Laporan Reporter TRIBUNFLORES.COM, Petrus Chrisantus Gonsales
TRIBUNFLORES.COM, MAUMERE - Pasar Alok Maumere, Kabupaten Sikka, masih menjadi pusat geliat ekonomi masyarakat lokal dalam skala mikro. Di antara berbagai komoditas yang diperjualbelikan, sirih pinang atau dalam bahasa Sikka disebut Wua Ta’a menjadi salah satu yang tetap diminati.
Bagi masyarakat Sikka, sirih pinang bukan sekadar komoditas dagangan. Sajian ini memiliki nilai budaya yang kuat dan kerap digunakan dalam berbagai acara adat maupun penyambutan tamu.
Permintaan terhadap sirih pinang biasanya meningkat saat musim pesta. Pasalnya, dalam berbagai kegiatan adat di Kabupaten Sikka, kehadiran sirih pinang menjadi salah satu bagian yang tidak terpisahkan.
Salah satu pedagang sirih pinang di Pasar Alok adalah Anastasia. Perempuan asal Watublapi, Kecamatan Hewokloang, ini menjalani kesehariannya sebagai pedagang sekaligus ibu rumah tangga.
Baca juga: RUU Administrasi Pertanahan Jadi Instrumen Strategis Perkuat Sistem Pertanahan Nasional
Kepada TribunFlores.com, Rabu (8/7/2026), Anastasia mengungkapkan dirinya telah lama berjualan sirih pinang di Pasar Alok. Hasil penjualan tersebut digunakan untuk membantu memenuhi kebutuhan rumah tangga, terutama membiayai pendidikan anaknya yang sedang menempuh kuliah.
"Tidak banyak juga yang datang beli. Kecuali saat orang butuh untuk pesta baru datang cari. Saya sudah lama jual di sini, untuk bantu juga anak saya yang sedang kuliah," ujarnya.
Harga sirih pinang yang dijual Anastasia bervariasi. Pinang kering yang telah diiris dijual seharga Rp100 ribu per kilogram. Sementara pinang dalam gelas kecil dijual Rp5.000 dan gelas besar Rp10.000.
Untuk buah pinang mentah, Anastasia menjual 40 buah dengan harga Rp15.000. Sedangkan sirih dijual dalam bentuk ikatan berisi 10 batang, dengan harga tiga ikat Rp20.000.
Dalam tradisi mengunyah sirih pinang, masyarakat biasanya menambahkan kapur sirih untuk memperkuat rasa sekaligus memberikan warna merah pada hasil kunyahan.
"Kapur sirih satu plastik dijual seharga Rp2.000, dan tiga bungkus Rp5.000," kata Anastasia.
Pantauan TribunFlores.com, dagangan sirih pinang Anastasia tersusun sederhana di atas lapak beralaskan taplak terpal berwarna biru. Pinang kering disimpan dalam wadah anyaman yang dalam bahasa Sikka disebut wajak, sementara sirih kering diletakkan di atas nyiru.
Bagi Anastasia, setiap ikat sirih dan setiap butir pinang yang terjual menjadi bagian dari perjuangannya menghidupi keluarga sekaligus mempertahankan tradisi lokal masyarakat Sikka. (Moa)