Harga Telur di Polman Turun Drastis, Kini Hanya Rp37 Ribu per Rak
Nurhadi Hasbi July 08, 2026 11:47 AM

 

TRIBUN-SULBAR.COM, POLMAN – Harga telur mengalami penurunan signifikan menjadi Rp37 ribu per rak dari sebelumnya Rp52 ribu per rak di Pasar Polewali, Kabupaten Polewali Mandar (Polman), Sulawesi Barat, Rabu (8/7/2026).

Pedagang menyebut penurunan harga telur tersebut disebabkan oleh melimpahnya pasokan atau overproduksi dari daerah luar.

Penurunan harga telur ini sudah berlangsung selama dua bulan dan terjadi secara bertahap.

Baca juga: Kata Pendukung Argentina di Mamuju Tengah Usai Messi dkk Comeback Dramatis atas Mesir

Baca juga: Harga Telur Ayam di Mamuju Kini Rp45 Ribu per Rak

Pantauan Tribun-Sulbar.com, aktivitas pedagang telur di kompleks pasar tampak sepi.

Stok telur dalam rak tampak tersusun rapi dan menumpuk di lapak masing-masing pedagang.

Meski harga telur mengalami penurunan signifikan, para pedagang mengaku pembeli justru masih sepi.

Pasokan Melimpah, Pembeli Justru Berkurang

"Sudah dua bulan ini harga telur turun drastis. Penyebabnya karena stok melimpah dari Sidrap," kata seorang pedagang, Maryani, kepada wartawan.

Ia menjelaskan, penurunan harga telur dipicu oleh melimpahnya pasokan dari Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap), Sulawesi Selatan.

Menurut Maryani, suplai telur dari Sidrap cukup banyak atau mengalami overproduksi sehingga harga jual menjadi lebih murah.

Meski harga mengalami penurunan, aktivitas jual beli telur justru masih sepi dan belum menunjukkan peningkatan.

"Pembeli juga malah sepi, tidak ada peningkatan. Kalau faktor karena Makan Bergizi Gratis (MBG) libur, saya rasa pengaruhnya hanya sedikit," ungkapnya.

Ia menilai program Makan Bergizi Gratis (MBG) tidak terlalu berdampak terhadap turunnya harga telur.

Sebab, menurut Maryani, harga telur sudah mengalami penurunan sejak dua bulan terakhir.

Kondisi tersebut terjadi jauh sebelum program MBG memasuki masa libur sekolah, ketika menu makanan masih rutin menyajikan olahan telur.

"Sekarang produksi telur melimpah di peternak, sementara pembeli berkurang. Itu yang jadi penyebabnya," ujar Maryani. (*)

Laporan Wartawan Tribun-Sulbar.com, Fahrun Ramli

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.