Mahasiswa ITS Ciptakan Gantari sebagai Blind Box Edukasi Budaya Pertama
Cak Sur July 08, 2026 04:32 PM

SURYA.CO.ID, SURABAYA - Dua mahasiswa Desain Komunikasi Visual (DKV) Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) di Surabaya, Jawa Timur (Jatim), menciptakan Gantari, produk blind box lokal bermuatan edukasi budaya Nusantara pertama di Indonesia untuk menarik minat generasi muda.

Inovasi ini digagas oleh I Nyoman Panji Wiradinata dan Teuku Ariq Musyaffa, mahasiswa angkatan 2023.

Mereka merancang Gantari sebagai alternatif mainan koleksi di tengah gempuran produk impor.

GANTARI - Blind box lokal bernama Gantari buatan mahasiswa Departemen Desain Komunikasi Visual (DKV) Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Surabaya, Jawa Timur.
GANTARI - Blind box lokal bernama Gantari buatan mahasiswa Departemen Desain Komunikasi Visual (DKV) Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Surabaya, Jawa Timur. (istimewa)

Memadukan Tren Modern dengan Budaya Lokal

Menurut Panji Wiradinata, ide pembuatan Gantari lahir dari keinginan untuk memperkenalkan kekayaan Nusantara lewat tren yang digandrungi anak muda saat ini.

"Kami ingin memperkenalkan budaya lokal dengan cara terkini," ujar Panji pada Rabu (8/7/2026).

Konsep Cultural Blind Box yang diusung Gantari memadukan keunikan art toys dengan pakaian adat dari berbagai daerah di Indonesia.

Karakter utama diwakili oleh dua maskot kucing lucu bernama Taka dan Tara.

Detail Karakter dan Sistem Kelangkaan

Pada seri perdana, Gantari meluncurkan enam karakter yang merepresentasikan pakaian adat dari:

  • Sumatra Barat
  • Kalimantan Tengah
  • DKI Jakarta
  • Sulawesi Selatan
  • Bali
  • Kalimantan Barat

Untuk meningkatkan daya tarik kolektor, Gantari mengadopsi sistem tingkat kelangkaan, yaitu Common, Rare, dan Secret.

"Gantari hadir mengisi kekosongan pasar mainan koleksi berbasis budaya lokal," kata Teuku Ariq Musyaffa menambahkan.

Proses Produksi dan Rencana Masal

Prototipe Gantari saat ini memiliki tinggi 13,5 sentimeter dan dibuat dari bahan resin solid. Detail setiap pakaian adat dikerjakan secara manual dengan tingkat presisi tinggi.

"Pewarnaan menggunakan cat akrilik dan airbrush, sedangkan detail pakaian adat menggunakan kuas mikro berukuran 0,1 milimeter," jelas Ariq.

Setiap kemasan juga dilengkapi kartu cerita mini dan kartu ilustrasi yang memuat cerita rakyat terkait pakaian adat tersebut.

Di masa depan, Gantari akan diproduksi massal menggunakan bahan PVC dan diproyeksikan dijual seharga Rp159.000 per unit.

Inovasi Gantari membuktikan bahwa mainan modern dapat menjadi media edukasi budaya yang efektif dan interaktif bagi generasi muda Indonesia.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.