TRIBUNBANYUMAS.COM, SEMARANG - Gubernur Jateng Ahmad Luthfi memastikan layanan sekolah gratis bagi anak dari keluarga miskin yang tidak diterima di sekolah gratis maupun sekolah mitra Pemerintah Provinsi Jawa Tengah (Pemprov Jateng).
Catatan Pemprov, ada 597 anak dari keluarga miskin yang gagal diterima di sekolah mitra.
Mereka merupakan calon murid baru jenjang menengah atas.
Luthfi mengatakan, mereka bisa tetap sekolah tanpa biaya lewat skema bantuan bagi keluarga miskin ekstrem.
"Sehingga tidak anak yang kehilangan kesempatan memperoleh pendidikan," kata Luthfi selepas rapat paripurna di Gedung DPRD Jateng, Kota Semarang, Rabu (8/7/2026).
Baca juga: Kuota Sekolah Gratis Lewat Program Kemitraan Tak Terserap Maksimal, Pemprov Jateng Lakukan Evaluasi
Luthfi mengatakan, tahun ini, Pemprov Jateng membuka SPBM program sekolah kemitraan dengan kuota 5.004 kursi.
Program ini melibatkan 139 sekolah swasta, meliputi 56 SMA dan 83 SMK.
Selain program kemitraan, Pemprov Jateng juga menyediakan sekolah gratis tingkat SMA/SMK dan SLB Negeri dengan kuota sebanyak 231.724 orang atau sekitar 40,83 persen dari total lulus SMP sederajat di Jateng.
Terpisah, Sekretaris Komisi E DPRD Jateng, Zainuddin menyebut, gagalnya ratusan siswa tersebut diterima sekolah mitra karena terganjal kuota sekolah.
Masyarakat juga masih menganggap sekolah mitra sebagai pilihan kedua, bukan pilihan sekolah negeri utama.
"Sekolah kemitraan masih belum sepenuhnya sesuai dengan kebutuhan peserta didik," terangnya.
Baca juga: Pemprov Jateng Tak Lagi Mengejar Status Rumah Sakit, Ini Strategi Barunya
Lepas dari persoalan itu, Zainuddin meminta Dinas Pendidikan Jateng terus memantau dan mendampingi ratusan pelajar yang tidak diterima dalam SPBM sekolah kemitraan.
Tujuannya, memastikan siswa dari golongan tidak mampu itu tetap bisa mendapatkan akses pendidikan.
"Agar calon murid baru ini tetap bisa melanjutkan pendidikannya," tambahnya. (*)