TRIBUNNEWSDEPOK.COM, CIMANGGIS - Puluhan warga menggelar aksi unjuk rasa damai untuk menolak pembangunan proyek sodetan drainase di Jalan Raya Duta Pelni, Kecamatan Cimanggis, Kota Depok, Jawa Barat, pada Kamis (9/7/2026).
Pantauan di lokasi menunjukkan massa mendatangi area proyek dan meminta para pekerja menghentikan aktivitas mereka seketika.
Akibatnya, alat berat excavator yang sedang menggali tanah terpaksa berhenti beroperasi, dan truk-truk pengangkut tanah diminta pergi oleh warga setempat.
Baca juga: Terendam Banjir, Jalan Duta Pelni Berubah Jadi Aliran Sungai Sepanjang 2 KM
Aksi demonstrasi tersebut berjalan kondusif. Perwakilan warga bersama pihak pelaksana proyek akhirnya sepakat untuk duduk bersama melakukan musyawarah.
Warga yang menolak keras pembangunan drainase ini berasal dari Perumahan Bukit Cengkeh 1, khususnya wilayah RW 15 Kelurahan Tugu, Kecamatan Cimanggis.
Penolakan ini dipicu karena saluran air yang sedang dibangun diduga kuat akan bermuara di kawasan Perumahan Bukit Cengkeh 1, sehingga dikhawatirkan dapat memicu banjir bandang di pemukiman mereka.
Usai dilakukan musyawarah darurat di lapangan, warga dan pelaksana proyek akhirnya sepakat untuk menghentikan sementara seluruh aktivitas pembangunan drainase hingga ditemukan solusi teknis yang tepat.
Minim Sosialisasi
Ketua RT 01/RW 15 Kelurahan Tugu, Yanni Surya, yang hadir memimpin rombongan warga menegaskan, pihaknya tidak pernah dilibatkan ataupun mendapatkan sosialisasi resmi sejak awal perencanaan proyek.
Menurutnya, informasi mengenai proyek sodetan atau saluran pembuangan ini hanya diketahui melalui selentingan di akhir tahun lalu tanpa adanya kejelasan mitigasi dampak lingkungan.
"Kami dari Bukit Cengkeh 1 awalnya tidak terkopi (terlibat) untuk proyek ini,” kata Yanni di lokasi, KAmis (9/7/2026).
“Setelah kami kaji di internal pengurus RW, proyek ini jelas akan mengakibatkan peningkatan debit air ke wilayah kami,” sambungnya.
Yanni menjelaskan bahwa pengerjaan fisik proyek yang terus berjalan mengakibatkan lubang galian di jalan utama semakin membesar.
Saluran air baru dengan dimensi sekitar 1x1 meter tersebut diketahui akan diintegrasikan dengan gorong-gorong lama yang muara akhirnya dipastikan mengalir langsung menuju kawasan Bukit Cengkeh 1.
Warga menolak keras skema tersebut karena kontur kali di sisi luar memiliki posisi yang lebih tinggi, sehingga beban limpahan air otomatis akan bertumpu pada perumahan mereka.
Kondisi ini sangat mencemaskan mengingat tanpa adanya proyek sodetan baru tersebut, wilayah Bukit Cengkeh 1, khususnya di area bawah seperti RT 08, RT 09, dan RT 10 sudah menjadi langganan banjir tahunan.
Ketika intensitas hujan tinggi, genangan air di wilayah tersebut bahkan bisa mencapai ketinggian sepinggang orang dewasa hingga merendam rumah-rumah warga.
"Kondisi sekarang saja, kalau hujan deras, wilayah bawah di RT 08, 09, dan 10 itu banjirnya bisa sampai sepinggang dan masuk ke dalam rumah,” jelasnya.
Kontraktor Sepakat Hentikan Proyek Sementara
Menyikapi gelombang protes warga di lokasi, pimpinan proyek dan pihak kontraktor akhirnya sepakat untuk menggelar mediasi darurat di lapangan.
Berdasarkan hasil kesepakatan sementara, seluruh aktivitas pengerjaan fisik proyek drainase di wilayah Kelurahan Tugu tersebut resmi dihentikan sementara waktu.
Pihak kontraktor berkomitmen untuk membawa keluhan dan tuntutan warga ini kembali ke Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kota Depok guna dilakukan pengkajian ulang secara menyeluruh.
Warga menegaskan mereka tidak bermaksud anarkis atau menolak pembangunan infrastruktur kota, melainkan menuntut adanya solusi teknis alternatif agar aliran air tidak langsung dibuang ke perumahan mereka tanpa sistem pengamanan hulu-hilir yang jelas.
Pengurus lingkungan berharap jajaran Pemerintah Kota Depok dan Wali Kota dapat memberikan atensi langsung terhadap persoalan ini demi keselamatan ratusan warga.