BPOM Bawa Kabar Baik, RI Bakal Punya Vaksin mRNA Dengue Pertama di Dunia
GH News July 08, 2026 05:09 PM
Jakarta -

Indonesia berpeluang mencetak sejarah dalam pengembangan vaksin. Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) mengungkap Indonesia tengah mengembangkan vaksin mRNA untuk demam berdarah dengue (DBD), diklaim berpotensi menjadi yang pertama di dunia.

Kepala BPOM RI Taruna Ikrar mengatakan pihaknya berkomitmen mendukung penuh pengembangan vaksin tersebut hingga dapat memasuki tahap uji klinis dan nantinya digunakan masyarakat.

"Dalam hal pengembangan vaksin, BPOM punya tekad untuk secara maksimal melakukan apa yang bisa kita lakukan karena ini kita akan buat sejarah, mRNA vaccine pertama di dunia untuk penyakit demam berdarah," kata Taruna dalam konferensi pers Rabu (8/7/2026).

Menurut Taruna, pengembangan vaksin dengue menjadi sangat penting mengingat hingga kini belum ada terapi yang benar-benar spesifik untuk mengatasi penyakit tersebut.

Ia pun mengenang pengalamannya saat menjalani pendidikan spesialis di University of California, Irvine. Saat itu, ia menangani seorang pasien yang terinfeksi dengue sepulang dari Asia Tenggara.

"Banyak rekan saya di sana belum memiliki pengalaman menangani penyakit tersebut. Tetapi saya teringat pengalaman bekerja di Indonesia, termasuk saat bertugas di puskesmas, di mana kami cukup sering menangani pasien demam berdarah," ujarnya.

Menurut Taruna, penanganan dengue pada dasarnya berfokus menjaga demam tetap terkendali dan mencegah dehidrasi. Pendekatan tersebut berhasil diterapkannya hingga pasien dapat pulih.

Pengalaman itu, kata Taruna, menunjukkan Indonesia merupakan tempat yang sangat strategis untuk pengembangan riset dengue karena tingginya jumlah kasus membuat tenaga kesehatan dan peneliti Indonesia memiliki pengalaman klinis yang sangat berharga.

"Kalau ini bisa berhasil bukan hanya Tsinghua University dan Universitas Indonesia, tapi juga seluruh dunia akan berdampak," katanya.

Taruna menegaskan peluncuran prototipe vaksin mRNA dengue yang dilakukan saat ini masih menjadi langkah awal. Vaksin tersebut masih harus melalui serangkaian pengujian, terutama uji klinis, sebelum dapat digunakan secara luas.

Sebagai regulator, lanjutnya, BPOM akan memastikan setiap vaksin yang beredar memenuhi tiga syarat utama, yakni terbukti aman, efektif, dan diproduksi dengan standar mutu yang baik.

Meski demikian, BPOM tidak ingin regulasi justru menghambat lahirnya inovasi.

"Jangan tunggu Badan POM sebagai tukang stempel, libatkan dari awal," tegas Taruna.

Hasil Praklinis Menjanjikan

Sementara itu, pemimpin peneliti dari Etana Biotechnologies Indonesia Beti Ernawati Dewi mengatakan vaksin saat ini masih berada pada tahap uji praklinis.

Meski begitu, hasil awal menunjukkan respons imun yang cukup menjanjikan.

"Kita memang baru tahap pre-clinical trial, tetapi dari hasil uji praklinis yang kita lakukan ternyata titer antibodi untuk menetralisasi strain DBD di Indonesia jauh lebih baik dibandingkan vaksin komersial lain yang sudah ada di Indonesia," ujarnya.

Ia berharap dalam enam bulan ke depan penelitian dapat berlanjut ke pengujian efikasi pada subjek di Indonesia.

"Harapannya dalam waktu enam bulan ini kita bisa mencoba melihat efikasinya pada subjek yang ada di Indonesia dan semoga hasilnya seimbang juga dengan hasil pre-clinical trial," katanya.

Apabila seluruh tahapan penelitian berjalan sesuai rencana, vaksin tersebut berpotensi menjadi vaksin mRNA pertama di dunia untuk mencegah demam berdarah dan menjadi tonggak baru bagi pengembangan teknologi vaksin di Indonesia maupun dunia.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.