PKB Bondowoso Gandeng Keluarga Ponpes Al-Utsmani, Bidik 23 Kursi di Pemilu Mendatang
Haorrahman July 09, 2026 07:55 PM

 

TRIBUNJATIMTIMUR.COM, Bondowoso - Dewan Pengurus Cabang (DPC) Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Bondowoso langsung bergerak melakukan konsolidasi internal melalui kegiatan Kick-Off kepengurusan baru yang digelar di Graha NU, Kelurahan Kotakulon, Kecamatan Bondowoso, Kamis (9/7/2026).

Momentum tersebut menjadi langkah awal bagi kepengurusan baru untuk menyamakan visi sekaligus memperkuat struktur organisasi menjelang agenda politik berikutnya.

Salah satu hal yang menjadi sorotan dalam kegiatan tersebut adalah bergabungnya sejumlah tokoh dari keluarga besar Pondok Pesantren Salafiyah Al-Utsmani (Ponpes Beddien) ke dalam jajaran kepengurusan DPC PKB Bondowoso.

Mereka di antaranya KH Faqih Subhan, S.Pd., putra KH Sofyan sekaligus menantu pimpinan Ponpes Beddien yang dipercaya menjabat Sekretaris Dewan Syuro DPC PKB Bondowoso. Selain itu, turut bergabung Lora Zainal Abidin, Lora Moh. Chalil, serta KH Mahfud Rozi.

Ketua DPC PKB Bondowoso, Ahmad Dhafir, menyambut positif bergabungnya keluarga besar Ponpes Al-Utsmani dalam kepengurusan partai.

Baca juga: Pemkab Bondowoso akan Manfaatkan Bekas Stasiun Relay TVRI untuk Wisata

"Alhamdulillah, keluarga Al-Utsmani bersedia bersama-sama mengurus partai," ujar Ahmad Dhafir.

Menurut Dhafir, bergabungnya keluarga Ponpes Al-Utsmani memiliki makna historis bagi PKB Bondowoso. Ia mengingatkan bahwa pada 1998 silam, deklarasi PKB di Bondowoso pernah dilaksanakan di lingkungan Ponpes Al-Utsmani.

Ia juga menilai komposisi kepengurusan saat ini telah merepresentasikan berbagai basis pesantren di Bondowoso. Kondisi tersebut menjadi modal penting bagi partai untuk meningkatkan perolehan kursi legislatif pada pemilu mendatang.

"Target minimum 23 kursi," tegasnya.

Baca juga: KSB PKB Pasuruan Resmi Ditetapkan, Konsolidasi Partai Diperkuat Menuju Kemenangan

Dalam arahannya, Ahmad Dhafir menegaskan bahwa kegiatan Kick-Off merupakan titik awal bagi seluruh pengurus untuk membangun semangat bersama dari awal.

Ia mengingatkan seluruh kader agar memahami amanah sebagai pengurus partai, bukan sebagai pemilik partai. Menurutnya, PKB merupakan partai yang lahir dari rahim Nahdlatul Ulama (NU), sehingga nilai-nilai perjuangan tersebut harus terus dijaga.

Dhafir juga menepis anggapan bahwa PKB ingin memanfaatkan NU untuk kepentingan politik.

"Makanya kegiatannya dilaksanakan di Graha NU," jelas pria yang juga menjabat sebagai Ketua DPRD Bondowoso itu.

Baca juga: Bondowoso Republik Kopi Reborn, Siapkan Strategi Bangkitkan Industri Kopi dari Hulu ke Hilir

Pengurus PCNU Bondowoso, KH Mas'ud Ali, menegaskan bahwa secara kelembagaan NU tetap berada di posisi netral dan tidak berpihak kepada partai politik tertentu.

Namun demikian, ia mengakui bahwa secara faktual mayoritas warga NU di Bondowoso menyalurkan aspirasi politiknya melalui PKB. Karena itu, koordinasi antara pengurus NU dan PKB dinilai sebagai sesuatu yang wajar.

"Sehingga kita tidak salah secara institusi jika pengurus NU berkoordinasi dengan PKB. Karena warganya memang lebih banyak di PKB," pungkasnya.

 

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.