POSBELITUNG.CO -- Isu mengenai perjalanan dinas Menteri Pekerjaan Umum (PU) Dody Hanggodo ke Amerika Serikat menjadi perhatian publik setelah beredar potongan surat dinas Kementerian PU di media sosial.
Dokumen tersebut memuat daftar rombongan kunjungan ke Amerika Serikat, termasuk nama istri Dody Hanggodo, Irma Hermawati, dan putrinya, Aurellia Tsabitha Meidirama.
Surat dinas itu diketahui ditandatangani oleh Sekretaris Jenderal Kementerian PU, Apri Artoto.
Beredarnya dokumen tersebut memunculkan dugaan bahwa perjalanan keluarga Menteri PU menggunakan pembiayaan dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Menanggapi isu tersebut, Apri Artoto menegaskan bahwa anggapan tersebut tidak benar. Ia memastikan biaya perjalanan anggota keluarga tidak berasal dari dana negara.
Baca juga: Profil Andra ST, YouTuber 13,1 Juta Subscriber yang Alami Kecelakaan, McLaren Terbelah Dua
"Perlu saya tegaskan di sini, untuk pembiayaan terhadap keluarga, itu tidak akan menggunakan dana APBN. Kalau memang terjadi ada pemberangkatan dari anggota keluarga, maka pembiayaan akan menggunakan dana pribadi," kata Apri di Kementerian PU, Jakarta Selatan, Selasa (7/7/2026).
Apri menjelaskan bahwa seluruh biaya perjalanan keluarga menjadi tanggung jawab pribadi dan tidak dibebankan kepada anggaran pemerintah.
Ia juga menyampaikan penjelasan tersebut untuk meluruskan informasi yang berkembang di tengah masyarakat.
Dody Hanggodo merupakan insinyur sekaligus pengusaha asal Mojokerto, Jawa Timur. Ia lahir pada 7 Februari 1966 dan kini berusia 60 tahun.
Pada 21 Oktober 2024, Presiden Prabowo Subianto melantik Dody sebagai Menteri Pekerjaan Umum dalam Kabinet Merah Putih.
Dody juga dikenal sebagai ayah dari Aushaf Fajr Herdiansyah, tokoh HIPMI Jawa Timur yang pernah maju sebagai calon Wakil Bupati Nganjuk pada Pilkada 2024.
Masa kecil Dody dihabiskan di Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Ia mengenyam pendidikan dasar di SD Rajawali Banjarmasin sebelum melanjutkan sekolah ke SMP Negeri 2 Temanggung, Jawa Tengah.
Pendidikan menengah atas ditempuhnya di SMA Kolese De Britto Yogyakarta. Setelah lulus, ia melanjutkan kuliah di Institut Teknologi Bandung (ITB) dan memperoleh gelar Sarjana Teknik Perminyakan pada 1989.
Tiga tahun kemudian, Dody meraih gelar Magister Petroleum Engineering dari University of Tulsa, Oklahoma, Amerika Serikat.
Karier profesionalnya dimulai sebagai Petroleum Engineer di ASAMERA Oil Co. pada 1989 hingga 1990. Selanjutnya, ia menjabat sebagai Oil Field Production Supervisor sampai 1995.
Selain berkarier di sektor migas, Dody juga pernah bekerja di dunia perbankan. Pada periode 1993-1998, ia menjabat sebagai Assistant Vice President di Citibank N.A.
Kariernya kemudian berlanjut sebagai General Manager Fajrindo Group pada 1999-2000.
Setelah itu, Dody dipercaya menjadi Business Development Manager di PT Tri Usaha Bhakti pada 2002-2004 dan PT Wahana Krida Mandiri pada 2004-2006.
Ia juga pernah menjabat sebagai Manager Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (BRR) Nanggroe Aceh Darussalam-Nias Regional IV pada 2006-2007.
Kariernya terus berkembang dengan menduduki posisi Executive Vice President Marketing & Business Development PT Dual Samudera Perkasa pada 2007-2011.
Selanjutnya, Dody dipercaya sebagai Director Commercial & Business Development PT Indika Indonesia Resources pada 2011-2015.
Setelah itu, ia berkiprah sebagai konsultan bisnis di PT Baramega Citra Mulia Persana yang bergerak di sektor pertambangan batu bara, serta PT Prima Alam Gemilang yang bergerak di industri gula.
Dody juga pernah menjabat Komisaris PT Pradiksi Gunatama Tbk di Kalimantan Timur pada 2017-2018, kemudian menjadi Komisaris PT Senabangun Anekapertiwi pada 2019-2020.
Pada 21 Oktober 2024, Presiden Prabowo Subianto resmi melantiknya sebagai Menteri Pekerjaan Umum.
Sejak bergabung di pemerintahan, Dody juga aktif di dunia politik dengan menjadi kader Partai Demokrat. Ia dipercaya menjabat Wakil Ketua Umum DPP Partai Demokrat periode 2025-2030.
Selain itu, Dody turut mengemban amanah sebagai Dewan Pembina Persatuan Insinyur Indonesia.
Sorotan terhadap perjalanan dinas Dody Hanggodo bermula dari beredarnya potongan surat dinas Kementerian PU mengenai kunjungan ke Amerika Serikat.
Dalam dokumen tersebut, nama Irma Hermawati dan Aurellia Tsabitha Meidirama ikut tercantum sehingga memunculkan berbagai spekulasi di media sosial.
Surat itu ditandatangani oleh Sekretaris Jenderal Kementerian PU, Apri Artoto.
Menanggapi polemik tersebut, Apri kembali menegaskan bahwa keikutsertaan istri dan anak Menteri PU tidak menggunakan dana APBN.
"Perlu saya tegaskan di sini, untuk pembiayaan terhadap keluarga, itu tidak akan menggunakan dana APBN. Kalau memang terjadi ada pemberangkatan dari anggota keluarga, maka pembiayaan akan menggunakan dana pribadi," kata Apri di Kementerian PU, Jakarta Selatan, Selasa (7/7/2026).
Ia menjelaskan, nama anggota keluarga dicantumkan dalam daftar rombongan semata-mata untuk keperluan administrasi pengurusan visa kepada Kementerian Luar Negeri.
"Terkait di dalam list itu ada anggota keluarga, itu memang di dalam komunikasi kami dengan Kementerian Luar Negeri dalam rangka pengurusan visa, itu sebaiknya memang dijadikan di dalam satu daftar," jelasnya.
Apri juga menerangkan bahwa penggunaan paspor diplomatik oleh Irma Hermawati telah sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
"Secara aturan, spouse dari pejabat yang dinas itu boleh menggunakan paspor diplomatik mengikuti suami," ungkapnya.
Ia kembali menegaskan bahwa tidak ada dana yang bersumber dari APBN maupun pajak masyarakat yang digunakan untuk membiayai perjalanan keluarga tersebut.
"Enggak pakai APBN," ucapnya.
(Tribunnews/Bangkapos.com/Pos Belitung)