Opini: Ronaldo Pamit, Messi Menggila
Dion DB Putra July 08, 2026 10:19 PM

Oleh: Damasus Lodolaleng, S.Pd., M.Pd.
Penggemar sepak bola, tinggal di Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur.

POS-KUPANG.COM - Selama hampir dua dekade, dunia sepak bola hidup dalam satu rivalitas yang nyaris tak tertandingi: Cristiano Ronaldo dan Lionel Messi. 

Keduanya bukan sekadar pesepak bola hebat, melainkan dua mahakarya yang lahir pada zaman yang sama untuk mengajarkan bahwa jalan menuju puncak tidak pernah tunggal. 

Cristiano Ronaldo adalah personifikasi kerja keras, disiplin, kekuatan fisik, dan mental juara yang ditempa melalui ribuan jam latihan. 

Ia menaklukkan berbagai liga elite Eropa, mulai dari Premier League, La Liga, hingga Serie A, serta menjelma sebagai mesin gol dengan kemampuan mencetak gol melalui kedua kaki, sundulan, tendangan bebas, maupun penalti. 

Baca juga: Dam Dam Ro

Sementara itu, Lionel Messi adalah puisi yang hidup di atas rumput hijau. Dribelnya, visi bermainnya, sentuhan bolanya, dan kreativitasnya menjadikan sepak bola bukan sekadar pertandingan, melainkan seni yang mengalir dalam setiap gerak. 

Ia bukan hanya pencetak gol, tetapi juga sutradara permainan yang mampu mengubah ruang sempit menjadi peluang emas.

Perbedaan keduanya justru melahirkan keindahan. Ronaldo menawarkan daya ledak, determinasi, serta penyelesaian akhir yang mematikan. 

Messi menghadirkan kecerdasan, efisiensi, dan imajinasi yang sulit dijelaskan dengan angka statistik semata. 

Tidak ada jawaban mutlak tentang siapa yang lebih hebat, sebab keduanya membangun legenda melalui jalan yang berbeda. 

Ironisnya, justru para penggemarlah yang sering gagal memahami makna rivalitas tersebut. 

Di Indonesia, perdebatan mengenai Ronaldo dan Messi acap kali melampaui batas kewajaran. 

Media sosial berubah menjadi arena saling menghina, saling merendahkan, bahkan memutus persahabatan hanya karena perbedaan pilihan idola. 

Padahal, Ronaldo dan Messi sendiri berkali-kali menunjukkan rasa saling menghormati sebagai sesama legenda. 

Mereka tidak pernah meminta para pendukungnya untuk saling membenci, tetapi sebagian penggemar justru menjadikan sepak bola sebagai alasan untuk menebar kebencian. 

Rivalitas yang seharusnya melahirkan inspirasi justru berubah menjadi pertikaian yang miskin substansi.

Piala Dunia 2026 kembali menghadirkan babak emosional dalam kisah dua legenda tersebut. Portugal harus mengakhiri langkahnya di babak 16 besar. 

Bagi banyak pencinta sepak bola, itu terasa seperti salam perpisahan Cristiano Ronaldo dengan panggung terbesar dunia. 

Sehari berselang, panggung seakan berganti pemeran. Lionel Messi bersama Argentina tampil memukau dan mengantarkan Albiceleste melaju ke perempat final setelah melewati perlawanan Mesir dalam pertandingan yang penuh drama, ketegangan, dan keindahan. 

Seolah-olah sejarah sedang berbisik, "Ronaldo pamit, Messi kembali menggila." 

Namun, di balik narasi yang menyentuh itu, sesungguhnya tidak ada yang benar-benar menang ataupun kalah. Yang menang adalah sepak bola, karena dunia kembali menyaksikan bagaimana dua legenda meninggalkan warisan yang akan dikenang lintas generasi.

Satu menutup bab dengan kepala tegak, sementara yang lain masih menulis lembar berikutnya.

Lalu, di manakah posisi kita sebagai bangsa Indonesia? Pertanyaan inilah yang seharusnya lebih sering kita renungkan daripada sekadar memperdebatkan siapa yang paling hebat. Kita boleh mengagumi Ronaldo. 

Kita boleh mencintai Messi. Kita juga bebas mendukung Argentina, Portugal, Brasil, Jepang, Maroko, atau negara mana pun yang berlaga di Piala Dunia. 

Akan tetapi, sebesar apapun fanatisme itu, kita tidak boleh kehilangan akal sehat dan rasa hormat kepada sesama pencinta sepak bola. 

Lebih dari itu, ada kenyataan yang tidak boleh kita abaikan  ketika jutaan masyarakat Indonesia sibuk memperdebatkan siapa yang pantas disebut GOAT, Merah Putih belum juga berkibar di panggung Piala Dunia. 

Kita ribut tentang prestasi bangsa lain, sementara pekerjaan rumah terbesar kita adalah bagaimana membangun sepak bola Indonesia agar suatu hari mampu berdiri sejajar dengan negara-negara yang hari ini kita kagumi.

Karena itu, sudah saatnya rivalitas Ronaldo dan Messi kita maknai sebagai ruang belajar, bukan ruang permusuhan. 

Dari Ronaldo, kita belajar arti disiplin, kerja keras, keberanian menghadapi tantangan, dan tekad untuk terus berkembang. 

Dari Lionel Messi, kita belajar tentang kerendahan hati, kecerdasan, kreativitas, serta kesetiaan terhadap proses.

Dari Jepang kita belajar tentang pembinaan usia dini yang sistematis. Dari Maroko kita belajar bahwa mimpi besar dapat lahir dari negara yang dahulu dipandang sebelah mata. 

Dari Argentina, Portugal, Prancis, Spanyol, dan negara-negara peserta Piala Dunia lainnya, kita belajar bahwa prestasi internasional tidak lahir dalam semalam, melainkan melalui perencanaan, pendidikan, kompetisi yang sehat, dan budaya olahraga yang kuat. 

Pada akhirnya, sejarah mungkin akan terus memperdebatkan siapa yang terbesar di antara Ronaldo dan Messi. 

Namun, bagi Indonesia, pertanyaan yang jauh lebih penting adalah kapan kita berhenti memperdebatkan kejayaan bangsa lain dan mulai bekerja bersama agar suatu hari nanti Merah Putih berkibar gagah di panggung Piala Dunia. 

Sebab, warisan terbesar Ronaldo dan Messi bukanlah membuat dunia terpecah dalam fanatisme, melainkan menginspirasi setiap bangsa untuk bermimpi, bekerja keras, dan percaya bahwa kejayaan selalu dimulai dari keberanian untuk membangun masa depan. (*)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.