Tekan Inflasi Daerah, DPPP Tana Tidung Gencarkan Gerakan Menanam Cabai di Rumah ke ASN
Junisah July 09, 2026 06:33 PM

TRIBUNKALTARA.COM, TANA TIDUNG - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Tana Tidung Kalimantan Utara terus menggencarkan Gerakan Menanam Cabai sebagai salah satu strategi pengendalian inflasi daerah.

Program Gerakan Menanam Caba tersebut tidak hanya menyasar aparatur sipil negara (ASN), tetapi juga akan diperluas kepada masyarakat.

Kepala Dinas Pertanian, Pangan dan Perikanan (DPPP) Tana Tidung Idris Hendro Wibowo, mengatakan gerakan tersebut merupakan bagian dari langkah Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Kabupaten Tana Tidung dalam menjaga stabilitas harga, khususnya komoditas cabai yang kerap memicu inflasi.

"Kita dari Dinas Pertanian bersama tim TPID Kabupaten melakukan langkah-langkah untuk penurunan inflasi. Salah satu yang bisa kita lakukan adalah gerakan menanam cabai," ujar Idris Hendro Wibowo kepada TribunKaltara.com, Kamis (9/7/2026).

Baca juga: Inflasi Kaltara Juni 2026 Capai 3,30 Persen, Cabai Rawit Jadi Penyumbang Terbesar

Idris Hendro Wibowo menjelaskan, pada tahap awal pihaknya telah membagikan bibit cabai kepada ASN sebagai bentuk kick off program. 

Selanjutnya, ribuan bibit cabai akan disiapkan untuk dibagikan kepada masyarakat.

Menurut  IndrisHendro Wibowo, masyarakat tidak harus memiliki lahan luas untuk ikut berpartisipasi. 

Cukup dengan menanam beberapa polybag di pekarangan rumah sudah dapat membantu memenuhi kebutuhan cabai sehari-hari.

"Minimal satu rumah punya lima polybag untuk kebutuhan sehari-hari. Jadi kalau pun membeli cabai, jumlahnya tidak terlalu banyak," katanya.

Ia menuturkan, harga cabai yang tinggi tidak hanya berdampak pada rumah tangga, tetapi juga pelaku usaha kecil seperti warung makan yang biaya operasionalnya ikut meningkat.

Baca juga: Jaga Stabilitas Harga Pangan, Sektor Pertanian Lokal Jadi Tumpuan Kendalikan Inflasi di Malinau

Di sisi lain, Idris menilai tingginya harga cabai tidak sepenuhnya berasal dari petani, melainkan dipengaruhi rantai distribusi hingga tingkat pengepul.

"Kadang yang mahal itu bukan dari petaninya, tetapi dari pengepul atau penjual. Makanya dengan gerakan menanam cabai ini kita harapkan ada keseimbangan. Petani tetap untung, pedagang juga masih mendapat keuntungan, tetapi harga tidak dimainkan oleh tengkulak," jelasnya.

Ia menambahkan, gerakan tersebut juga bertujuan mendorong kemandirian masyarakat dalam memenuhi kebutuhan pangan rumah tangga sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap pasokan dari luar daerah.

Untuk tahap pertama, DPPP menyiapkan sekitar 500 bibit cabai. Sebanyak 300 bibit telah dibagikan kepada ASN, sementara sisanya ditanam saat pelaksanaan kick off di Tideng Pale Seberang dan masih dalam proses penyemaian.

Idris menjelaskan, penanaman yang dilakukan saat kick off hanya bersifat simbolis. Bibit yang dibagikan selanjutnya dibawa pulang peserta untuk ditanam di pekarangan rumah masing-masing.

"Yang kita tanam di sana hanya sekitar 50 bibit sebagai simbolis. Selebihnya dibawa pulang dan ditanam di rumah masing-masing," ujarnya.

Menurutnya, program tersebut akan terus berlanjut seiring proses penyemaian bibit baru yang nantinya dibagikan kepada masyarakat secara bertahap.

Ia mengatakan, komoditas cabai dipilih karena selama ini menjadi salah satu penyumbang inflasi yang paling sering dikeluhkan masyarakat.

Selain membagikan bibit, DPPP juga terus mengedukasi masyarakat agar memanfaatkan lahan kosong untuk kegiatan pertanian produktif.

"Kita selalu memberikan pemahaman bahwa bertani tidak harus memiliki lahan yang luas. Banyak lahan di sepanjang jalan dari Tideng Pale sampai Sesayap yang sebenarnya bisa dimanfaatkan," katanya.

Hendro optimistis sektor pertanian di Kabupaten Tana Tidung memiliki peluang besar untuk terus berkembang. 

Selain mampu memenuhi kebutuhan daerah sendiri, hasil pertanian juga berpotensi dipasarkan ke wilayah lain, termasuk perusahaan-perusahaan besar yang beroperasi di Kabupaten Tana Tidung maupun ke Kota Tarakan.

"Pasarnya sebenarnya terbuka lebar. Tinggal bagaimana masyarakat mau melihat peluang itu dan mulai mandiri tanpa selalu bergantung pada bantuan pemerintah," pungkasnya.

(*)

Penulis : Rismayanti 

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.