TRIBUNNEWSMAKER.COM - Kabupaten Klaten dikenal memiliki banyak mata air alami atau sendang yang hingga kini masih terjaga kelestariannya.
Salah satu yang menarik perhatian adalah Sendang Tirto Sinongko yang berada di Desa Pokak, Kecamatan Ceper, Kabupaten Klaten.
Berbeda dengan kolam renang buatan, Sendang Tirto Sinongko menawarkan pengalaman berenang atau ciblon di kolam yang dialiri mata air alami.
Airnya jernih dan sejuk, sementara suasana di sekeliling sendang terasa teduh berkat rindangnya pepohonan besar yang tumbuh di kawasan tersebut.
Keunikan inilah yang membuat Sendang Tirto Sinongko menjadi salah satu destinasi favorit warga sekitar maupun wisatawan yang ingin menikmati suasana alam tanpa harus mengeluarkan biaya mahal.
Tak hanya menawarkan kesegaran air alami, Sendang Tirto Sinongko juga menyimpan cerita sejarah yang diwariskan secara turun-temurun oleh masyarakat setempat.
Baca juga: Pernyataan Mengejutkan Sarwendah soal Isu Pesugihan Gunung Kawi: Gue yang ke Dukun? Kebalik Kali
Konon, pada masa lampau Raja Solo, Pakubuwono IV, pernah singgah di kawasan tersebut ketika melakukan perjalanan menuju Yogyakarta bersama rombongan kereta kerajaan.
Saat beristirahat, sang raja disebut menikmati buah nangka. Setelah selesai makan, sisa isi buah nangka dibuang di sekitar sendang.
Sebelum melanjutkan perjalanan, Pakubuwono IV kemudian berpesan agar mata air tersebut diberi nama Sinongko.
Sejak saat itulah, masyarakat meyakini asal-usul nama Sendang Tirto Sinongko berasal dari peristiwa tersebut.
Selain memiliki nilai sejarah dan legenda yang masih dipercaya warga, sendang ini juga memiliki peran penting dalam kehidupan masyarakat sejak dahulu.
Sebelum berkembang menjadi tempat wisata, air Sendang Tirto Sinongko dimanfaatkan secara turun-temurun sebagai sumber pengairan sawah di Desa Pokak dan sekitarnya.
Keberadaan mata air ini menjadi penopang aktivitas pertanian warga karena debit airnya relatif stabil sepanjang tahun.
Hingga kini, tradisi masyarakat yang berkaitan dengan sendang tersebut masih terus dijaga.
Baca juga: Puteri Indonesia Pariwisata 2022 Jadi Korban Pelemparan Batu di Jaksel, Kaca Mobil Pecah Parah
Setiap hari Jumat Wage setelah panen ketiga, yang biasanya berlangsung pada Agustus atau September, warga menggelar tasyakuran atau bersih sendang sebagai bentuk rasa syukur atas hasil panen dan melimpahnya sumber mata air.
Dalam tradisi tersebut, masyarakat menyembelih kambing dan ayam sebagai bagian dari ritual syukuran yang telah diwariskan dari generasi ke generasi.
Kegiatan ini juga menjadi momen mempererat kebersamaan warga sekaligus menjaga kelestarian Sendang Tirto Sinongko sebagai sumber kehidupan.
Saat ini, Sendang Tirto Sinongko tak hanya menjadi lokasi yang memiliki nilai budaya dan sejarah, tetapi juga berkembang menjadi tempat wisata keluarga.
Pengunjung dapat menikmati kesegaran air alami untuk berenang tanpa dipungut biaya tiket masuk.
Wisatawan umumnya hanya diminta memberikan uang parkir atau donasi seikhlasnya untuk membantu perawatan kawasan wisata.
Sendang Tirto Sinongko dibuka setiap hari mulai pukul 09.00 hingga 17.30 WIB.
Selain berenang, kawasan wisata ini juga menyediakan fasilitas pemancingan bagi pengunjung yang hobi memancing.
Tarif pemancingan harian dipatok sebesar Rp50.000, sedangkan untuk event memancing khusus dikenakan biaya Rp250.000.
Sendang Tirto Sinongko menjadi salah satu destinasi wisata unik di Klaten yang menawarkan pengalaman berbeda.
Tak sekadar menjadi tempat ciblon, sendang ini juga menjadi saksi sejarah sekaligus bagian dari kehidupan masyarakat yang terus dijaga hingga sekarang.
(Tribunnewsmaker.com/Candra)