Sering Lelah Meski Sudah Istirahat? Bisa Jadi Burnout, Ini Penjelasan Psikiater
Abdul Rosid July 08, 2026 09:04 PM

TRIBUNBANTEN.COM - Merasa lelah setelah seharian bekerja merupakan hal yang normal. Namun, apabila rasa lelah tetap muncul meski sudah beristirahat, disertai hilangnya semangat, sulit berkonsentrasi, hingga tidak lagi memiliki motivasi untuk menyelesaikan pekerjaan, kondisi tersebut patut diwaspadai.

Bisa jadi, seseorang sedang mengalami burnout, yaitu kondisi kelelahan fisik, emosional, dan mental akibat tekanan pekerjaan yang berlangsung dalam waktu lama tanpa diimbangi proses pemulihan yang memadai.

Fenomena ini bahkan telah diakui oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang pada 2019 memasukkan burnout ke dalam International Classification of Diseases (ICD-11) sebagai sindrom yang berkaitan dengan lingkungan kerja.

Baca juga: 5 Cara Mencegah Asam Urat Kambuh, Nomor 4 Masih Sering Dilakukan Banyak Orang

Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Bethsaida Hospital Serang, dr. Margaretha, Sp.KJ, menjelaskan bahwa burnout bukan disebabkan seseorang memiliki mental yang lemah atau kurang bersyukur.

"Burnout bukan tentang tidak cukup kuat atau tidak cukup bersyukur. Burnout terjadi karena terlalu lama memberi tanpa cukup mengisi kembali. Yang perlu diubah bukan orangnya, tetapi cara menjalani pekerjaannya," ujar dr. Margaretha.

Burnout Muncul Perlahan dan Sering Tidak Disadari

Menurut dr. Margaretha, burnout umumnya berkembang secara bertahap. Banyak orang menganggap gejala yang muncul hanyalah akibat beban pekerjaan yang sedang meningkat, sehingga kondisi tersebut sering diabaikan.

Padahal, jika dibiarkan terus-menerus, burnout dapat berdampak pada kesehatan fisik, mental, hingga menurunkan produktivitas kerja.

Kenali Gejala Burnout

Burnout tidak hanya ditandai dengan rasa lelah. Ada sejumlah gejala lain yang perlu diwaspadai.

1. Gejala Fisik

Penderita burnout umumnya mengalami:

Tubuh tetap lelah meski sudah tidur atau beristirahat.

Sulit tidur atau kualitas tidur menurun.

Sakit kepala yang muncul berulang.

Nyeri otot tanpa penyebab yang jelas.

Gangguan pencernaan.

Daya tahan tubuh menurun sehingga lebih mudah sakit.

2. Gejala Emosional

Selain kondisi fisik, burnout juga memengaruhi kondisi psikologis seseorang, seperti:

Kehilangan semangat bekerja.

Mudah marah atau tersinggung.

Merasa hampa dan tidak bersemangat.

Motivasi kerja terus menurun.

Merasa usaha yang dilakukan tidak pernah dihargai.

3. Perubahan Perilaku

Burnout juga dapat terlihat dari perubahan kebiasaan sehari-hari, antara lain:

- Produktivitas kerja menurun.

- Sering menunda pekerjaan.

- Menarik diri dari lingkungan sosial.

- Mengandalkan kafein atau kebiasaan tertentu untuk bertahan bekerja.

Burnout Berbeda dengan Stres Kerja

Masih banyak orang yang menyamakan burnout dengan stres kerja biasa. Padahal, keduanya memiliki perbedaan mendasar.

Saat mengalami stres, seseorang umumnya masih memiliki motivasi untuk menyelesaikan pekerjaan dan kondisinya akan membaik setelah beristirahat atau mengambil cuti.

Sebaliknya, burnout membuat seseorang merasa benar-benar kehabisan energi. Bahkan, waktu libur atau tidur yang cukup sering kali tidak mampu mengembalikan semangat dan tenaga seperti semula.

Penyebab Burnout

Burnout dapat dipicu oleh berbagai faktor di lingkungan kerja, di antaranya:

- Beban kerja yang terlalu tinggi.

- Tidak memiliki kendali terhadap pekerjaan.

- Kurangnya apresiasi dari lingkungan kerja.

- Budaya kerja yang tidak sehat.

- Pekerjaan tidak sesuai dengan nilai atau tujuan pribadi.

- Tidak adanya batas yang jelas antara pekerjaan dan kehidupan pribadi (work-life balance).

Cara Mengatasi Burnout

Dr. Margaretha menyarankan beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk membantu proses pemulihan, yaitu:

- Mengakui bahwa diri sedang mengalami burnout.

- Menetapkan batas waktu kerja yang jelas.

- Menjaga pola tidur dan pola makan.

- Berolahraga secara rutin.

- Meluangkan waktu untuk melakukan hobi atau aktivitas yang disukai.

- Berbicara dengan keluarga, teman, atau orang yang dipercaya.

- Berkonsultasi dengan psikolog maupun psikiater apabila keluhan terus berlanjut.

Menurutnya, meminta bantuan bukanlah tanda kelemahan, melainkan langkah penting dalam proses pemulihan.

"Pemulihan dimulai dari keberanian untuk berkata, 'Saya butuh bantuan.' Itu justru merupakan salah satu bentuk kekuatan terbesar yang dimiliki seseorang," jelasnya.

Segera Cari Bantuan Jika Gejala Semakin Berat

Konsultasi dengan tenaga kesehatan jiwa perlu segera dilakukan apabila gejala burnout tidak kunjung membaik, mulai mengganggu aktivitas sehari-hari, memicu kecemasan atau depresi, hingga muncul keinginan untuk menyakiti diri sendiri.

Bethsaida Hospital Serang menyediakan layanan konsultasi kesehatan jiwa yang ditangani dokter spesialis kedokteran jiwa untuk membantu masyarakat yang mengalami burnout maupun gangguan kesehatan mental lainnya.

Direktur Bethsaida Hospital Serang dr. Tirta mengatakan, kesehatan mental merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kesehatan secara menyeluruh.

"Kesehatan mental adalah bagian yang tidak terpisahkan dari kesehatan secara menyeluruh. Di Bethsaida Hospital Serang, kami berkomitmen untuk menghadirkan ruang yang aman, hangat, dan bebas stigma bagi setiap individu yang membutuhkan dukungan termasuk mereka yang sedang berjuang dengan tekanan dan kelelahan di tempat kerja," ujarnya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.