TRIBUNTRENDS.COM - Sorotan publik terhadap Badan Gizi Nasional (BGN) beserta pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) masih terus berlanjut. Tidak hanya kebijakannya, perilaku para pimpinan lembaga tersebut juga menjadi perhatian.
Perhatian itu kembali mengemuka setelah Ketua BGN, Nanik S Deyang, mendatangi Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) di Gedung Merah Putih, Jakarta Selatan, pada Selasa (7/7/2026).
Pertemuan antara pimpinan BGN dan lembaga antirasuah tersebut berlangsung sekitar dua jam.
Namun, usai agenda selesai, keberadaan Nanik S Deyang justru menjadi tanda tanya.
Sosok Ketua BGN itu tidak terlihat menemui awak media setelah keluar dari gedung KPK.
Kondisi tersebut memunculkan berbagai pertanyaan mengenai keberadaannya.
Upaya wartawan untuk meminta penjelasan kepada jajaran pimpinan BGN lainnya juga belum membuahkan hasil.
Baca juga: 2 Jam Pertemuan di Gedung KPK, Kepala BGN Nanik S Deyang Menghilang, Bocorkan soal Kerja Sama
Pertanyaan terkait keberadaan Nanik S Deyang tidak mendapat tanggapan.
Di sisi lain, perhatian terhadap program Makan Bergizi Gratis juga datang dari daerah.
Kali ini, giliran para mitra pengelola MBG di Kota Surabaya yang bersiap menyampaikan aspirasinya.
Ratusan peserta yang tergabung dalam DPD Himpunan Mitra Dapur Generasi Emas (HMD-Gemas) Kota Surabaya dijadwalkan menggelar aksi unjuk rasa pada Rabu (8/7/2026).
Aksi tersebut akan dipusatkan di depan Gedung Grahadi, Jalan Gubernur Suryo, Surabaya, mulai pagi hari.
Berdasarkan selebaran resmi yang beredar, kegiatan itu akan dikemas dalam konsep "Parade Nasional Gerakan Pendukung".
Aksi tersebut disebut menjadi wadah bagi para mitra untuk menyampaikan aspirasi terkait pelaksanaan program MBG di lapangan.
Hingga menjelang pelaksanaan demonstrasi, perhatian publik masih tertuju pada perkembangan isu yang melibatkan BGN, baik di tingkat pusat maupun daerah.
Di Jakarta, pertemuan Ketua BGN dengan KPK masih menyisakan tanda tanya karena belum ada penjelasan mengenai kepergiannya usai agenda selesai.
Sementara itu, di Surabaya, ratusan mitra dapur MBG bersiap turun ke jalan untuk menyuarakan aspirasi mereka.
Dua peristiwa yang terjadi dalam waktu berdekatan tersebut semakin menempatkan BGN dan program Makan Bergizi Gratis dalam sorotan publik.
Perkembangan lebih lanjut mengenai hasil pertemuan di KPK maupun aksi massa di Surabaya masih dinantikan.
Pihak panitia telah mengimbau setiap yayasan atau SPPG untuk mengirimkan relawannya dengan membawa bekal makanan sendiri.
Jalannya aksi ini nantinya akan dikomandoi secara terukur oleh tiga koordinator lapangan (korlap) yang telah ditunjuk resmi oleh organisasi.
Aksi turun ke jalan ini dipicu kekhawatiran para pemilik dapur atau Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) terhadap keberlangsungan dan tata kelola program nasional tersebut.
Sebagai pihak yang memproduksi dan mendistribusikan makanan, mereka merasa sangat terdampak oleh regulasi terbaru pemerintah.
"Kami mendukung MBG," tegas Ketua DPD HMD-Gemas Kota Surabaya, Bagiyon, saat memberikan konfirmasi pada Selasa (7/7/2026) sore.
Namun, dirinya menyayangkan adanya kebijakan penghentian operasional sementara yang dinilai merugikan ekosistem dapur piringan emas tersebut.
Baca juga: Ditemani 2 Wakil Kepala BGN, Nanik S Deyang Datangi KPK, Benarkah Terkait Kasus Korupsi MBG?
