TRIBUNMANADO.CO.ID - Pohon aren atau yang akrab disebut warga Sulawesi Utara (Sulut) sebagai pohon Seho, kini mulai berkurang di Kecamatan Tareran, Kabupaten Minahasa Selatan (Minsel).
Kondisi ini mulai mengancam mata pencaharian warga setempat yang mayoritas menggantungkan hidup sebagai petani Cap Tikus.
Padahal, setiap bagian dari pohon Seho memiliki segudang manfaat.
Mulai dari air nira yang diolah menjadi gula merah, saguer, hingga Cap Tikus. Begitu juga dengan serat ijuknya yang kerap digunakan sebagai bahan baku sapu dan tali.
Saat ditemui Tribunmanado.com di Desa Rumoong Atas, Kecamatan Tareran, Selasa (7/7/2026), sejumlah petani mengeluhkan mulai sulitnya memproduksi Cap Tikus akibat populasi pohon Seho yang kian menyusut.
Alex Kumaat, anggota DPRD Minsel ingat betul masa mudanya sebagai petani Cap Tikus.
Kala itu, ia dapat memanjat sepuluh pohon dalam sehari.
"Tapi petani kini hanya bisa memanjat enam pohon," kata dia.
Dirinya menduga hal tersebut disebabkan pohon aren makin berkurang.
Saat diwawancarai, dirinya mengenakan kemeja hitam berkerah lengan pendek dan celana jeans biru.
Solusinya, menurut dia, adalah digalakkan lagi penanaman aren.
Untuk itu butuh intervensi pemerintah.
"Saya siap menyampaikan aspirasi masyarakat agar pemerintah melaksanakan penanaman kembali pohon Seho, dengan begini akan sangat membantu para petani," sebutnya.
Hein Poluan, petani dan pengepul Cap Tikus menuturkan, berkurangnya pohon aren menyebabkan produksi
petani agak berkurang.
Menurut dia, hal tersebut adalah persoalan serius.
"Butuh bantuan pemerintah," katanya.
Ungkap dia, pernah ada bantuan penanaman pohon oleh pemerintah beberapa tahun lalu.
Sayangnya pohon tersebut tak begitu baik.
"Hingga tak memuaskan, sangat kurang sekali," kata dia.
Francis Kumaat, pengepul lainnya mengatakan, pohon aren musti diselamatkan.
Karena banyak putra Sulut yang bisa sekolah tinggi berkat Cap Tikus.
"Harus ada upaya untuk menyelamatkan pohon Seho," kata dia.
Berkurangnya pohon Seho, seiring dengan berkurangnya angkatan kerja.
Banyak generasi muda yang tak tertarik lagi menjadi petani Cap Tikus.
Direktur Utama PT Jobubu Jarum Minahasa Tbk (BEER) Irjen Pol (Purn) Drs. Carlo Brix Tewu mengatakan, Cap Tikus adalah warisan tradisional yang wajib dilestarikan.
Barang ini juga menghidupi ribuan orang di Sulut.
Ia mendesak harus ada upaya serius dari pemerintah untuk menyelamatkan pohon Seho.
"Saya akan menyurat ke pak Gubernur dan Bupati, mari kita sama-sama bekerja, saya juga akan libatkan akademisi untuk menyiapkan bibit unggul," katanya. (Art)