“Bahkan kalau produk turunannya, ini kelanjutannya sampai pada produk akhir itu sudah Rp 18 juta sampai Rp 35 juta per kilogram.” BAGUS RACHMAN, Deputi Bidang Usaha Menengah Kementerian UMKM
SERAMBINEWS.COM, BANDA ACEH - Komoditas nilam Aceh didorong agar menembus pasar yang lebih luas melalui pengembangan Holding UMKM berbasis klaster yang diinisiasi Kementerian Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).
Dalam skema tersebut, Kementerian UMKM menyiapkan perusahaan lokal Aceh, yakni PT Razma Agro Jayana menjadi operator Holding UMKM untuk memperkuat kemitraan, rantai pasok, dan hilirisasi ekosistem nilam.
Deputi Bidang Usaha Menengah Kementerian UMKM RI, Bagus Rachman, mengatakan, hilirisasi menjadi kunci untuk meningkatkan nilai ekonomi komoditas nilam Aceh melalui penciptaan nilai tambah, lapangan kerja, dan daya saing.
"Kalau kita bicara masalah hilirisasi, tentunya kita bicara tiga hal. Sebetulnya dua hal yang paling utama. Yang pertama adalah value creation, yang artinya menciptakan nilai tambah. Yang kedua adalah job creation, yang menciptakan lapangan kerja," kata Bagus.
Hal itu disampaikan Bagus dalam sambutannya pada kegiatan Temu Mitra Peningkatan Kapasitas Kemitraan dan Rantai Pasok Ekosistem Nilam PT Razma Agro Jayana, di Muraya Hotel, Banda Aceh, Rabu (8/7/2026).
Menurut Bagus, alasan pihaknya memilih PT Razma Agro Jayana karena sudah menunjukkan kapasitasnya dalam membangun ekosistem kemitraan sehingga layak menjadi operator Holding UMKM.
Dijelaskan, Holding UMKM merupakan ekosistem kemitraan bisnis berbasis klaster yang bertujuan memperkuat hilirisasi komoditas. Salah satu pilar utamanya adalah UMKM agregator, yakni usaha menengah yang mengumpulkan produksi petani agar mampu memenuhi skala ekonomi dan kebutuhan pasar.
“Saya mencatat di sini, hari ini sudah ada sekitar 372 petani yang diagregasi oleh PT Razma untuk bisa mencapai skala ekonomi dalam industri nilam atau dalam konteks yang bisa memenuhi kebutuhan pasar nilam ini sendiri,” ungkapnya.
Di sisi lain, Bagus menilai, bahwa Indonesia, khususnya Aceh memiliki posisi strategis dalam industri nilam dunia karena memasok sekitar 90 persen kebutuhan bahan baku nilam global. Namun, potensi tersebut perlu diperkuat melalui hilirisasi agar menghasilkan nilai tambah yang lebih besar.
“Karena kami mencatat bahwa nilam hasil dari produksi para petani, patchouli oil itu hanya kisaran harga Rp700.000 sampai Rp 800.000 per kilogram. Tapi kalau sudah melalui proses purifikasi (pemurnian), naik menjadi Rp 1,3 juta per kilogram. Apa lagi sudah difraksinasi, bisa sampai Rp 4 juta per kilogram,” jelasnya.
“Bahkan kalau produk turunannya, ini kelanjutannya sampai pada produk akhir itu sudah Rp 18 juta sampai Rp 35 juta per kilogram. Jadi, bagaimana sebetulnya hilirisasi itu ujungnya adalah untuk daya saing,” ujarnya.(ra)