RIBUNKALTARA.COM, TARAKAN- Proses pengerukan sedimentasi di depan dermaga Pelabuhan Malundung Tarakan Kalimantan Utara akhirnya rampung, setelah dikerjakan selama kurang lebih 11 bulan.
Dengan selesainya pekerjaan tersebut, kapal penumpang milik Pelni kini sudah dapat bersandar di dermaga penumpang tanpa harus berbagi tempat dengan kapal peti kemas.
General Manager PT Pelindo Regional 4 Tarakan, Amrullah, yang dikonfirmasi Rabu (8/7/2026) mengatakan progres pengerukan telah mencapai 100 persen dan telah dilaporkan kepada Kantor Syahbandar dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) serta Distrik Navigasi.
"Nah kemarin sekitar 11 bulan kami selesaikan pengerukan. Per pekan kemarin kapal Pelni Tol Laut Logistik Nusantara sudah bisa sandar di dermaga 2 dan 3. Jadi pada saat ada kapal peti kemas kapal Pelni itu nggak perlu bersandar lagi di tempat peti kemas," ujar Amrullah.
Baca juga: Dishub Tana Tidung Siapkan Dermaga Apung di Pelabuhan Sesayap Hilir, Antisipasi Limbah Kayu
Ia menjelaskan, usai pekerjaan selesai, Pelindo langsung menggelar rapat bersama KSOP dan Distrik Navigasi untuk menyampaikan bahwa progres pekerjaan telah mencapai 100 persen.
"Jadi kemarin kami baru selesai rapat dengan syahbandar dan navigasi untuk menyampaikan progres 100 persen. Jadi per kemarin kami sudah rapat dengan syahbandar dan navigasi untuk menyampaikan progres 100 persen," bebernya
Adapun lanjutnya, kemarin sudah dilakukan survei bathimetri menggunakan alat single beam ecosonder bersama dengan pihak KSOP dan navigasi untuk memvalidasi laporan 100 persen pengerjaan." Itu untuk menentukan bahwa semua kedalaman di kolam kami atau di face line dermaga itu sudah sesuai dengan bestek pekerjaan," katanya.
Menurut Amrullah, sebelum dilakukan pengerukan, kedalaman minimum atau Mean Low Water Springs (MLWS) di sepanjang dermaga bervariasi, sehingga tidak seluruh sisi dermaga dapat dimanfaatkan secara optimal.
"Kalau sebelumnya MLWS-nya itu bervariasi dari dermaga 0 sampai 250 itu bervariasi dari 2,5 sampai dengan 7 meter. Nah hasil pengerukan ini kami semua ratakan sampai dengan 7 meter pada dermaga 2 dan 3. Jadi semua face line dermaga kami sampai dengan 45 meter di depan dermaga itu sudah MLWS-nya minus 7 dihitung pada kondisi air laut surut terendah," jelasnya.
Baca juga: Transisi Kewenangan Berjalan, KSOP Nunukan Fokus Benahi Perizinan Dermaga Tradisional
Dengan kedalaman tersebut, kapal Pelni kini sudah memenuhi syarat untuk bersandar di Dermaga 2 maupun Dermaga 3.
"Kapal Pelni MLWS-nya itu butuh draft sekitar 6 meter. Jadi dengan kedalaman existing hasil pengerukan minus 7, kapal Pelni sudah bisa bersandar di dermaga 2 maupun di dermaga 3. Sudah standar untuk kapal Pelni ya. Karena kapal semakin besar size-nya semakin butuh kedalaman yang memadai," katanya.
Amrullah menambahkan, kapal peti kemas berukuran besar bahkan membutuhkan kedalaman lebih dalam lagi.
"Contohnya di kapal peti kemas sampai butuh kedalaman itu 9 meter. Karena kapasitas kapalnya itu bisa sampai mendekati 1.000 kontainer, jelasnya.
Saat ini lanjutnya, masih proses serah terima dari vendor pekerjaan kepada Pelindo Regional 4 dan apabila telah disetujui oleh KSOP dan serah terima dari Pelindo Regional 4, pekerjaan atau dermaga ini sudah bisa difungsikan sebagaimana mestinya.
"Jadi kapal Pelni sandar di dermaga khusus penumpang, sedangkan kapal peti kemas itu sandar di dermaga peti kemas. Jadi tidak ada lagi antrean yang menyebabkan saling tunggu antara kapal barang, Pelni dan general cargo maupun peti kemas," ungkapnya.
Terkait material hasil pengerukan, Amrullah menyebut sebagian besar berupa lumpur akibat tingginya sedimentasi di perairan Kalimantan Utara.
Material keruk rata-rata lumpur tambahnya. Ada juga batu-batu kecil, namun overall lumpur. Dimana sedimentasi ini muncul dari aktivitas pasang surut dan beberapa muara sungai kita di perairan Kaltara yang dinilai sangat ekstrem.
"Pasang surut di sini 3,8 meter. Nah ini yang membuat arus bawah sangat kuat sehingga sedimentasi tinggi. Ditambah ada aktivitas sungai di dekatnya yang membawa endapan ke arah laut melewati pelabuhan kita, termasuk juga ada risiko operasional dari kegiatan bongkar muat curah " pungkasnya.
(*)
Penulis: Andi Pausiah