TOBOALI, BABEL NEWS - Harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit di Kabupaten Bangka Selatan terpantau stabil selama hampir satu bulan terakhir. Hingga Selasa (7/7), tidak terjadi perubahan harga baik di tingkat pabrik maupun petani mandiri dibandingkan hari sebelumnya.
Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Bangka Selatan, Risvandika, membenarkan, stabilnya harga TBS terjadi di seluruh pabrik kelapa sawit yang beroperasi di daerah tersebut. Tidak ada kenaikan maupun penurunan harga pada perdagangan hari ini sehingga tren stabil terus berlanjut.
Kondisi ini dinilai menjadi gambaran pasar sawit yang relatif terkendali dalam beberapa pekan terakhir. "Per hari ini TBS kelapa sawit untuk petani mandiri di Bangka Selatan terpantau sepenuhnya stabil tanpa adanya kenaikan ataupun penurunan," kata Risvandika.
Risvandika menjelaskan, harga tertinggi untuk varietas Tenera mencapai Rp3.100 per kilogram. Harga tersebut berlaku di PT Tama Buana Jaya (TBJ) Desa Jeriji dan PT Banka Agro Plantari (BAP) Desa Bedengung. Sementara itu, PT Bhumi Palmindo Kencana (BPK) Desa Payung menetapkan harga Rp3.080 per kilogram dan PT Mentari Sawit Makmur (MSM) Ranggas sebesar Rp3.070 per kilogram.
Harga terendah untuk varietas Tenera berada di PT Bumi Sawit Sukses Pratama (BSSP) Desa Simpang Rimba sebesar Rp3.050 per kilogram. Pabrik tersebut juga menjadi satu-satunya yang mencantumkan harga khusus untuk varietas Dura sebesar Rp2.485 per kilogram. Adapun harga beli TBS di tingkat petani saat ini masih berada pada kisaran Rp2.720 hingga Rp2.820 per kilogram.
"Harga tertinggi varietas Tenera masih bertahan di angka Rp3.100 per kilogram pada dua pabrik, yakni PT TBJ dan PT BAP," jelas Risvandika.
Di sisi lain sambung dia, pabrik kelapa sawit tidak diperbolehkan membeli TBS di bawah harga standar yang telah ditetapkan. Namun demikian, ia juga menyoroti peran pengepul yang kerap menjadi faktor penentu harga di tingkat petani. Biaya transportasi dan distribusi yang tinggi sering kali berdampak pada pemotongan harga yang diterima petani.
"Terpenting PKS tidak boleh membeli TBS di bawah standar, dan pengepul jangan terlalu besar mengambil margin," ucapnya.
Selain itu, bertambahnya jumlah pabrik kelapa sawit (PKS) di daerah diharapkan mampu menciptakan persaingan yang sehat dalam pembelian TBS sehingga memberikan keuntungan lebih besar bagi petani. "Dengan semakin banyaknya PKS, kami berharap harga beli TBS dapat semakin bersaing dan menguntungkan petani," pungkas Risvandika.
Petani sawit asal Toboali, Misunder, mengaku harga jual sawit yang diterimanya belum mengalami perubahan selama hampir satu bulan terakhir. Harga dari pabrik ke delivery order (DO) masih bertahan di kisaran Rp3.050 per kilogram, sedangkan harga yang diterima melalui tengkulak sekitar Rp2.750 per kilogram.
Meski kondisi harga relatif stabil, petani masih berharap adanya kenaikan agar pendapatan mereka ikut meningkat. "Memang belum ada kenaikan harga. Semoga harga bisa naik lagi," kata Misunder. (u1)