TRIBUNMATARAMAN.COM, KEDIRI - Di tengah tekanan ekonomi global dan dinamika geopolitik yang masih berlangsung, sektor jasa keuangan Indonesia menunjukkan daya tahan yang cukup kuat. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai stabilitas sektor jasa keuangan tetap terjaga dan mampu menjadi modal penting untuk mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.
Salah satu indikator positif terlihat dari kinerja industri perbankan yang terus menjalankan fungsi intermediasi untuk mendukung kebutuhan masyarakat dan dunia usaha. Hingga Mei 2026, penyaluran kredit perbankan tercatat mencapai Rp8.918 triliun atau tumbuh 11,51 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Pertumbuhan kredit tersebut menjadi angin segar bagi pelaku usaha, mulai dari sektor korporasi hingga masyarakat yang membutuhkan akses pembiayaan untuk mengembangkan bisnis. Kredit investasi menjadi jenis pembiayaan dengan pertumbuhan tertinggi mencapai 21,95 persen, disusul kredit modal kerja sebesar 8,09 persen.
Bagi pelaku usaha kecil dan menengah, keberlanjutan akses pembiayaan menjadi salah satu faktor penting untuk menjaga aktivitas ekonomi. OJK mencatat kredit UMKM masih berada dalam tren positif dengan pertumbuhan 0,60 persen secara tahunan pada Mei 2026.
Baca juga: Lahan Bambu Seluas 1.500 Meter Persegi di Trenggalek Terbakar
"Intermediasi perbankan meningkat dengan profil risiko yang terjaga. Kredit tumbuh sebesar 11,51 persen yoy menjadi sebesar Rp8.918 triliun," kata Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Friderica Widyasari Dewi dalam keterangan tertulis yang diterima, Rabu (8/7/2026).
Ia mengatakan, selain penyaluran kredit, kepercayaan masyarakat terhadap industri perbankan juga tercermin dari pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK). Pada Mei 2026, DPK perbankan mencapai Rp10.294 triliun atau tumbuh 13,49 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Dari sisi risiko, kondisi industri perbankan nasional masih terjaga. Rasio kredit bermasalah atau Non Performing Loan (NPL) gross berada di level 2,17 persen, sementara permodalan perbankan tetap kuat dengan rasio kecukupan modal (CAR) sebesar 23,74 persen.
"Tidak hanya perbankan, sektor pasar modal juga tetap berperan sebagai sumber pembiayaan jangka panjang bagi perusahaan. Hingga akhir Juni 2026, penghimpunan dana korporasi melalui pasar modal mencapai Rp112,67 triliun melalui berbagai aksi korporasi seperti penawaran umum saham perdana, obligasi, hingga sukuk," jelasnya.
Dari sisi masyarakat, minat terhadap investasi juga terus meningkat. Jumlah investor pasar modal domestik bertambah 1,21 juta investor sepanjang Juni 2026, sehingga total investor mencapai 28,96 juta atau tumbuh 42,22 persen secara tahunan berjalan.
Penguatan ekonomi digital juga mulai membuka peluang baru. OJK mencatat terdapat 25 penyelenggara inovasi teknologi sektor keuangan yang telah resmi terdaftar, dengan layanan tersebut turut memperluas akses masyarakat terhadap produk dan layanan keuangan.
Namun, OJK tetap mengingatkan masyarakat agar meningkatkan pemahaman dalam mengelola keuangan. Hingga 25 Juni 2026, berbagai program edukasi keuangan telah menjangkau lebih dari 10,8 juta peserta melalui ribuan kegiatan literasi keuangan di berbagai daerah.
"Dengan kondisi sektor jasa keuangan yang tetap solid, OJK berharap industri keuangan dapat terus menjadi penggerak aktivitas ekonomi masyarakat, membantu pelaku usaha bertahan sekaligus membuka peluang pertumbuhan baru di tengah tantangan ekonomi global," ujarnya.
(Luthfi Husnika/TribunMataraman.com)