Kebutuhan Babi Potong di Sulut 5 Ribu Ekor per Bulan, Produksi Lokal Bisa Penuhi Hanya 50 Persen
Frandi Piring July 09, 2026 06:22 PM

 

TRIBUNMANADO.CO.ID - Kebutuhan babi potong di Sulawesi Utara (Sulut) berada di angka 5 ribuan ekor per bulan. 

Angka ini, mengalami penurunan jika dibanding dengan kebutuhan sebelum wabah African Swine Flu (ASF) yang melanda daerah ini pada tahun 2023 lalu. 

Ketua Asosiasi Peternak Babi Sulut, Gilbert Wantalangi mengungkapkan, pasar babi dan pasokan saat ini belum normal. 

"Jika dibanding sebelum ASF memang belum pulih. Permintaan juga berkurang," katanya kepada Tribunmanado.co.id, Kamis, 9 Juli 2026. 

Pada saat itu, kebutuhan rata-rata babi potong di Sulut mencapai 10 ribu ekor per bulan. 

Dalam komunikasi via WhatsApp bersama tim Tribun Manado, Wantalangi mengatakan, kebutuhan babi meningkat di momen hari besar keagamaan seperti Natal dan Paskah. 

"Seperti musim Pengucapan Syukur Minahasa Raya ini, permintaan meningkat hampir dua kali lipat. Dengan konsumsi terbesar di Manado dan Minahasa," ujarnya. 

Terkait itu, ia bilang, separuh dari kebutuhan  babi di Sulawesi Utara dipenuhi dari luar seperti dari Bali dan Sumatera Utara. Sebagian lagi diimpor. 

"Karena memang produksi belum normal. Masih banyak peternak kecil yg belum kembali memelihara. Faktor trauma akibah wabah ASF masih tinggi," ujarnya lagi. 

Sulut Impor Perdana 546 Ekor Bibit Babi Asal Denmark

Badan Karantina Indonesia (Barantin) melalui Balai Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan Sulawesi Utara (Karantina Sulut) menerapkan biosekuriti super ketat saat mengawal pendaratan 546 ekor bibit babi asal Denmark di Bandara Sam Ratulangi, Manado Selasa 7 Juli 2026 malam. 

Pemasukan ini merupakan impor bibit babi perdana di Indonesia dengan metode kandang tertutup yang dilakukan sebagai langkah pemulihan pasca-wabah African Swine Fever (ASF) atau demam babi yang sempat menyebabkan kematian massal ternak babi di wilayah Sulut.

Kepala Karantina Sulawesi Utara Agus Mugiyanto menjelaskan sebelum diterbangkan ke Indonesia, bibit babi ini sudah menjalani masa karantina selama 20 hari di Denmark. 

"Secara administrasi semua persyaratan impornya sudah lengkap. Hasil uji laboratorium dari Denmark menyatakan ternak sehat,” katanya. 

Agus bilang, rangkaian tindakan karantina ini dirancang secara berlapis demi memastikan keamanan hayati di Sulut tetap terjaga dari risiko masuknya kembali penyakit ke wilayah Sulut.

Prosedur pengawasan di bandara dimulai dengan disinfeksi truk-truk pengangkut menggunakan cairan disinfektan untuk mencegah kontaminasi dari lingkungan sekitar. 

Sebelumnya, truk juga telah mendapat disinfektan di Instalasi Karantina Hewan (IKH) yang telah mengantongi izin resmi dari Barantin. 

Saat pesawat mendarat, petugas karantina langsung naik ke atas pesawat untuk melakukan pemeriksaan dokumen serta pemeriksaan fisik babi sebelum hewan tersebut dipindahkan ke dalam truk.

“Setelah pemeriksaan di bandara selesai, babi kita pindahkan ke IKH. Selama perjalanan ke instalasi, petugas karantina juga ikut mengawal,” ujarnya lagi. 

Paska masuk ke IKH, petugas karantina akan mengamati kondisi klinis dan perkembangan kesehatan seluruh babi di dalam instalasi tersebut secara intensif. 

Pemantauan ini dilakukan untuk memastikan tidak ada gejala penyakit yang muncul setelah perjalanan. 

Selanjutnya petugas karantina mengambil sampel untuk dilakukan uji laboratorium di Balai Besar Uji Standar Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan (BBUSKHIT) sebagai laboratorium terakreditasi. 

Jika hasil uji laboratorium dinyatakan negatif, Karantina Sulawesi Utara baru akan menyatakan ratusan bibit babi tersebut aman, sehat, dan siap dilakukan pembebasan.

“Impor ini diharapkan bisa memenuhi kebutuhan masyarakat Sulawesi Utara dalam membangun kembali peternakan babi lokal pascawabah,” jelasnya. (Ndo) 

Baca juga: Harga Daging Babi di Pasar Bersehati Manado Turun, Pasokan dari Peternak Lokal Kembali Stabil

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.