Jakarta (ANTARA) - Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) mengatakan, vaksin dengue berbasis mRNA yang dikembangkan Universitas Indonesia dan Tsinghua University tak hanya membantu Indonesia, namun juga dunia, sehingga pihaknya mendukung proyek itu dengan memastikan keamanan dan efikasinya.
Kepala BPOM Taruna Ikrar mengatakan di Jakarta, Rabu, setiap tahunnya, secara global sekitar 390 juta orang terinfeksi virus dengue. Kemudian, data Kementerian Kesehatan menunjukkan bahwa tiap tahunnya, 161 ribu orang terinfeksi virus itu, dan 700 orang meninggal karena penyakit tersebut.
"Ini adalah sebuah penemuan penting, dan kita bisa mengembangkan lebih banyak lagi," kata Taruna dalam acara peluncuran mRNA Dengue Vaccine Prototype.
Dia menjelaskan, teknologi mRNA memiliki sejumlah kelebihan, yaitu lebih stabil, berkhasiat, canggih dan mudah dikembangkan.
Sebagaimana ditetapkan oleh Undang-Undang 17 tahun 2023 tentang Kesehatan, pihaknya mendukung inisiatif-inisiatif itu dengan cara memastikan setiap produk yang dikonsumsi masyarakat, termasuk vaksin, aman, berkhasiat, dan berkualitas.
Dia menyebutkan bahwa meski vaksinnya belum jadi, tetapi penemuan ini merupakan langkah awal yang sangat penting.
Taruna mengatakan, dia berharap kolaborasi ini dapat membantu menangani penyakit tersebut di seluruh dunia.
"Saya percaya kolaborasi antara dua universitas hebat dan institusi seluruh dunia , termasuk Universitas Indonesia dan Tsinghua University, saya percaya hasilnya akan berjalan dan menjadi baik," katanya.
Dalam kesempatan itu, katanya, dia juga mengapresiasi pihak-pihak yang telah melibatkan BPOM dalam pengembangan vaksin ini sejak awal. Menurutnya, dengan pelibatan itu pihaknya lebih memahami standar, metode, karakteristik, sehingga bisa mendukung proyek itu secara lebih tepat.
"Karena ini kita akan buat sejarah. mRNA vaksin pertama di dunia untuk penyakit demam berdarah," katanya.
Dalam kesempatan yang sama, Principal investigator dari Departemen Mikrobiologi Klinik Universitas Indonesia Beti Ernawati mengatakan, saat ini vaksin itu dalam tahap uji preklinis.
"Tetapi dari hasil pre-clinical trial yang kita lakukan, ternyata memang dilihat titer antibodi untuk netralisasi virus dengue, terutama serotipe 1, 2, 3, 4 strain Indonesia, itu jauh lebih baik dibandingkan dengan commercial vaccine yang sudah ada di Indonesia," katanya.
Beti pun berharap dalam waktu 6 bulan efikasinya pada subjek yang ada di Indonesia bisa dilihat, dan diharapkan seimbang juga dengan hasil uji preklinis.
Direktur Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) Ayom Widipaminto mengatakan, pihaknya bersama PT Etana mendanai prototipe dan uji klinis vaksin tersebut, di mana LPDP memberikan Rp7miliar dan PT Etana Rp9 miliar. Dia menyebutkan, pihaknya siap mendanai guna memastikan Indonesia mendapatkan vaksin dan alat-alat kesehatan yang dibutuhkan.
"Ini tahun kedua, dan kita akan lanjut tahun ketiga. Ke depan, dana abadi penelitian, pokoknya ada 14 triliun. Setiap tahun ada 1 triliun yang bisa dimanfaatkan. Dan ruangnya cukup besar," katanya.
Baca juga: Peneliti BRIN tegaskan klaim vaksin mRNA sebabkan kanker tak berdasar





