Warga Wates Kulon Progo Keluhkan Kebijakan Larangan Sampah Organik, Dinilai Terlalu Memaksakan
Hari Susmayanti July 08, 2026 03:14 PM

 

TRIBUNJOGJA.COM, KULON PROGO - Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Banyuroto di Kapanewon Nanggulan, Kulon Progo diputuskan tidak lagi menerima sampah organik mulai 1 Juli 2026.

Keputusan ini didasarkan pada Surat Edaran (SE) Bupati Kulon Progo tentang Pengelolaan Sampah Skala Kawasan.

Adanya kebijakan ini dikeluhkan oleh warga Kulon Progo, khususnya warga Kapanewon Wates. Salah satunya adalah F, yang menilai kebijakan itu terlalu mendadak diberlakukan.

"Sedangkan untuk yang tinggal di wilayah perkotaan seperti di Wates, akan sulit mengolah sampah karena lahan terbatas," kata F pada Rabu (08/07/2026).

F tinggal di kawasan permukiman padat, dengan jumlah penduduk bisa mencapai 60 sampai 70 Kepala Keluarga (KK) dalam 1 Rukun Tetangga (RT).

Padatnya permukiman membuat warga nyaris tak ada tempat untuk mengolah sampah secara mandiri.

Apalagi ia mengatakan di wilayahnya sampai saat ini belum ada Bank Sampah atau Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS 3R).

Sejak kebijakan itu diberlakukan, warga juga masih mengolah sampah secara mandiri, belum komunal.

"Sudah ada inisiatif untuk membuat komposter atau membakar sampah pakai alat khusus, tapi kalau dibakar akan mengganggu kenyamanan warga," ujar F.

Ia berharap agar Pemkab Kulon Progo mengkaji lagi kebijakan tersebut. Terutama untuk menundanya agar ada waktu bagi warga menyiapkan cara pengolahan sampah organik yang tepat.

A, warga Wates lainnya mengatakan sosialisasi sudah disampaikan lewat Ketua RT beberapa minggu sebelum kebijakan resmi berlaku. Namun ia menilai kebijakan itu terlalu memaksakan.

"Warga diimbau untuk mengolah sampah organik, tapi kenyataannya warga tidak memiliki pengetahuan, waktu, hingga lahan untuk itu," kata A.

Selain itu, tak semua permukiman di Wates terakomodasi oleh layanan TPS 3R atau Bank Sampah. Alhasil, warga kini kebingungan untuk membuang sampah organik seperti sisa sayur, bekas nasi, kulit telur, hingga kulit buah.

A menilai kebijakan yang dibuat Pemkab Kulon Progo justru akan membuat warga memilih cara mudah untuk mengolah sampah organik, yaitu dengan membakarnya. Padahal, perilaku tersebut sudah dilarang.

"Dulu warga diminta tidak membakar sampah, tapi kalau sekarang bingung nanti warga bisa membakar sampah lagi," jelasnya.

Baca juga: HUT Ke-195 Kabupaten Bantul, Bupati Abdul Halim Resmikan 4 Proyek Infrastruktur Strategis

Tips Mengolah Sampah Organik

Mengolah sampah organik di rumah sebenarnya tidak sesulit yang dibayangkan.

Kuncinya adalah konsistensi dan memahami keseimbangan bahan.

Sampah organik yang diolah dengan benar tidak akan menimbulkan bau busuk yang menyengat, melainkan aroma segar seperti tanah basah.

Berikut adalah panduan praktis dan tips efektif untuk mengolah sampah organik rumah tangga:

1. Kelompokkan Sampah Organik Anda

Sebelum mulai mengolah, Anda harus tahu bahwa sampah organik terbagi menjadi dua kelompok besar. Keseimbangan kedua kelompok ini adalah kunci keberhasilan pengomposan:

  • Unsur Hijau (Kaya Nitrogen): Sisa sayuran, kulit buah, potongan rumput segar, sisa makanan, dan ampas kopi/teh.
  • Unsur Cokelat (Kaya Karbon): Daun kering, ranting kecil, kertas koran bekas (tanpa tinta warna), kardus cokelat potongan kecil, sekam padi, dan serutan kayu.
  • Rasanya yang Ideal: Gunakan perbandingan 1 bagian unsur hijau : 2 bagian unsur cokelat. Jika kompos terlalu basah atau bau, tambahkan unsur cokelat. Jika terlalu kering dan tidak kunjung membusuk, tambahkan unsur hijau atau sedikit air.

2. Pilih Metode Pengolahan yang Sesuai

Anda bisa memilih metode di bawah ini tergantung pada lahan dan waktu yang Anda miliki:

  • Metode Komposter Ember/Tong (Cocok untuk Lahan Sempit)

Sediakan ember besar yang bagian bawahnya diberi lubang kecil untuk mengalirkan kelebihan air (air lindi).

Cacah sampah hijau (sisa dapur) menjadi ukuran kecil (1–2 cm) agar lebih cepat busuk.

Masukkan secara berselang-seling: lapisan daun kering (cokelat), lalu lapisan sisa dapur (hijau).

Semprotkan sedikit bioaktivator (seperti cairan EM4 yang dilarutkan air) untuk mempercepat pembusukan.

Tutup rapat dan aduk seminggu sekali. Dalam 4–6 minggu, kompos siap panen.

  • Metode Lubang Biopori (Sangat Baik untuk Resapan Air)

Buat lubang silindris secara vertikal ke dalam tanah dengan diameter 10 cm dan kedalaman sekitar 100 cm.

Lapisi mulut lubang dengan pipa PVC agar tidak longsor.

Masukkan sampah organik dapur secara berkala ke dalam lubang tersebut hingga penuh. Sampah akan menyusut dengan sendirinya dibantu oleh cacing tanah.

3. Rahasia Sukses "Anti-Bau" dan "Anti-Lalat"

Dua masalah utama saat mengolah sampah di rumah adalah bau tidak sedap dan datangnya lalat/belatung. Ini cara mengatasinya:

  • Selalu Tutup Lapisan Atas: Setiap kali Anda memasukkan sampah dapur (hijau), wajib menutupnya kembali dengan lapisan daun kering, tanah, atau sekam (cokelat) di bagian paling atas. Ini akan mengunci bau dan mencegah lalat bertelur.
  • Jaga Kelembapan (Jangan Becek): Kompos yang baik harus terasa seperti spons basah yang sudah diperas—lembap tapi tidak meneteskan air. Jika terlalu becek, sirkulasi udara terhenti (kondisi anaerob) dan memicu bau busuk.
  • Hindari Bahan Tertentu: Jangan masukkan daging, tulang, sisa minyak/lemak, produk susu, kotoran hewan peliharaan, atau tanaman yang terkena penyakit ke dalam komposter rumahan biasa karena memicu bau menyengat dan mengundang tikus. (*alx)


 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.