Jakarta (ANTARA) - Organisasi keagamaan Islam Jamiyatul Al Washliyah menggelar Muktamar XIII di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta, Rabu, menjadi momentum krusial untuk melakukan konsolidasi, baik secara ideologis maupun organisasi.
“Kami berharap Muktamar XIII ini tidak hanya menjadi ajang suksesi kepemimpinan, tetapi juga sebagai ruang konsolidasi total untuk melahirkan rekomendasi-rekomendasi konkret bagi kemaslahatan umat, bangsa, dan negara,” ujar Ketua Panitia Pelaksana Muktamar XIII Ahmad Doli Kurnia Tanjung di Jakarta, Rabu.
Ahmad Doli menegaskan Al Washliyah saat ini sudah ada di 38 provinsi di Indonesia. Sesuai semangat dasar organisasi, muktamar ini juga menjadi momentum memperkuat khidmah bidang pendidikan, dakwah, dan pemberdayaan ekonomi.
Ketua Umum PB Al Washliyah Masyhuril Khamis menegaskan bahwa pendidikan tetap menjadi dakwah utama organisasi. Namun, tantangan moral masyarakat juga menjadi perhatian serius.
Selain itu, Al Washliyah juga mendorong peningkatan kesejahteraan masyarakat sebagai bagian dari dakwah. Al Washliyah ingin turut serta sebagai aktor dalam mewujudkan Indonesia maju.
“Selain itu fokus lain perjuangan dakwah Al Washliyah adalah memperkuat kesejahteraan rakyat menuju Indonesia maju. Kaya secara materi, kuat imannya dan mulia akhlaknya,” katanya.
Sementara itu, Ketua MPR Ahmad Muzani mengapresiasi peran Al Washliyah yang memiliki kader hingga akar rumput, yang menyebarkan semangat organisasi lewat dakwah, pendidikan, hingga pemberdayaan sosial.
“Coba bayangkan, kalau tidak ada organisasi keagamaan seperti Al Washliyah ini, betapa beratnya beban negara untuk mencerdaskan anak-anak bangsa,” ujarnya.
Muzani juga mengapresiasi perjuangan guru-guru Al Washliyah yang semangat mengabdi di pelosok meski mengalami keterbatasan ekonomi.
“Al Washliyah memiliki ribuan kader yang mengajar di madrasah-madrasah milik sendiri dengan kondisi yang memprihatinkan. Namun semangat pengabdiannya tetap tinggi karena mengajar bagi mereka, tidak semata mencari dunia, tetapi juga akhirat,” kata dia.
Selama tiga hari pelaksanaan, peserta membahas penguatan organisasi, pendidikan karakter, moderasi beragama, transformasi pelayanan haji, legalitas aset umat, ekonomi keumatan, hingga optimalisasi zakat bagi pendidikan dan kesejahteraan guru.





