China: Menyalakan Lagi Perang Amerika dan Iran Tak Menguntungkan Siapa Pun
TRIBUNNEWS.COM - China menyerukan Amerika Serikat dan Iran menahan diri serta kembali menjalankan nota kesepahaman melalui dialog, bukan aksi militer.
Pernyataan Beijing muncul setelah Iran meluncurkan rudal dan drone ke Bahrain serta Kuwait, disusul serangan AS terhadap lebih dari 80 sasaran di Iran.
Baca juga: Trump Sebut Kesepakatan AS dengan Iran Tak Berlaku Lagi, Netanyahu Lempar Tuduhan Senjata Kimia
Bahrain dan Kuwait mengaktifkan sirene serangan udara sebagai langkah antisipasi di tengah meningkatnya ketegangan kawasan.
China Desak AS dan Iran Kembali Berdialog, Peringatkan Bahaya Perang Baru di Timur Tengah
China menyerukan Amerika Serikat dan Iran untuk menahan diri serta kembali menempuh jalur diplomasi setelah eskalasi terbaru yang melibatkan serangan rudal Iran ke Bahrain dan Kuwait serta operasi militer Amerika Serikat terhadap puluhan target di wilayah Iran.
Pernyataan tersebut disampaikan Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China, Mao Ning, dalam konferensi pers pada Rabu (8/7).
"Menyalakan kembali perang tidak menguntungkan kedua belah pihak, dan cara militer tidak dapat menyelesaikan masalah mendasar," ujar Mao Ning.
Ia menegaskan kalau Beijing berharap Washington dan Teheran tetap berpegang pada nota kesepahaman yang sebelumnya telah disepakati serta menyelesaikan perbedaan melalui dialog dan negosiasi.
"Kami menyerukan kepada Amerika Serikat dan Iran untuk melaksanakan nota kesepahaman yang telah ditandatangani, menyelesaikan perbedaan mereka melalui dialog dan negosiasi, dan menghindari penggunaan kekerasan," tambahnya.
Seruan China disampaikan di tengah meningkatnya ketegangan di kawasan Teluk Persia.
Sebelumnya, Iran meluncurkan rudal dan drone ke arah Bahrain dan Kuwait. Menyusul ancaman tersebut, kedua negara mengaktifkan sirene serangan udara sebagai langkah kewaspadaan.
Di sisi lain, Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) mengumumkan bahwa militernya telah melancarkan serangan terhadap lebih dari 80 sasaran di Iran.
Washington menyatakan operasi tersebut merupakan respons atas serangan terhadap tiga kapal dagang di Selat Hormuz yang dikaitkan dengan Teheran.
Sebagai salah satu anggota tetap Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), China selama ini konsisten menyerukan penyelesaian konflik melalui jalur diplomasi dan menolak eskalasi militer yang berpotensi memperluas konflik di Timur Tengah.
Pernyataan Beijing kali ini mencerminkan kekhawatiran bahwa aksi saling serang antara Iran dan Amerika Serikat dapat memicu konflik yang lebih luas dan mengganggu stabilitas kawasan, termasuk jalur pelayaran strategis di Selat Hormuz yang menjadi salah satu rute utama perdagangan energi dunia.
Hingga saat ini belum ada indikasi kedua pihak akan kembali ke meja perundingan, sementara situasi keamanan di kawasan Teluk masih terus dipantau menyusul rangkaian serangan yang terjadi dalam beberapa hari terakhir.