Laporan Kontributor Tribunjabar.id Pangandaran, Padna
TRIBUNPRIANGAN.COM, PANGANDARAN - Petani kelapa di Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat, masih menghadapi tekanan akibat anjloknya harga jual kelapa yang telah berlangsung selama lebih dari lima bulan.
Kondisi itu membuat pendapatan petani merosot drastis dan memicu kekhawatiran terhadap keberlangsungan usaha perkebunan kelapa.
Saat ini, harga kelapa di tingkat petani hanya berkisar Rp 1.700 hingga Rp 2.000 per butir. Angka itu jauh di bawah harga normal yang sebelumnya mampu mencapai Rp 4.000 hingga Rp 6.000 per butir.
Seorang petani kebun kelapa asal Kecamatan Kalipucang, Aan (55), mengaku panen kelapa kini tidak lagi menjadi sumber penghasilan yang menjanjikan.
Baca juga: 406 KK di Pangandaran Terdampak Kekeringan, BPBD Salurkan 15.000 Liter Air Bersih
Menurutnya, rendahnya harga membuat hasil panen tidak sebanding dengan biaya dan tenaga yang dikeluarkan.
"Sudah sekitar lima bulan lebih harganya masih murah. Sekarang saya jual ke bakul paling Rp 1.700 per butir. Kalau dulu bisa mencapai Rp 4.000 sampai Rp 6.000 per butir," ujar Aan kepada Tribun Jabar di pekarangan rumahnya, Rabu (8/7/2026) siang.
Akibat anjloknya harga, pendapatan Aan dari panen kelapa yang dilakukan setiap dua bulan sekali turun lebih dari 50 persen.
Jika sebelumnya Ia mampu memperoleh sekitar Rp 1,5 juta setiap panen, kini hasil yang diterima paling banyak sekitar Rp 600 ribu.
Ia berharap, harga kelapa segera kembali normal karena komoditas tersebut menjadi sumber utama pendapatan keluarganya.
Sementara itu, seorang pengepul kelapa di Kecamatan Padaherang, Marsudin, menilai murahnya harga kelapa dipengaruhi terganggunya jalur ekspor ke pasar Timur Tengah.
Menurutnya, sebelum konflik bersenjata di kawasan tersebut memanas, permintaan ekspor masih berjalan baik sehingga harga kelapa di tingkat petani cenderung stabil bahkan sempat meningkat.
"Kalau dulu sebelum ada perang Iran, harga kelapa masih normal bahkan naik karena bisa kirim barang ke pasar Timur Tengah. Tapi sekarang tidak bisa," katanya.
Ia berharap, situasi geopolitik segera membaik agar aktivitas ekspor kembali normal dan harga kelapa di tingkat petani kembali pulih.
"Ya, mudah mudahan mah harganya cepat normal lagi. Kasihan juga petani," ucap Marsudin. (*)