersembunyi.
Dalam penyelidikan yang sedang berlangsung, kepolisian Jepang menangkap Jintatsu Kikuchi (66), mantan direktur organisasi nirlaba Association for Support of Patients with Incurable Diseases, dan Takaki Ando (66), seorang eksekutif di International Medical Consultation Office.
Keduanya diduga mengatur transplantasi ginjal di Kamboja antara November tahun lalu hingga Januari tahun ini terhadap seorang pria berusia 70-an asal Tokyo yang menghubungi mereka setelah melihat situs web organisasi tersebut.
Menurut sumber kepolisian Jepang, keduanya diduga menerima imbalan lebih dari 12 juta yen sehingga dijerat dengan dugaan pelanggaran Undang-Undang Transplantasi Organ Jepang.
Kasus ini masih terus diselidiki untuk memastikan ada tidaknya pelanggaran hukum dalam praktik transplantasi organ lintas negara, termasuk dugaan keterlibatan pihak-pihak lain dalam jaringan tersebut.
Diskusi beasiswa dan loker di Jepang dilakukan Pencinta Jepang gratis bergabung. Kirimkan nama alamat dan nomor whatsapp ke email: tkyjepang@gmail.com