TRIBUNNEWS.COM – FIFA akhirnya angkat bicara terkait kontroversi yang mewarnai kemenangan dramatis Argentina atas Mesir pada babak 16 besar Piala Dunia 2026.
Melalui Kepala Perwasitan FIFA, Pierluigi Collina, badan sepak bola dunia itu membantah keras tudingan adanya konspirasi yang menguntungkan sang juara bertahan.
Argentina memastikan tiket ke perempat final usai bangkit dari ketertinggalan dua gol untuk menang 3-2 atas Mesir di Stadion Mercedes-Benz, Atlanta.
Lionel Messi kembali menjadi sosok penting di balik kelolosan Argentina. Kapten La Albiceleste itu terlibat langsung maupun tidak langsung dalam seluruh gol yang dicetak timnya.
Selain menyumbang satu gol dan satu assist, Messi juga berperan besar dalam proses terciptanya gol ketiga yang memastikan kemenangan Argentina.
Performa impresif tersebut semakin menguatkan status Argentina sebagai salah satu kandidat juara Piala Dunia 2026 dengan persentase sebesar 17,38 persen, menurut superkomputer Opta.
"Argentina juga menjadi salah satu favorit juara karena proses transisi skuad yang berjalan mulus serta adanya faktor X dari Lionel Messi," kata Gigih, seorang football enthusiast, dalam podcast Super Taktik di Kantor Tribunnews Solo, Karanganyar, Jawa Tengah.
Namun, kemenangan tersebut memicu protes keras dari kubu Mesir karena sejumlah keputusan wasit yang dianggap merugikan mereka.
Federasi Sepak Bola Mesir bahkan mengeluarkan pernyataan resmi yang meminta FIFA mencopot seluruh perangkat pertandingan yang memimpin laga tersebut.
Mereka menilai wasit melakukan sejumlah kesalahan fatal dan disebut mengabaikan beberapa tayangan VAR yang dinilai penting.
Salah satu insiden yang dipermasalahkan adalah dianulirnya gol Mostafa Ziko setelah VAR menemukan pelanggaran Marwan Attia terhadap Lisandro Martinez dalam proses terciptanya gol.
Selain itu, Mesir juga menilai Mohamed Salah dilanggar oleh Julian Alvarez di kotak penalti sebelum Enzo Fernandez mencetak gol kemenangan Argentina.
Kontroversi tersebut memunculkan berbagai spekulasi di media sosial, termasuk tudingan bahwa FIFA sengaja membantu Argentina melaju demi membuka jalan menuju gelar Piala Dunia keempat.
Baca juga: Timnas Argentina Diselidiki FBI di Tengah Piala Dunia 2026, AFA Diduga Terlibat Pencucian Uang
Menanggapi berbagai spekulasi tersebut, Pierluigi Collina menegaskan bahwa tuduhan mengenai keberpihakan wasit sama sekali tidak berdasar.
"Tentu saja diskusi konstruktif mengenai keputusan wasit akan selalu menjadi bagian dari sepak bola. Namun, tuduhan yang tidak berdasar tidak memiliki tempat dalam olahraga ini," ujar Collina melalui laman resmi FIFA.
Ia menegaskan tidak seorang pun boleh mempertanyakan integritas wasit Piala Dunia FIFA.
Menurutnya, tuduhan semacam itu justru dapat memicu ancaman terhadap para wasit maupun keluarga mereka.
Collina juga membantah anggapan bahwa wasit FIFA dapat dipengaruhi oleh pihak mana pun, termasuk Presiden FIFA, Gianni Infantino.
"Wasit membuat keputusan secara jujur dan, seperti pemain maupun pelatih, mereka selalu berusaha memberikan yang terbaik," tambahnya.
Collina turut menjelaskan alasan di balik dua keputusan yang paling diperdebatkan dalam laga Argentina kontra Mesir.
Menurutnya, sesuai protokol VAR, setiap gol selalu diawali dengan pemeriksaan terhadap Attacking Possession Phase (APP) atau fase penguasaan bola sebelum gol tercipta.
Jika ditemukan pelanggaran yang berdampak terhadap proses gol, VAR berhak merekomendasikan peninjauan ulang kepada wasit.
"Tidak ada batasan mengenai seberapa jauh lokasi pelanggaran dari gawang ataupun berapa lama waktu yang telah berlalu sebelum gol tercipta," jelas Collina.
Ia mencontohkan insiden ketika Marwan Attia menginjak kaki Lisandro Martinez.
"Bagi kami, pelanggaran tetaplah pelanggaran. Jika wasit tidak melihatnya di lapangan, VAR dapat melakukan intervensi," tegasnya.
Sementara mengenai klaim penalti Mohamed Salah, Collina mengatakan perangkat pertandingan menilai Julian Alvarez terlebih dahulu menyentuh bola sebelum terjadi kontak yang dianggap sebagai benturan normal dalam permainan.
"Seorang bek yang menyentuh bola lebih dulu lalu terjadi kontak normal setelahnya tidak dianggap melakukan pelanggaran," ujarnya.
Collina mengakui bahwa beberapa keputusan dalam sepak bola memang masih memiliki unsur subjektivitas.
Meski demikian, ia menilai penerapan protokol VAR sepanjang Piala Dunia 2026 telah berjalan dengan baik dan konsisten.
(Tribunnews.com/Ali)