Saat ini, tercatat ada total 133 SPPG yang tersebar di seluruh wilayah Kota Surabaya untuk menyuplai kebutuhan pangan bergizi di tiap-tiap sekolah.
Ketika memasuki masa liburan sekolah, aktivitas produksi mereka dipaksa berhenti total.
Kondisi ini tidak hanya mematikan aktivitas ekonomi pemilik SPPG, tetapi juga memutus mata rantai pasokan bahan baku dari para supplier lokal.
Bagiyon menyebut para mitra kini dalam kondisi lumpuh atau "step".
Padahal, sebagai pelaku usaha, mereka sangat bergantung pada insentif harian sebesar Rp 6 juta per hari yang biasa dikucurkan pemerintah untuk memutar roda operasional dan menggaji karyawan serta relawan.
"Saat dihentikan, semua kelimpungan. Supplier mandeg," tambah Bagiyon menceritakan dampak nyata di lapangan.
Dalam aksi yang bertajuk "Aksi Damai Serentak Nasional Dukung MBG" ini, HMD-Gemas Surabaya membawa sejumlah poin tuntutan krusial.
Tuntutan utama mereka adalah mendesak pemerintah segera mencabut Surat Edaran (SE) Kepala BGN Nomor 12/2026.
Sebagai informasi, SE 12/2026 yang diterbitkan pada 17 Juni 2026 tersebut merupakan aturan yang melandasi penyetopan sementara penyaluran makanan MBG serta pembekuan insentif harian Rp 6 juta bagi SPPG selama periode libur sekolah dan libur nasional.
Selain menolak SE tersebut, para pengelola dapur mendesak pemerintah agar tidak mengorbankan nasib relawan dan pekerja dapur. Mereka menuntut adanya kepastian hukum jangka panjang, keterlibatan aktif mitra sebagai pelaksana utama program, serta sistem tata kelola anggaran yang jauh lebih transparan.
Nanik tiba di Gedung KPK bersama Wakil Ketua BGN Agustina Arumsari dan Mayjen (Purn) TNI Trenggono pada pukul 10.34 WIB.
Rombongan pimpinan BGN ini menumpangi dua mobil hitam dan kompak mengenakan kemeja putih berlengan panjang.
Deputi Pencegahan dan Monitoring KPK Aminudin langsung menyambut kedatangan mereka dan mengajak ketiganya berjalan menuju lift.
Awak media yang berjaga di lokasi sempat menanyakan tujuan kehadiran para petinggi BGN tersebut ke KPK.
Nanik merespons singkat bahwa mereka datang untuk menjalin kolaborasi antarlembaga.
"Kerja sama," kata Nanik.
Menimpali ucapan Ketua BGN, Trenggono juga memberikan komentar singkat kepada wartawan sebelum rombongan memasuki ruangan.
"Nanti ya," ucap Trenggono.
Pimpinan BGN memang menjadwalkan audiensi khusus dengan pimpinan KPK dan Deputi Pencegahan KPK pada hari tersebut.
Mereka membahas sinergi pengawasan dan pencegahan korupsi di lingkungan BGN.
Pertemuan antara KPK dan BGN akhirnya selesai pada pukul 12.44 WIB.
Namun, awak media menyoroti sebuah kejadian menarik ketika sesi tanya jawab berlangsung.
Pihak BGN yang awalnya datang bertiga tidak kembali turun secara utuh.
Hanya Wakil Ketua BGN Agustina Arumsari yang tampil mendampingi Aminudin menemui para wartawan.
Nanik S Deyang dan Trenggono sama-sama tidak menampakkan diri lagi ke hadapan publik.
Para jurnalis langsung menanyakan alasan Nanik dan Trenggono tidak ikut serta dalam sesi wawancara tersebut kepada Agustina.
Sayangnya, Agustina mengabaikan pertanyaan awak media dan sama sekali tidak memberikan jawaban mengenai keberadaan atasannya.
Setelah sesi keterangan pers usai, Agustina bergegas melangkah pergi dan meninggalkan area Gedung KPK.
(TribunTrends/Tribunnews)