Penjelasan BMKG soal Penyebab Perubahan Suhu Udara Ekstrem di Yogyakarta saat Siang dan Malam Hari 
Muhammad Fatoni July 09, 2026 04:14 PM

 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Sebagian besar masyarakat di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) merasakan perubahan suhu udara yang tidak biasa ketika pagi, siang, hingga malam hari.

Suhu udara ketika malam hingga dini hari pada beberapa waktu terakhir terasa dingin.

Sementara saat siang hari cuaca terasa sangat terik.

“Kalau orang dulu bilang waktunya pohon mangga berkembang. Itu makanya rasanya dingin kalau sore sampai dini hari, tapi pas siangnya panas. Kayak bediding gitu,” kata Ahmad Rowi, seorang warga Bangunjiwo, Kamis (9/7/2026).

Dia pun mengantisipasi perubahan suhu udara tersebut dengan menjaga pola hidup sehat seperti perbanyak minum air, berolahraga, serta mengatur pola makan.

“Ya, antisipasi biar gak tumbang (sakit) paling ya lari-lari, badan gerak lah biar gak lemes, sama makan yang penting, sih,” ungkapnya.

Baca juga: Kasus Dugaan Perundungan Alumni SMAN 2 Bantul, LSM Sarang Lidi Kini Lapor BPMP

Penjelasan BMKG

Kepala Stasiun Klimatologi BMKG Yogyakarta, Reni Kraningtyas, menjelaskan bahwa fenomena tersebut merupakan kondisi yang umum terjadi pada musim kemarau.

Menurutnya, perbedaan suhu yang cukup mencolok antara siang dan malam dipengaruhi oleh langit yang cenderung cerah dengan sedikit awan, kelembapan udara yang rendah, serta pengaruh angin timuran atau muson timur.

"Saat ini kelembaban terendah berkisar 50 hingga 55 persen," katanya.

Reni menjuturkan, pada musim kemarau sinar Matahari dapat langsung mencapai permukaan bumi karena kondisi langit yang umumnya cerah. 


Akibatnya, suhu udara pada siang hari meningkat dengan cepat sehingga cuaca terasa sangat panas.

Sebaliknya, pada malam hari panas yang tersimpan di permukaan bumi lebih mudah dilepaskan ke atmosfer dan angkasa karena minimnya tutupan awan. 

Kondisi tersebut membuat suhu udara turun cukup drastis sehingga udara terasa lebih dingin.

Selain itu, angin yang bertiup dari arah Australia pada musim kemarau juga membawa massa udara yang lebih kering dan relatif sejuk. 

Dampaknya, meski siang hari tetap terasa terik akibat tingginya radiasi Matahari, suhu udara pada malam hingga dini hari menjadi lebih rendah.

"Terutama terjadi di wilayah yang agak jauh dari pantai atau berada di dataran lebih tinggi seperti Sleman bagian utara, memang cenderung memiliki selisih suhu siang dan malam yang cukup besar," pungkasnya. (*)
 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.