TRIBUNNEWSMAKER.COM - Suasana di kediaman Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi mendadak berubah haru saat seorang ibu asal Bojonggede, Kabupaten Bogor, datang membawa kisah pilu.
Perempuan bernama Rubiatul Adawiyah itu tak kuasa membendung air mata ketika akhirnya berhadapan langsung dengan Dedi Mulyadi pada Selasa (7/7/2026).
Tangisan tersebut pecah setelah ia mendapat kesempatan menceritakan persoalan yang selama berbulan-bulan membebani pikirannya.
Aksi penganiayaan itu dilakukan terduga pelaku di rumahnya.
Awalnya korban mendatangi rumah mantan pacarnya karena kesal selalu diganggu.
Korban dan terduga pelaku sudah putus hubungan sejak Desember 2025.
Baca juga: Mantan ART Rien Wartia Beri Syarat Damai, Eks Istri Andre Taulany Jadi Tersangka Kasus Penganiayaan
Namun pada Februari 2026, terduga pelaku masih meneror korban karena tahu korban sudah didekati pria lain.
Tak disangka, kedatangan anak Rubi ke rumah mantan pacarnya itu justru berbuah petaka.
"Anakku datang ke rumah pelaku jam 6 pagi (bilang) 'tolong jangan ganggu saya lagi', tapi ternyata rebutan handphone. Anakku pengin hapus nomornya (di hp mantan). Di pelaku tidak terima, anakku langsung dibenturkan kepalanya ke tembok, ditonjok berulang," imbuh Rubi sembari berurai air mata.
Bukan cuma dihajar, putri Rubi juga dicekik sampai hampir meninggal.
Lebih lanjut, Rubi mengungkap bentuk penganiayaan yang diterima sang putri.
Korban kepalanya dibenturkan ke tembok secara berulang kali lalu pipinya ditonjok.
Akibat kejadian tersebut, anak Rubi mengalami luka serius di bagian mulut yakni rahangnya bergeser.
"Anak ibu dianiaya gimana?" tanya Dedi.
"Kepalanya dibenturkan di tembok, kepalanya rembes darah. Pipinya ditonjok. Rahangnya sekarang masih geser," ungkap Rubi.
"Sudah dioperasi?" tanya Dedi.
"Belum," kata Rubi.
Kejadian tersebut terjadi di pertengahan Februari 2026.
Setelah kejadian, Rubi pun melapor ke Polsek Bojonggede.
Namun kasus tersebut tak ditangani dengan baik.
"Sudah divisum?" tanya Dedi.
"Sudah. Tapi hasil visumnya berbeda dengan luka-luka anak saya," pungkas Rubi sembari menangis.
"Visumnya di mana?" tanya Dedi.
"Di RSUD Cibinong," ujar Rubi.
"Masa visum beda?" tanya Dedi heran.
"Kami punya foto-foto dan videonya. Tapi visum menyatakan bahwa anak saya tidak ada luka di kepala di pipi, cuma ada luka di kaki," jelas Rubi.
"RSUD visumnya? visum waktu itu kehendak sendiri atau?" tanya Dedi lagi.
"Rujukan dari Polsek," imbuh Rubi.
Bukan cuma hasil visum yang janggal, Rubi juga bercerita bahwa terduga pelaku belum diperiksa oleh penyidik.
Yang membuat Rubi kian pilu adalah saat ia diminta oleh penyidik untuk mencabut laporan.
Mendengar cerita Rubi, Dedi Mulyadi gusar.
"Penyidik lama meminta saya untuk mencabut laporan," kata Rubi.
"Foto-foto waktu awal dianiaya?" tanya Dedi.
"Ada, fotonya lengkap," jawab Rubi.
"Apa yang menjadi hambatan proses ini sampai diminta cabut laporan?" tanya Dedi lagi.
"Penyidik pertama mengatakan ini kekerasan tindak pidana ringan jadi tidak perlu ditahan paling sehari dua hari, jadi enggak perlu dilanjut," ungkap Rubi.
"Oh enggak bisa, ini anak di bawah umur, yang menganiayanya dewasa," kata Dedi.
Mendengar cerita Rubi, Dedi Mulyadi langsung bertindak.
Gubernur yang karib disapa KDM itu mengaku akan menghubungi Wali Kota Depok hingga Kapolres Metro Depok agar kasus penganiayaan yang dialami putri Rubi segera ditangani.
Hal yang membuat Dedi kian kesal adalah saat mengetahui kondisi terkini korban.
Bukan cuma dapat luka fisik, Rubi bercerita bahwa anaknya kini mengalami gangguan psikologis hingga harus minum obat dari rumah sakit jiwa.
"Sekarang anaknya terganggu psikologisnya, harus minum obat dari rumah sakit jiwa," akui Rubi.
(Tribunnewsmaker.com/ TribunnewsBogor/ Khairunnisa)