Karantina Tahfidz Al Masoem Ditutup, Liburan Sekolah Diisi Menghafal Al-Quran, Target Minimal 2 Juz
Dedy Herdiana July 08, 2026 05:35 PM

 

Laporan Kontributor Tribunjabar.id, Kiki Andriana 

TRIBUNPRIANGAN.COM, SUMEDANG – Program Karantina Tahfidz Al Ma'soem Angkatan kw-13 resmi ditutup usai digelar selama masa liburan sekolah di Yayasan Pendidikan Al Ma'soem, Cipacing, Jatinangor, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat.

Program yang diikuti 51 siswa dan siswi tingkat SD, SMP, dan SMA itu dirancang untuk mengisi liburan dengan kegiatan menghafal Al-Quran secara intensif. Selama mengikuti karantina, peserta ditargetkan mampu menambah hafalan minimal dua juz.

Pimpinan Pesantren Siswa Al Masoem Ustadz Asep Abdul Halim, menyampaikan, mengikuti Karantina Tahfidz bukanlah sebuah bentuk pengorbanan, melainkan investasi jangka panjang bagi masa depan anak.

"Ini bukanlah pengorbanan, tetapi investasi. Bukan hanya agar anak menjadi lebih pintar, tetapi juga memiliki bekal kehidupan yang lebih baik," ujarnya saat ditemui Tribun Janar.id, di Aula Ma'soem University,  Rabu (8/7/2026).

Baca juga: Dishub Sumedang Sebut Pengelolaan Parkir RS Harapan Keluarga Jatinangor Ilegal

Menurutnya, menjadi seorang penghafal Al-Quran bukanlah sebuah kebetulan, bukan pula semata-mata hasil kedisiplinan atau bahkan paksaan.

"Menjadi penghafal Al-Quran bukan kebetulan, bukan sekadar hasil pendisiplinan, apalagi hasil paksaan. Ini adalah tarbiyah dari Allah SWT sekaligus amanah yang sangat besar," katanya.

Ia menuturkan, amanah menjadi hafiz Al-Quran memiliki keutamaan yang sangat besar sebagaimana dijelaskan dalam hadis Rasulullah SAW.

"Dalam hadis disebutkan bahwa kelak kepada orang yang menghafal Al-Quran akan dikatakan, bacalah dan naiklah. Sebanyak ayat yang dibaca, sebanyak itu pula derajat yang Allah SWT angkat. Setiap huruf Al-Quran bernilai sepuluh kebaikan. Bayangkan berapa banyak pahala yang diperoleh ketika ribuan ayat dibaca setiap pekan," ucapnya.

Baca juga: Doa Untuk Timur Tengah dari Haul Al Masoem Cipacing Jatinangor Sumedang

Selain fokus pada hafalan Al-Quran, katanya, pesertaProgram Karantina Tahfidz Al Ma'soem juga tinggal di asrama sehingga pembinaan berlangsung secara menyeluruh.

Selama mengikuti karantina, kata Asep, peserta tidak hanya menjalani setoran dan murojaah hafalan, tetapi juga mengikuti berbagai kegiatan penunjang seperti memanah, berenang, dan berkuda sebagai bagian dari pembentukan karakter.

Ia mengatakan, pendidikan tahfidz tidak dapat dipisahkan dari kehidupan pesantren karena pembinaan karakter berjalan beriringan dengan proses menghafal Al-Quran.

"Tahfidz tidak berdiri sendiri. Ia tumbuh bersama lingkungan kepesantrenan. Adab dijaga, shalat dibina, bahkan saat bermain pun anak-anak tetap diarahkan, bukan dibiarkan begitu saja," tuturnya. (*)

 



 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.