TRIBUNFLORES.COM, MAUMERE- Badan Meterologi, Klimatologi, dan Geofisika atau BMKG memperingatkan masyarakat di Nusa Tenggara Timur (NTT) wasapada dampak angin kencang yang melanda sejumlah wilayah hinga 13 Juli 2026.
Angin Monsoon Timur sedang aktif, menandakan puncak musim kemarau. BMKG mengungkapkan angin kencang yang melanda sejumlah wilayah di NTT sifatnya kering dan berpotensi menyebabkan kebakaran hutan dan lahan atau karhutla.
Kondisi cuaca secara umum di NTT didominasi cuaca cerah berawan hingga berawan. Ini menyebabkan pertumbuhan awan cenderung menurun dan suhu udara terasa rendah saat malam hingga dini hari. Suhu udara berkisar 14-33 derajat Celcius dengan kelembaban 40-95 % .
Cuaca pada 9- 10 Juli hampir seluruh wilayah NTT, termasuk Pulau Timor, Rote, Sabu, Flores, Adonara, Solor, Lembata, Alor, Pantar, dan Sumba, akan berpotensi cerah berawan - berawan tanpa potensi hujan.
Baca juga: BMKG: Musim Kemarau Meluas, Potensi Hujan Semakin Berkurang Periode 7-13 Juli 2026
Sementara kondisi cuaca 11 - 13 Juli masih cerah berawan - berawan, namun ada potensi hujan ringan terjadi di sebagian Pulau Flores dan Pulau Sumba.
Prospek cuaca Indonesia menunjukkan kecenderungan curah hujan yang relatif berkurang di sebagian besar wilayah. Pada Dasarian I Juli 2026, sekitar 72,19 % wilayah Indonesia diprediksi berada pada kategori curah hujan rendah, sementara 27,80 % lainnya berada pada kategori menengah, tanpa wilayah yang diperkirakan mengalami curah hujan tinggi maupun sangat tinggi.
Kondisi ini mengindikasikan bahwa suasana kering mulai lebih dominan, terutama di sebagian besar Sumatra bagian selatan, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, hingga Papua.
Baca juga: BMKG Peringatkan Dampak El Nino 2026, Nusa Tenggara dan 6 Wilayah Ini Potensi Paling Terdampak
Potensi hujan kategori menengah masih perlu diwaspadai di beberapa wilayah, seperti sebagian Sumatra bagian utara dan tengah, Kalimantan bagian utara, sebagian Maluku, serta wilayah pegunungan Papua.
Potensi hujan yang masih ada tersebut turut dipengaruhi oleh aktivitas gelombang atmosfer di Indonesia. Meskipun aktif di fase 7, secara spasial MJO berpotensi berpengaruh terhadap wilayah pesisir utara Aceh.
Sementara itu, Gelombang Kelvin juga diprakirakan aktif di Kep. Riau, Pesisir utara Riau, Kalimantan, Pesisir selatan Jawa, Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat, Bali, NTB, NTT, Maluku Utara, hingga Papua Barat Daya.